
"Saya sudah bilang tidak akan setuju kalau kamu menikahi Aish hanya karena rasa bersalahmu!" Sentak Abi Zayid dengan suara meninggi saat Geo menyampaikan keinginannya untuk menikahi Aish dan perempuan itu sudah setuju.
Dua orang itu sudah sepakat untuk menikah. Mereka melangsungkan akad saja, tanpa resepsi mewah karena Aish tidak mau. Padahal Geo mampu memberikannya jika wanita itu mau.
"Saya akan belajar mencintainya Abi, bukankah seiring berjalannya waktu cinta akan hadir karena terbiasa." Jawab Geo tetap tenang meyakinkan Abi Zayid.
Sementara Aish hanya menunduk sambil meremat-remat jemarinya. Entah kenapa jantungnya berisik sekali tidak bisa diam.
"Kamu yakin mau menikah dengan Nak?" Abi Zayid menatap Aish dengan suara lembut.
"Aish sudah istikharah selama satu minggu ini Abi," jawabnya pelan. Khawatir Abi mencium rencana mereka yang melakukan semua ini untuk menyenangkan hati Abi.
"Abi gak maksa kamu nikah lagi, kamu jangan terbebani karena Abi Nak. Abi gak mau kamu terpaksa melakukan semua ini," pria berumur itu mendekat dan memeluk Aish dengan perasaan bersalahnya.
"Aish gak terpaksa karena Abi, Mas Geo memang pilihan Aish." Aish mengucapkan dengan mata terpejam. Entah dapat keberanian darimana ia mengutarakan kalimat seperti itu.
Saat membuka mata, Aish melihat Geo sedang menatap ke arahnya. Jantungnya dibuat semakin berisik dan berdebar kencang. Pria itu mengangguk kecil dengan senyuman tipis, seolah mengatakan keputusannya tidak salah.
"Abi tidak akan menentang kalau kalian akan menikah. Tapi Abi ingatkan kembali, luruskan niat kalian agar mendapat ridho Allah." Abi Zayid berucap seolah tahu apa yang melandasi keinginan Aish dan Geo menikah secara dadakan.
"Iya Abi," sahut Aish dan Geo bersamaan.
🍃
__ADS_1
Setelah menunggu selama sepuluh hari sejak berkas-berkas didaftarkan ke Kantor Urusan Agama, pernikahan dua orang itu diadakan di kediaman Abi Zayid.
Geo sudah menawarkan diri untuk mengurus semuanya. Ia bisa menyelesaikan hanya dalam satu hari, tapi Aish menolak. Wanita itu tetap ingin seperti orang-orang normal kebanyakan, tidak mengandalkan kekuatan uang. Dilihat dari segi finansial Abi Zayid tidaklah kekurangan uang, namun Aish tetap bersikap sederhana. Kalau sudah begitu maunya, Geo hanya bisa menurut.
"Mau kemana?" Tegur Ferdinand ketika Geo berjalan terburu-buru mendatangi kamar mempelai wanita.
Mereka baru saja tiba, istrinya ikut serta. Awalnya terkejut saat mengetahui Geo masih hidup, makin terkejut lagi ketika putranya itu tiba-tiba datang untuk meminta restu ingin menikahi korban pelecehan saudara kembarnya.
"Bertemu Aish Pah," jawab Geo acuh.
"Sabar sebentar, MUA pasti sedang sibuk merias di dalam."
"Ada yang mau aku bicarakan dengannya," Geo melanjutkan langkahnya mengetuk pintu kamar Aish. Setelah mendapatkan jawaban baru dia masuk.
"Yakin siap?" Tanya Geo setelah hanya ada mereka berdua di kamar.
Sejenak ia dibuat terpesona oleh kecantikan wanita dalam balutan hijab putih yang ada dihadapannya. Melupakan niatnya menemui Aish untuk bertanya apa wanita itu benar-benar siap menjalankan pernikahan ini. Masih ada waktu kalau berubah pikiran dan mau membatalkannya.
"Mas, ganggu orang kerjakan jadinya. Ini masih belum selesai," Aish tersenyum kecil. Perhatian seperti itu saja bisa membuat hatinya menghangat. Bagaimana kalau mereka setiap hari bersama. Bisa-bisa dia yang jatuh cinta duluan.
Geo menarik kursi di hadapan Aish lalu duduk di sana. "Masih ada waktu untuk membatalkannya, kalau kamu ragu dengan pernikahan ini."
Aish menggeleng pelan lalu berkata, "aku gak mau bikin Abi tambah sakit Mas kalau pernikahanku kali ini batal lagi."
__ADS_1
"Kamu yakin menikah denganku?" Geo meyakinkan lagi, sadar kalau dengannya Aish bisa terpenjara oleh perasaannya sendiri. Sedang dia tidak bisa berjanji untuk memberikan cinta.
Aish mengangguk tanpa ragu, sangat yakin dengan jalan yang dipilihnya kali ini. Walau niat lain dari pernikahan ini untuk membahagiakan Abi, tapi ia akan menjalaninya dengan sepenuh hati.
"Setelah akad ini terucap kamu tidak bisa mundur lagi Aish," Geo menegaskan.
"Aku tahu Mas."
Geo mengangguk dan beranjak dari kursi saat dirasa sudah cukup berbicara dengan Aish. "Jangan cantik-cantik," pesannya sebelum keluar kamar.
Aish mengerjap lamban mengartikan ucapan pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu. Dalam hatinya terasa berbunga-bunga.
Setelah Geo keluar dua orang MUA langsung masuk melanjutkan pekerjaannya. Tinggal melakukan polesan terakhir.
"Oh ya Mbak tadi ada yang nitip ini," ujar salah satu MUA setelah selesai membuat penampilan Aish jadi semakin cantik. Merogoh saku, memberikan amplop putih kecil pada Aish.
"Dari siapa?"
"Gak tau, nitip gitu aja buat pengantin wanita katanya."
Aish mengangguk kecil membuka isi amplop putih itu dan membaca setiap kata yang tertulis di kertas. Seketika tubuhnya bergetar dengan wajah memerah padam.
"Mbak ada apa?" Tanya keduanya bersamaan saat melihat raut wajah Aish yang tadinya ceria jadi berubah.
__ADS_1
Aish menggelengkan kepala setelahnya berteriak meraung-raung. Membuat dua orang MUA itu panik, mengira Aish sedang kesurupan.