Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 30


__ADS_3

"Bunda, temani Nasya main. Nasya mau jalan-jalan ke mall." Suara melengking Nasya menggelegar di kamar Aish.


Wanita yang baru melepaskan jarum pentul dari hijab segi empatnya itu menoleh pada bocah yang sedang berlari mendekat ke arahnya.


"Datang sama siapa? Sudah sore mau main kemana juga hm," tanya Aish dengan satu alis terangkat. Tidak tega menolak keinginan gadis kecil itu, tapi ia merasa tidak aman kalau berada di luar. Apalagi ini sudah hampir magrib.


"Diantar supir, Nasya bosan di rumah berantem sama Key terus. Ummi juga sekarang sudah gak sayang lagi sama Nasya. Kan sudah ada adek bayi," adunya dengan wajah gusar.


"Bunda temani main disini aja ya, kita gak usah keluar." Aish yang mendengar keluhan Nasya kecil jadi merasa iba.


Mendekatinya lalu mengelus-elus di kepala. Ummi-nya bukan tidak sayang lagi, Nasya-nya saja yang cemburu pada sang adik. Kalau dulu Nasya yang mendapatkan kasih sayang utuh, sekarang sudah terbagi. Jadilah anak ini mencak-mencak.


"Gak mau, Nasya mau main di mall." Rajuknya, "kakek mana. Biar Nasya aduin Bunda sama Kakek karena gak mau menemani main," ancamnya lucu. Dengan wajah yang ditekuk Nasya berlari keluar dari kamar Aish sambil menghentak-hentakkan kaki.


Aish mengulum senyum melihat tingkah Nasya, kembali memasang hijab lalu menyusul putri Adnan itu. Ia lihat Nasya sedang bertanya pada pelayan mencari keberadaan Abi, bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Kapan rumah ini bisa ramai dengan celotehan anak kecil. Jawabannya kalau dia bisa memberikan cucu-cucu yang lucu untuk Abi. Mengingat hal itu membuat Aish menarik napas panjang berulang kali.


Kali ini ia tidak banyak berharap perihal jodoh lagi. Dia sedang berada dititik sepasrah-pasrahnya menunggu kedatangan jodoh yang Allah pilihkan. Kegagalan pernikahannya kali ini cukup membuatnya memasang benteng kewaspadaan yang kokoh.


Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu mengikuti Nasya sampai ke depan ruangan Abi, berhenti beberapa meter dari pintu.


"Kakek, Bunda gak mau antar Nasya main ke mall." Adu Nasya dengan setengah berteriak dari depan pintu. Matanya membulat ketika melihat ada Geo disana lalu bibir mungilnya tersenyum lebar.


"Om penculik mau temani Nasya," pintanya dengan manja. Padahal Abi Zayid belum memberikan tanggapan atas keluhan sang bocah.


"Salim dulu sama Kakek sini," Abi Zayid geleng-geleng kepala melihat Nasya yang sudah naik ke pangkuan Geo tanpa permisi.


“Sama Om gak salim hm,” goda Geo. Nasya cepat mengambil tangan pria dewasa itu lalu menciumnya. “Pipinya gak di kasih kiss juga?”


“Gak boleh, kata Abi bukan mahram gak boleh dekat-dekat sama laki-laki.” Nasya berceloteh, tidak sadar kalau sedang duduk dipangkuan pria yang bukan mahramnya.

__ADS_1


“Tapi kalau duduk dipangkuan gini boleh ya,” gemas Geo langsung mengecup pipi kanan dan kiri bocah kecil itu.


“Om dosa tahu!” Marah Nasya sambil menghapus bekas ciuman Geo dengan jilbabnya.


Aish yang memperhatikan dari jauh ikut terkekeh. Entah dapat gen dari mana bar-barnya anak itu. Perasaan abi dan umminya tidak ada yang bar-bar, keduanya kalem, lembut, santun.


“Kakek ayo marahin Bunda yang gak mau antar Nasya!” Seru Nasya kembali saat ingat tujuannya mencari sang kekek.


"Sebentar lagi magrib makanya Bunda gak mau menemani Nasya keluar sekarang. Nanti kalau sudah sholat maghrib ya."


"Abi," rengek Aish tidak setuju dengan keputusan Abi yang memberikan persetujuan pada Nasya. Sedang dia takut untuk keluar rumah.


"Bunda gak mau!" Seru Nasya menangis kencang.


"Om yang antar sama Bunda ya," Geo langsung membujuk.

__ADS_1


Membuat Aish menghela napas berat. Tentu saja bocah yang hanya berpura-pura menangis itu mengangguk senang. Tersenyum penuh kemenangan pada Aish.


“Emaknya siapa, yang dibikin susah siapa.” Aish bergumam dalam hati, baru kali ini ia merasa anak itu menyusahkan.


__ADS_2