Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 75


__ADS_3

"Cari dia sampai dapat dan bawa ke hadapanku!" 


Aish menangkap pembicaraan suaminya. Yang ia tidak tahu dengan siapa. Geo tidak menyadari kalau dirinya sudah kembali ke kamar.


"Mas," panggil Aish dengan raut sendu. Harus bagaimana ia memadamkan api amarah yang sedang membakar jiwa suaminya ini.


"Ya Sayang," jawab Geo gelagapan. Berharap Aish tidak sempat mendengar pembicaraannya, mematikan sambungan telepon sepihak.


Wanita hamil itu menatap suaminya dengan penuh arti, "aku gak mau Papa anak-anak jadi penjahat."


"Sayang, siapa yang mau jadi penjahat?" Seolah tidak mengerti dengan ucapan Aish. Geo membawa istrinya dalam pelukan.


"Aku takut Mas kenapa-kenapa."


"Mas disini Sayang, apa yang Aish takutkan." Geo menenangkan Aish dengan memberikan kecupan di puncak kepala.


Wanita hamil itu menapakkan tangannya di dada sang suami kemudian berkata. "Aku takut dengan kebencian yang ada disini. Aku takut Mas kenapa-kenapa. Aku takut Mas mencelakai orang lain," lirihnya dengan suara pelan.


"Sayang," Geo tidak bisa diam begitu saja selama Leo masih hidup bebas. Saudaranya itu harus mendapatkan pembalasan yang setimpal.


"Aku gak mau Papa anak-anak jadi pembunuh," lanjut Aish dengan suara bergetar ketika teringat bagaimana Ummi meregang nyawa dengan berlumuran darah.


Pria yang sebentar lagi menjadi ayah itu tidak menjawab, membawa Aish untuk duduk disisi tempat tidur.


"Tenang Sayang," Geo menggenggam tangan Aish lalu mengecupinya. 


"Mas tidak akan jadi pembunuh," ucap Geo akhirnya. Dia memang tidak akan membunuh adiknya itu dengan tangannya sendiri. Tapi akan membayar orang untuk menggantikan tugasnya.


Aish tidak bisa percaya begitu saja, karena sorot kebencian yang ada di mata suaminya begitu dalam. Sungguh Aish sangat takut jika harus kehilangan ayah dari anak-anaknya ini.


"Aku takut saat mereka dilahirkan tidak dapat melihat wajah Papa," Aish mengelus perutnya menatap Geo dengan memohon.


"Umma kebanyakan mikir, Papa akan selalu menemani Umma." Geo menggenggam tangan Aish yang sedang mengelus perutnya. "Papa ada disini," bisiknya lembut. Namun Aish menggelengkan kepala.


"Papa sudah dibutakan dendam."


"Aish, Sayang. Jangan begini," Geo mengecup pipi Aish. Khawatir kalau istrinya ini jadi stres di usia kehamilannya yang sudah semakin besar. "Jangan mikir macam-macam, yang bikin Umma gak tenang."

__ADS_1


"Aku cuma mikir satu macam Mas, kamu."


"Susah banget dibilangin, mulutnya nyaut terus." Gemas Geo menyesap saja bibir istrinya yang selalu memabukkan itu. 


"Hmpptt," Aish mendorong bahu Geo yang tidak memberinya kesempatan untuk bernapas.


"Enak Sayang," kekeh Geo setelah berhasil membuat bibir Aish membengkak.


"Mas jangan mengalihkan pembahasan deh," kesal Aish dengan bibir mengerucut tajam.


"Mas gak mengalihkan apapun, cuma menggeser sedikit isi kepala kamu yang terlalu rumit ini." Geo semakin tertawa melihat wajah masam istrinya.


"Umma kabur lagi nih!" Ancam Aish.


"Eits, tadi katanya siapa yang takut ditinggalkan. Kon pengen kabur-kaburan lagi."


"Gak ada bilang gitu."


"Ada."


"Mas ngeselin."


"Gak mau."


"Mau."


"Gak mau."


"Mau."


"Ish, Mas gak mau."


"Mas mau."


"Iya mau," ceplos Aish akhirnya. Malu-malu tapi mau. "Tapi ada syaratnya," lanjut perempuan yang tengah hamil itu.


"Apa?" Tanya Geo dengan kening penuh kerutan.

__ADS_1


"Gak boleh balas dendam."


"Gak janji Sayang," Geo langsung menerkam saja istrinya agar tidak banyak mengoceh lagi.


Pria itu tidak melepas atribut istrinya karena mereka sedang berada di rumah Abi. Dan ini masih siang hari. 


"Kalau gak nyaman bilang ya Sayang, Papa sayang Umma." Bisik Geo sebelum melakukan penyatuannya.


Ungkapan cinta yang sejak dulu Aish inginkan. Geo memang selalu memperlakukannya dengan lembut, tapi tidak pernah mengucapkan itu. Berbeda dengan sekarang yang sudah bisa memanggilnya sayang dengan tulus.


"Hm," Aish tidak bisa menyahut banyak lagi. Karena sang suami yang sudah membuat tubuhnya lemas.


Baru saja Geo ingin membawa istrinya terbang ke angkasa, pintu kamar diketuk.


"Mas, ada orang diluar."


"Nanggung Sayang," rengek Geo frustasi dan malah tancap gas. 


Pria itu tergeletak setelah selesai menjenguk anak-anaknya. Keduanya masih bersimbah peluh ketika pintu diketuk kembali.


"Umma istirahatlah, biar Papa yang keluar. Capek kan, adeknya lama gak dimanja sih." Goda Geo yang membuat Aish malu setengah mati.


"Masih malu-malu, sudah dibikin kembung juga." Ujar Geo yang bertambah usil.


"Mas," rengek Aish kesal.


"Apa, Umma mau lagi. Nanti malam ya Sayang." Kekeh Geo, setelah merapikan pakaiannya pria itu membuka pintu sedikit.


"Ada tamu yang nungguin di depan Mas," beritahu pelayan. 


Geo menganggukkan kepala, mengucapkan terima kasih. Sebelum melihat siapa tamunya, pria itu berlari mendekati tempat tidur lalu mengecup bibir Aish.


Aish yang sudah terpejam membuka matanya kembali, respon tubuhnya sangat baik menerima sentuhan.


"Mas," rengek Aish kesal karena sebentar saja.


"Mau lagi ya, hm." Entah kenapa pria berstatus suami itu jadi semakin usil menggoda istrinya. 

__ADS_1


"Jangan nangis Sayang, nanti Papa jenguk lagi kok." Katanya menjadi-jadi, membuat wajah Aish tambah carut marut saja.


__ADS_2