Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 48


__ADS_3

Sejak malam mereka menginap di apartemen itu Geo membawa Aish pindah rumah. Dan di rumah yang baru mereka tidur terpisah.


Hal itu mereka lakukan agar Abi tidak mengetahui semuanya. Tapi selama satu bulan ini hubungan mereka tetap berjalan dengan baik.


"Aish," panggil Geo di kamar istrinya. Orang yang dicari sedang berada di kamar mandi.


Sebenarnya ia tidak ingin sampai tidur terpisah seperti ini. Hanya saja Aish tidak nyaman ketika tidur bersamanya. Setelah mereka melakukan penyatuan malam itu, entah kenapa Geo jadi lebih sering bermimpi tentang Ara.


Cukup lama Geo menunggu sampai pintu kamar mandi terbuka.


"Mas," Aish yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat Geo ada di kamarnya.


"Kok kaget gitu kayak lihat hantu," Geo tersenyum mengulurkan tangan pada sang istri.


"Mas gak izin dulu masuk ke kamarku," sebut Aish dengan pipi yang digembungkan.


Kehadiran sang suami membuat jantung Aish berdetak kencang. Selalu saja Geo membuat jantungnya ketar-ketir seperti ini. Saat ingin duduk, Geo malah menariknya untuk duduk di pangkuan.


"Hm, harus izin dulu nih sekarang. Maaf ya, nanti lain kali aku izin dulu sama kamu." Geo menjatuhkan kepalanya di bahu Aish.


Nyaman. Itulah yang Geo rasakan setiap kali berada di sisi Aish.


"Bukan gitu, maksudnya jangan ngagetin Mas. Mana pake baju hitam lagi, kalau aku jantungan gimana. Jantungku cuma satu, ini juga sudah bermasalah sejak ada kamu."

__ADS_1


"Masa jantungnya bermasalah sejak ada aku," Geo mengerling genit.


"Aku gak pake baju hitam, ini navy Aish bukan hitam." Jelasnya setelah memastikan kaos yang dikenakannya. Memang sih warnanya gelap menyerupai hitam. Tentu saja Geo sudah merelakan baju-baju warna favoritnya itu demi menjaga kewarasan sang istri.


"Ya tetap aja aku kayak lihat warna hitam," kukuh Aish. Bukannya apa, ia merasa cemas kalau melihat warna itu.


"Iya deh, aku lepas bajunya kamu turun dulu gih."


"Jangan dilepas," tahan Aish sambil menyengir.


"Kenapa lagi sih Aish, dilepas juga gak boleh." Gemas, Geo menggigit pelan bahu istrinya itu.


"Mass!" Aish terpekik kala bahunya digigit Geo.


Aish menggelengkan kepala melihat wajah berbinar Geo yang mengelus pipinya. Boleh tidak kalau ia berharap sang suami mencintainya. Ah tapi rasanya Aish sangat takut untuk memiliki harapan itu.


"Maaf ya kita tidurnya pisah, gak papa kalau Mas mau tidur disini."


"Nanti kamu gak bisa tidur lagi, hm."


"Aku tutup telinganya nanti," Aish tetap tersenyum menepuk pipi Geo.


"Aku tidur di kamar sebelah aja, biar kamu gak keganggu tidurnya." Geo selalu mengutamakan kenyaman Aish, tidak mau istrinya ini terbawa pikiran lagi kalau mendengar dirinya menyebutkan nama Ara secara tidak sadar. Karena tidak bisa mengendalikan hal itu, padahal Geo sudah mengalihkan pikirannya dari Ara.

__ADS_1


"Habis ngapain lama banget ditungguin di kamar mandi?"


"Sakit perut kayak mau haid tapi gak haid-haid dari seminggu yang lalu," adu Aish melabuhkan kepala ke pelukan Geo.


"Besok mau periksa ke dokter?"


"Gak usah Mas."


Geo mengangguk saja, perhatiannya tidak pernah berkurang untuk Aish walau perasaannya belumlah milik istrinya ini.


"Belum ada cucu Abi ya disini?" Tanyanya menyingkap piyama Aish lalu mengusap di perut datar itu tanpa penghalang apapun.


"Mass geli," Aish menahan tangan Geo agar tidak bergerak. Ia merasa seperti digelitiki.


"Geli, hm." Geo malah menciuminya sampai menimbulkan bunyi lalu tertawa saat Aish kewalahan untuk menghentikannya.


"Ampun Maass, berhenti!!" Teriak Aish dengan napas ngos-ngosan menahan geli di perutnya. Pelakunya malah tertawa puas, Geo selalu saja memperlakukan seolah sangat mencintainya. Namun kenyataannya cinta itu masih milik orang lain.


"Capek?" Tanyanya memeluk Aish kembali setelah menghentikan keusilannya. Mereka sudah berbaring sambil berpelukan.


"Mas, kalau kamu sudah ngasih aku anak apa kamu bakal ninggalin aku?"


"Kenapa mikirnya kejauhan sih, kalau kita punya anak tentu saja aku akan jagain kalian. Stop memikirkan hal yang bikin kamu sakit hati sendiri, kalau gak mau aku bedah ini kepalanya." Ucap Geo yang membuat Aish memanyunkan bibir.

__ADS_1


Dan tentu saja Geo langsung menyambarnya dengan senang hati. Tidak memberikan Aish kesempatan untuk protes lagi.


__ADS_2