
Geo yang sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan tidak sengaja melihat mantan kekasihnya bergandengan mesra dengan sang suami.
Refleks Geo memegangi dadanya yang terasa nyeri. Kenapa nasib percintaannya sangatlah sial. Niatnya keluar untuk membunuh rasa bosan tapi malah bertemu mantan. Ia berbalik Arah menghindari dua orang itu.
“Aww, Bunda sakit.” Seru anak kecil memegangi jidatnya yang terkena jam tangan Geo dengan keras sampai memerah.
"Sakit?" Aish mengusap-usap kening Nasya. Keponakannya itu hanya menganggukkan kepala.
“Maaf,” Geo langsung menunduk dan meniup kening anak perempuan itu. “Kau,” tunjuknya mengenali gadis kecil yang ada di hadapannya. Tapi dia lupa siapa nama anak yang selalu memanggilnya dengan sebutan om penculik itu.
“Om penculik, kenapa kita selalu bertemu. Apa kita jodoh,” ucap Nasya polos.
“Hei Nasya bicara apa?” Aish terkekeh kecil mendengar celotehan Nasya.
Geo yang mendengar ikut tertawa, “ya mungkin kita memang berjodoh.” Katanya mengacak gemas rambut Nasya lalu berdiri mengucapkan maaf dengan datar pada perempuan yang Nasya panggil bunda. Setahu Geo itu bukan ibu kandung Nasya. Kemudian melanjutkan langkahnya sebelum dia berpapasan dengan Guntur dan Ara.
“Om gak mau traktir jodohnya sebagai permintaan maaf!” Seru Nasya dengan wajah cool, Geo yang sudah berjalan kini membalikkan badan kembali.
“Nasya gak boleh gitu!!” Tegur Aish. Dia merasa tidak enak dan mengucapkan maaf, tapi tidak direspon apa-apa oleh pria itu.
Nasya meletakkan jari telunjuk di bibir mengisyaratkan agar Aish diam, wanita dewasa itu hanya menurut.
“Jadi jodoh Om penculik ini minta ditraktir makan?” Geo berjongkok dan tersenyum pada gadis kecil yang sudah bisa menghibur hatinya disaat yang tepat. Dengan cepat Nasya menganggukkan kepala.
“Ayo,” ajak Geo mengulurkan tangan pada Nasya dan menggenggam tangan mungil itu menuju restoran.
Aish yang bingung hanya mengikuti saja. Pria itu terlihat tersenyum hangat dengan Nasya namun dengannya terkesan dingin dan tidak berekspresi. Mereka tidak pernah bertemu, tapi Nasya sudah seakrab itu.
__ADS_1
“Bolehkah jodoh Om ini minta antar pulang juga?” pinta Nasya dengan ngelunjak setelah perutnya kenyang.
“Baiklah, sebagai permintaan maaf.” Geo tersenyum mengacak gemas puncak kepala Nasya.
Sepanjang makan hanya Geo dan Nasya yang berceloteh. Sementara Aish tidak ikut berbincang, hanya menjawab seadanya ketika Nasya bertanya padanya.
"Om sudah menikah?" Tanya Nasya polos saat sudah berada dalam mobil Geo. Dia duduk di kursi depan, sedang Bunda Aish duduk di belakang.
Tidak hanya minta ditraktir makan, gadis kecil yang entah turunan siapa bar-barnya itu juga minta ditemani bermain. Aish sampai tidak enak hati pada pria yang baru kali ini ditemuinya, walau Nasya sudah sering bercerita tentang si Om Penculik.
"Belum, kenapa? Kamu mau nikah sama Om?" Jawab Geo gemas diikuti kekehan, jadi penasaran bagaimana bentukan kedua orang tua anak ini. Apakah seperti putrinya yang barbar dan tidak bisa diam.
"Bukan Nasya tapi Bunda," jawab Nasya tanpa dosa.
Membuat Aish membelalakkan mata dan malu setengah mati. Bisa-bisanya anak kecil itu menjodohkannya dengan pria tidak dikenal.
"Hm," Geo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak mungkin dia mengatakan tidak mau. Karena itu bisa menyinggung perasaan orang lain. Mengiyakan pun sungguh sangat mustahil iya lakukan kalau hanya untuk menyenangkan hati si bocah.
