
"Tidak perlu menikahkan mereka, saya yang akan tetap menikahinya." Suara tegas Adam memecah ketegangan yang terjadi.
Aish yang duduk di belakang Geo meremas buku-buku jarinya. Ia sudah tidak pantas menikah dengan Adam. Dirinya yang sekarang sangatlah hina, bahkan nama baik Abi tercoreng karenanya. Ia sudah membuat Abi malu, tidak ingin membuat Adam juga malu karenanya.
"Tidak, itu tidak akan terjadi. Bunda tidak setuju kamu menikah dengannya!!" Suara seorang perempuan paruh baya menggema di rumah Abi Zayid. Perempuan itu datang dengan terburu-buru, menatap tajam sang putra yang berani membantahnya.
Aish seperti dihempaskan ke dasar lautan kala mendengar kalimat penolakan itu. Sebelum orang tua Adam menolak dirinya pun ia sudah terpikir untuk membatalkan pernikahan ini. Tapi kenapa rasanya masih sangat menyakitkan saat mendengar langsung kalimat itu terlontar dari mulut orang terdekat calon suaminya.
Geo mengepalkan tangan saat netranya bersitatap dengan netra ibunda Adam. Perempuan itu memandang rendah dirinya. Geo tidak masalah dengan itu, tapi dia tidak terima ketika Aish yang sebagai korban dipandang sangat hina.
"Bunda tidak bisa melarang Adam untuk melanjutkan pernikahan ini!!" Adam berucap dengan lantang pada bundanya yang membuat keputusan sesuka hati.
"Bunda bisa, Bunda ingin yang terbaik buat kamu."
"Itu terbaik buat Bunda, bukan terbaik buat Adam." Sarkas Adam kesal, walau bagaimanapun caranya pernikahan ini harus tetap berlanjut dengan atau tanpa restu bunda. Ia tidak terima Aish direndahkan semua orang.
"Betul apa yang dikatakan beliau, Ustadz Adam pantas mendapatkan yang lebih baik. Bukan perempuan murahan seperti dia, " sahut bapak-bapak yang bertubuh gempal memprovokasi. Tersenyum miring pada Geo yang sudah siap melepaskan bogem nya.
"Jaga mulut Anda Pak, putri saya tidak murahan seperti yang Anda bilang." Abi Zayid yang sedari tadi diam menahan emosi memberikan tatapan membunuh pada pria yang mulutnya setajam silet itu.
Pria itu malah tersenyum miring dan meludah di depan Abi Zayid. "tidak murahan katanya tapi hidup bebas bersama pria yang bukan mahramnya padahal sudah punya calon suami. Jangan-jangan mereka sudah tidur bersama, dan jilbabnya itu hanya untuk menutupi kedoknya agar terlihat seperti perempuan baik-baik."
__ADS_1
"Anda tidak perlu mengotori mulut suci Anda dengan merendahkan orang lain Pak!!" Geram Geo dengan suara rendah yang dipenuhi emosi. Ingin rasanya ia jahit mulut sok suci yang bicara tanpa saringan itu.
"Nak Adam, sebaiknya kita batalkan saja pernikahan ini. Saya tidak bisa membiarkan Aish memiliki ibu mertua yang memandangnya rendah."
"Abiii!" Protes Adam tidak terima, kalau bunda yang menentang ia masih bisa membantah. Tapi kalau Abi Zayid yang tidak mau menyerahkan putrinya ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Maaf," lirih Abi Zayid masuk ke kamar mendekati Aish yang menangis dalam diam. Putrinya sudah lama kehilangan kasih sayang seorang ibu. Ia tidak ingin hidup Aish tersiksa bersama ibu mertua yang tidak menginginkannya.
"Gak bisa begini Abi, pernikahan ini tetap harus dilanjutkan." Adam masih teguh pada pendiriannya.
"Saya akan ganti semua kerugiannya!" Sahut Abi Zayid, terdengar kejam memang. Tapi semua ini demi Aish.
"Ini bukan masalah uang Abi, saya tidak terima dengan semua ini. Saya akan tetap...." ucapan Adam terpangkas oleh suara sang bunda yang menarik tangannya. "Kita pulang!!"
"Pulang, kamu tidak dengar kalau pernikahan ini sudah dibatalkan!!"
"Semua gara-gara Bunda, harusnya Bunda bisa berpikir dengan bijak tanpa menghakimi seperti mereka yang tidak tahu kebenarannya!" Seru Adam melepaskan tangan sang bunda. Walau sangat marah tapi ia masih tahu batasan agar tidak menyakiti perasaan perempuan yang telah melahirkannya.
"Pulanglah, ikuti ibumu." Bujuk Abi Zayid dengan perasaan bersalah. Selama ini orang tua Adam baik padanya, tapi ia tidak tahu kenapa ibunya Adam bisa termakan oleh berita yang belum tentu kebenarannya.
"Halaaah, aktingnya saja itu padahal sudah tahu borok anaknya yang tidak mungkin dinikahkan dengan Ustadz!!"
__ADS_1
"Bangs*at!!" Umpat Geo, amarahnya semakin tersulut. Ditariknya kerah baju pria yang bertubuh gempal itu, sudah tidak bisa menahan diri mendengar mulut lemes yang suka bicara sembarangan.
"Nak Geo, jangan kotori tanganmu dengan menyentuhnya." Tegur Abi Zayid sembari menarik sang putri dalam pelukan.
"Keluar, sebelum kubuat kaki kalian tidak bisa berjalan lagi!!" Usir Geo mendorong tiga pria itu agar segera pergi, "dan Anda juga!!" Geramnya pada ibunda Adam, kepalanya yang pusing jadi tambah pusing.
"Ustadz juga mau saya usir," katanya menoleh pada pria yang juga tak kalah marah dengannya. Mereka sama-sama marah, hanya saja dengan alasan yang berbeda.
"Ikut saya!" Adam menarik Geo menjauh setelah orang-orang dan bundanya pergi.
Sementara Aish semakin tergugu dalam pelukan Abi Zayid, tubuhnya masih bergetar dan berkeringat dingin. Saat ini hanya ada mereka berdua di kamar.
"Gak papa ya gagal lagi Nak, Abi gak akan maksa Aish menikah lagi." Abi Zayid semakin merengkuh tubuh putrinya.
"Maafin Aish sudah bikin Abi malu," gumamnya sangat pelan dengan suara yang penuh kepiluan.
"Abi gak malu, Abi bangga sama putri Abi yang kuat ini." Sahutnya dengan mata memerah dan basah.
Ayah mana yang tidak terluka melihat putrinya dihina secara terang-terangan. Dia yang membesarkan, menyekolahkan dan menjaganya. Tapi orang lain dengan tidak tahu dirinya merendahkan putri yang selama ini sangat dijaganya.
"Ijinkan saya yang menikahinya Abi," putus Geo. Orang tahu dirinya yang sudah merusak kehormatan perempuan itu. Ia baru tahu itu saat tadi Adam memberitahu dan menjelaskan perihal video yang sudah tersebar luas.
__ADS_1
Lagi-lagi Geo dibuat menggeram karena perbuatan Leo. Sekarang dia paham kenapa para wali santri mendemo rumah Abi Zayid.