Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 64


__ADS_3

Seharian ini Aish habiskan dalam kamar. Setelah membersihkan diri pagi tadi ia kembali rebahan. Hanya bangun saat waktu sholat tiba, suasana hatinya belumlah membaik.


Walau Geo mengatakan berbagai macam kata manis. Namun itu masuk ke hatinya hanya seperti sebuah kepalsuan, bukan ketulusan.


Aish tentu tahu pasti, hati suaminya itu masih dipenuhi wanita lain. Kalau dulu dia bisa berbesar hati menerima semua itu, namun sekarang berbeda. Rasanya sangat menyesakkan dada mengingat ada nama lain yang memenuhi ruang hati suaminya.


"Nyonya, ini ada cemilan yang Tuan kirimkan." Rena mengetuk pintu kamar, namun Aish enggan membukanya.


"Masuklah," sahut Aish tanpa bangkit dari pembaringan.


Rena membuka pintu pelan-pelan, biasanya mereka dilarang masuk sampai ke kamar. "Nyonya sakit?" Paniknya melihat sang majikan masih terbungkus selimut.


Aish menjawab dengan gelengan kepala, "lagi malas bangun."


"Ini coba dulu, tadi Tuan Pandu yang mengantarnya langsung." Beritahu Rena, meletakkan cilok bumbu kacang ke atas nakas.


Melihat makanan itu Aish menghela napas panjang, "itu cilok bukan cemilan." Gumamnya cerewet, entah kenapa suaminya itu mengidam cilok. Dan yang dipaksa makan semua itu dirinya.


"Itu bisa dimakan untuk satu kampung Mbak," komentar Aish pada piring yang berisi penuh dengan cilok.

__ADS_1


"Nanti kalau gak habis kita bagi-bagi, Nyonya mau dibuatkan makanan atau minuman hangat." Tawar Rena pada majikannya yang tidak bersemangat.


"Aku gak nafsu makan, Mbak."


"Gimana kalau kita jalan-jalan ke taman belakang Nyonya, biar gak suntuk. Nanti badannya sakit semua kalau hanya rebahan," ajak Rena.


Aish mengangguk setuju, membawa nampan berisi cilok itu ikut serta. Rena menawarkan diri untuk membawanya, namun wanita hamil itu ingin membawanya sendiri.


Mereka duduk di salah satu gazebo, langit sore masih cerah. Ditemani angin yang menyapanya dengan sejuk, Aish memasukkan satu persatu cilok ke dalam mulutnya. Rena menolak makan makanan bulat itu, jadilah ia memakannya sendirian.


Cukup lama tidak ada pembicaraan diantara mereka. Sampai Aish yang bertanya lebih dulu, "Mbak sudah menikah?"


"Kami menikah karena dijodohkan, tidak saling mencintai. Setelah saya melahirkan, saya dibuang dan anak saya dibawa pergi. Dia kembali pada perempuan yang dicintainya."


Cerita Rena membuat Aish menggenggam gamisnya kuat. Apa Geo nanti juga akan membuangnya seperti itu.


"Tapi itu masa lalu, semua sudah ada yang mengatur kan. Jadi saya tidak bisa melawan kehendak takdir," lanjutnya dengan senyuman getir. Matanya sampai berembun mengingat semua kenangan buruk yang dialaminya.


"Tuan sangat mencintai Nyonya ya, Nyonya adalah perempuan yang sangat beruntung. Cinta, perhatian dan kasih sayang Tuan hanya untuk Nyonya."

__ADS_1


Aish tersenyum miris, tidak tahu saja mereka kalau sang suami tidak pernah mencintainya.


"Apa yang terlihat tidaklah seperti kenyataannya," jawab Aish getir.


"Mungkin," Rena mendongakkan kepalanya menatap langit. "Kadang orang bisa tersenyum untuk menutupi lukanya. Begitu juga dengan perasaan, orang bersikap seolah mencintai tapi nyatanya hanya sebuah kepalsuan. Tapi satu pegangan yang kita punya kan. Allah Maha Baik, atas segala rencananya. Bukankah yang terjadi hari ini tidak luput dari perencanaan Allah."


Ujar Rena yang membuat Aish tersentak. Selama ini dia merasa mengerti agama, namun nyatanya nol besar dalam mengikhlaskan takdir yang Allah pilihkan.


"Walaupun kenyataannya seperti yang Nyonya pikirkan. Tapi percayalah, perlu sebuah usaha yang besar untuk melawan perasaan sendiri. Dan Tuan melakukan itu untuk Nyonya, tetap saja Nyonya menjadi perempuan yang sangat beruntung. Banyak pria yang katanya mencintai tapi tidak bertanggung jawab pada anak dan istrinya, malah menelantarkan keluarga sendiri."


Lagi-lagi Aish tertampar dengan apa yang Rena sampaikan. Ia tidak pernah terpikir sampai kesana, walau tidak mencintainya Geo selalu bertanggung jawab. Memenuhi segala kebutuhan lahir dan batinnya. Selalu mengutamakan kenyamanan dirinya, sampai mengorbankan perasaannya sendiri.


"Saya tidak membenarkan apa yang Tuan lakukan. Tapi setidaknya seperti itulah Tuan memandangnya. Pasti beratkan hidup bersama orang yang tidak mencintai kita." Rena menggenggam tangan Aish untuk menguatkan.


"Perlu hati yang besar untuk menerima semua kenyataan. Kalian hanya perlu saling terbuka untuk mengetahui perasaan masing-masing, agar tidak menggenggam kecewa. Dan bersabar, membuka hati perlu waktu bukan?"


"Mereka perlu ibu yang bahagia dan ayah yang senantiasa berada di sisi ibunya." Rena memberanikan diri mengusap perut Aish dengan tersenyum tulus.


"Mengurung diri, menyakiti diri, tidak menyelesaikan masalah Nyonya. Malah yang ada kepala Nyonya terasa semakin penuh."

__ADS_1


Sore itu Rena banyak bicara dan Aish tak dapat menyangkal setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu.


__ADS_2