"Karena tadi ada yang nyuruh Bunda cepat nikah.... Nasya bingung... mau nikahkan Bunda sama siapa biar gak ada yang bilang gitu lagi sama Bunda. Jadi Om aja yang nikah sama Bunda ya? Biar Bunda gak sedih, terus punya dedek bayi." Pinta Nasya asal bicara, sambil mengingat-ngingat arti nikah itu apa. Dia pernah bertanya pada Abi kenapa perut Ummi ada dedek bayi. Kata Abi karena Ummi menikah dengan Abi. Menurutnya menikah itu laki-laki sama perempuan terus punya dedek bayi.
"Nasya," tegur Aish yang semakin malu. Siapa sih yang mengajari anak ini bicara seperti orang dewasa. Sementara Geo terkekeh kecil mendengar penjelasan Nasya.
"Kalau nikah harus sama laki-laki ya Bun?" Tanya Nasya tidak tahu diri. Membuat Aish ingin menenggelamkan diri ke dasar lautan saja biar tidak menanggung malu.
🍃
Karena permintaan Nasya Geo mengantarkan Aish pulang. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. Geo hanya sesekali bertanya arah jalan ke rumah perempuan itu. Tidak ada Nasya membuat kebisingan dalam mobil menghilang.
__ADS_1
"Jangan masukkan hati ucapan Nasya ya Mas," ucap Aish setelah mengucapkan terima kasih pada Geo yang sudah mengantarkannya sampai di rumah. Pria itu mengangguk kaku tanpa memberi tanggapan.
"Nak Geo, masuk dulu." Ajak Abi saat melihat pemuda yang pernah ia temui di rumah sakit. Mereka pernah berbincang singkat.
"Terima kasih Pak, saya masih ada urusan." Tolak Geo sopan dengan senyuman tipis sambil menunjuk jam di pergelangan tangannya, mengisyaratkan kalau dia sedang buru-buru.
Abi mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih karena Geo sudah mengantar putrinya dan meminta maaf karena merepotkan.
Geo menjawab dengan anggukan kepala kemudian melajukan mobilnya setelah melambaikan tangan pada Abi Zayid.
"Kenapa bisa sama Geo?" Tanya Abi menyelidik.
"Karena Nasya Bi," jawab Aish diikuti helaan napas berat. Ia memang sangat jarang menggunakan mobil sendiri. Lebih senang naik kendaraan umum, karena itu bisa membantu jadi jembatan rejeki untuk orang lain.
Abi Zayid tertawa gelak saat mendengar cerita Aish, bagaimana Nasya yang begitu lancar mempermalukannya di depan pria asing. Wanita itu meletakkan tas di meja lalu duduk di sofa seraya menyandarkan punggung.
Dia saja baru tahu nama pria itu dari Abi. Abi memang pernah bercerita tentang orang yang menolongnya, tapi tidak menyebutkan nama. Ia tahunya Om Penculik seperti yang sering Nasya katakan.
"Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang mereka katakan agar tidak menjadi dendam, karena ucapan orang diluar kendali kita. Tidak perlu mengklarifikasi dan memberikan penjelasan agar mereka mengerti jalan pikiranmu. Kamu tidak bisa menyenangkan hati semua orang dengan mengikuti standar mereka." Abi Zayid tersenyum, ikut duduk di samping Aish.
"Menikah itu bukan perlombaan, siapa cepat dia dapat. Siapa yang punya anak lebih dulu dia yang dianggap berhasil. Bukan, semua itu ketentuan Allah." Nasehat dari Abi yang sering Aish dengar.
Siapa yang tidak dongkol kalau selalu saja ada yang menyinggung perasaannya karena dianggap telat menikah. Atau mereka berpikir Aish tidak ingin menikah padahal mengerti ilmu agama. Sejauh itu pemikiran mereka, padahal dia masih fakir ilmu.
"Aish bukan gak mau nikah Abi."
"Iya Abi tahu," pria itu membawa kepala sang putri bersandar di bahunya. "Kamu hanya belum menemukan pria yang tepat. Allah sedang membuatkan rencana yang indah untukmu."
__ADS_1
"Maaf Aish membuat Abi lama menunggu cucu. Abi janji harus sehat sampai Aish menikah dan punya anak nanti." Satu ketakutannya, Abi tidak bisa menemaninya saat menikah dan melihat anak-anaknya nanti.
Abi Zayid hanya menjawab dengan senyuman teduh, tidak berjanji apa-apa.