
Gemericik suara air hujan menghiasi pelataran TPA tempat Aish mengajar. Ia belum pulang karena menunggu hujan reda, namun hujan malah semakin deras.
Sampai jam setengah enam sore tidak ada tanda-tanda langit akan berhenti menangis. Aish mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi online. Namun sayang, gawainya itu kehabisan daya.
Ia memilih menerobos hujan, menjadikan tas sebagai pelindung kepala. Khawatir kalau Abi mencemaskannya. Jarak dari TPA ke rumah memang tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama dua puluh menit. Tapi tetap saja dia akan basah kuyup kalau nekat.
Tadi ia ditawari tumpangan oleh supir yang menjemput Nasya dan Key. Namun Aish menolak karena masih ada yang dikerjakannya di sekolah.
"Loh Mbak belum pulang, kirain sudah gak ada orang." Ujar satpam yang menjaga di pintu gerbang.
"Belum Pak, nunggu hujan reda tapi kayaknya gak reda-reda." Sahut Aish dengan senyuman khasnya. Berteduh di samping pos satpam sambil menelisik air yang berjatuhan menyirami bumi.
Kemudian ia teringat pesan Abi, berdoalah saat hujan turun. Karena hujan merupakan salah satu waktu mustajabnya doa. Seketika tersemat doa dalam hati Aish, semoga Allah memberikan jodoh terbaik versi DIA untuknya, yang bisa membawa dan membimbingnya menuju surga Allah.
"Gak pesan taksi online saja Mbak, ini hujannya deras. Kalau diterobos sampai rumah bisa basah."
"Hp saya mati Pak," jawab Aish kemudian bersiap menerobos hujan kembali. Tidak ada benda penting yang bisa basah di tasnya kecuali ponsel dan dompet.
"Saya mau bantu pesan tapi gak punya kuota," Pak satpam itu menyengir malu-malu memberikan payung pada Aish. "Pakai payung saya saja biar gak basah sampai rumah, cuma bisa bantu ini."
"Bapak gimana nanti?" Tanya Aish ragu untuk menerima payung itu.
"Saya gampang Mbak," sahut Pak satpam ramah sambil melengkungkan senyuman.
Aish memang tidak mau dipanggil Ustadzah, terlalu berat bebannya menyandang panggilan itu. Ia lebih suka disapa nama saja.
"Makasih banyak ya Pak, ini membantu banget. Semoga Allah mendatangkan banyak kebaikan buat Bapak. Insyaallah besok saya kembalikan payungnya," Aish menyambut payung itu lalu membukanya.
__ADS_1
"Aamiin Ya Allah, hati-hati di jalan Mbak."
Aish mengangguk samar, "saya pulang duluan ya Pak. Assalamualaikum," ucapnya berjalan menerobos hujan di bawah perlindungan payung pinjaman.
Suasana hujan membuat hari cepat gelap, padahal belum jam enam sore. Hembusan angin yang kencang membuat Aish tidak bisa berjalan cepat. Kalau tidak hati-hati payung itu bisa terbalik ke atas. Selain itu jalanan yang basah juga licin.
Sebuah mobil sedan melaju cepat hampir menyerempet Aish, membuat perempuan itu refleks menghindar dengan jantung yang berdebar kencang karena terkejut. Hampir saja dia melawan maut kembali.
Beberapa meter di depannya mobil itu berhenti, ia memperkirakan mungkin si pengemudi ingin meminta maaf karena sudah membuat nyawanya hampir melayang.
"Maaf," ucap pria yang keluar dari mobil menggunakan payung mendekati Aish.
"Tidak apa, alhamdulillah masih selamat." Sahut Aish dengan senyuman kaku, sama seperti pria yang berwajah kaku di depannya ini.
"Mau sekalian saya antar pulang?" Tawar pria yang Aish kenali sebagai Geo. Wajahnya tetap saja datar, tidak ada ramah-ramahnya seperti kemarin.
"Saya tidak menerima penolakan," pria itu membuka pintu mobil depan.
Aish mengerjap lambat mau tidak mau ikut masuk ke mobil. Saat ingin menutup payung pria itu merebutnya lebih dulu lalu menutup dan memasukkan ke mobil belakang.
Sama seperti kemarin saat pria itu mengantarnya pulang ke rumah, tidak ada percakapan. Kali ini hening sama sekali, karena Geo sudah tahu arah jalan ke rumah Aish.
🍃
"Tidak baik berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, nanti jadi fitnah." Abi mengingatkan saat selesai makan malam.
Sampai di rumah tadi Aish langsung mandi. Geo tidak mampir, hanya mengantarnya sampai depan. Dan lagi-lagi Abi melihat itu, mengajak Geo mampir. Tapi pria itu menjawab lain kali akan mampir sebagai basa-basi.
__ADS_1
"Aish gak ada niat berduaan Abi, tadi terpaksa ikut mobilnya karena hujan dan hari sudah gelap. Gak enak juga buat nolak waktu diajak." Jelas Aish jujur, tahu kalau berduaan dengan lawan jenis itu tidak baik. Dan dia tidak pernah bersengaja melakukan itu.
"Nanti kalau ada lelaki yang mampir ke rumah, cukup suguhkan kopi jangan hati," ucap Abi ambigu.
Aish mengernyitkan alis, bukan karena tidak mengerti dengan apa yang Abi katakan. "Kenapa Abi bicara seperti itu?" Tanyanya dengan tawa kecil. Terdengar lucu saat Abi menggunakan bahasa perumpamaan untuk memberitahunya.
"Tiga puluh dua tahun Abi bersama kamu, Abi bisa membaca isi hati yang bahkan belum kamu sadari."
Jawaban Abi membuat Aish semakin tertawa, "Abi terlalu berlebihan. Orang bilang kedalaman laut bisa diukur, tapi kedalaman hati seseorang tidak ada yang tahu."
"Siapa yang kalau tidak mau lebih memilih menghindar, bukan beralasan tidak enak kalau menolak." Abi memainkan alis menggoda.
"Itu pemikiran Abi saja, yang dekat sama Geo itu Nasya bukan Aish Abi." Terang Aish yang salah tingkah, padahal Abi tidak spesifik membahas Geo.
"Kamu serius tidak mau kalau sama mas-mas itu? " Goda Abi Jayid.
"Hm, sejak kapan kriteria menantu idaman Abi berubah?" Aish balas menggoda.
"Kita tidak bisa menilai keimanan seseorang dari penampilannya. Banyak sekarang pemuda-pemuda yang paham agama berpakaian keren seperti anak muda umumnya. Yah walau banyak juga yang sebaliknya," Abi terkekeh kecil.
"Abi beneran ngebet pengen punya mantu nih?" Aish bertanya dengan raut muka serius.
"Kalau kamu tidak keberatan memberikan mantu dan cucu buat Abi."
Aish terdiam mendengar jawaban Abi, kemudian mengangguk kecil. "Abi carikan saja calonnya. Insyaallah Aish tidak akan menolak lagi," ucapnya tersenyum.
Kapan lagi ia bisa membahagiakan Abi. Teman-teman yang seusia Abi sudah menimang cucu. Wajar kalau Abi ingin seperti itu juga. Kalau hanya itu permintaan Abi, ia akan berusaha memenuhinya.
__ADS_1