
Tiba di Jakarta Geo langsung mendatangi kediaman orang tuanya setelah mengantar Aish untuk beristirahat.
"Dimana si brengsek itu!" Teriak Geo murka saat mengetahui orang yang selama ini melindungi Leo adalah papanya sendiri.
Disaat dirinya mati-matian mencari keberadaan Leo, Papa Ferdinand malah menyembunyikan manusia brengsek itu darinya.
"Siapa yang kamu cari?" Tanya sang mama keheranan melihat Geo yang datang dengan berteriak-teriak.
"Dimana kalian menyembunyikan Leo?"
"Mama tidak tahu dimana Leo," sahut perempuan paruh baya itu gugup.
"Tenanglah dulu, bicara baik-baik." Ferdinand mendekat, menenangkan putranya yang sedang emosi.
"Berhenti basa-basi Pah, aku sudah tahu kalau Papa yang melindungi Leo. Papa juga yang membebaskan si brengsek itu dari penjara. Padahal aku ingin sekali membunuhnya dengan tanganku sendiri!!" Sarkas Geo menggebu-gebu.
"Leo itu adikmu, kembaranmu Geo!" Mama mengingatkan dengan suara meninggi.
Geo tersenyum miring, "adik?" Tanyanya getir, "adik mana yang ingin membunuh kakaknya sendiri. Apa ada seorang adik yang malah ingin merusak kakak iparnya?" Lanjut Geo dengan kilat marah yang berapi-api mengingat Leo yang ingin menyakiti Aish.
"Jawab Mah, apa itu pantas disebut adik?" Tanya Geo ulang saat sang mama terdiam.
"Geo!!" Tegur Ferdinand karena putranya itu membuat istrinya ketakutan.
"Apa?" Sentak Geo geram.
__ADS_1
"Papa punya alasan kenapa melindungi Leo," Ferdinand tetap tenang menghadapi putranya yang tengah terbakar amarah.
"Dari dulu memang Papa punya alasan, termasuk menjauhkanku dari Ara!" Sarkas Geo dengan tatapan terluka.
"Papa tahu apa yang Leo lakukan, tapi Papa diam. Papa sama brengseknya dengan bajingan itu!!"
"Mas!!" Aish langsung memeluk Geo dari belakang. Perempuan hamil itu mengikuti suaminya karena penasaran. Geo langsung meninggalkannya setelah menerima telepon, ternyata suaminya itu pulang ke rumah.
"Kenapa kesini?" Geo mengusap-usap tangan Aish yang melingkar di perutnya. Sementara sepasang suami istri yang melihat perut buncit wanita hamil itu terdiam di tempat.
"Jangan marah-marah, kita pulang." Ajak Aish, Geo mengangguk setuju. Membawa istrinya pulang, tahu darimana Aish kalau dia ada disini.
"Aish," panggil Ferdinand. Membuat langkah wanita hamil itu terhenti. "Bagaimana kabar mereka?" Tanyanya ingin menyentuh perut Aish namun segera ditepis Geo.
"Tapi Papa Mas."
"Jangan pedulikan dia!"
"Tapi Mas."
"Aish!!" Tegur Geo dengan suara yang lebih tinggi. Perempuan hamil itu terdiam dan ikut saja dengan suaminya yang masih emosi.
"Itu cucu kita Pah?" Tanya perempuan yang merupakan ibu kandung Geo. Terbit rasa bersalah karena pernah meragukan anak di kandungan menantunya itu.
Ferdinand mengangguk lemah tak dapat bersuara lagi. Kesalahan terfatalnya mengecewakan Geo.
__ADS_1
"Papa bilang istirahat di rumah kenapa menyusul, hm." Geo menepuk gemas perut Aish lalu menciumnya setelah memasangkan sabuk pengaman.
"Gak mau ditinggal Papa," ujar Aish sengaja dimanja-manjakan. Padahal dia membuntuti suaminya itu menggunakan taksi.
"Mau pulang kemana? Ke rumah atau rumah Abi?"
"Rumah Abi boleh?"
"Boleh Sayang," sahut Geo dengan senyuman manis. Hilang sudah amarahnya yang menggebu-gebu tadi.
"Makasih," ucap Aish manja memeluk lengan Geo.
"Mau pulang apa mau pelukan disini aja nih," gemas Geo pada ibu hamilnya yang terlihat semakin manja. Padahal ia tahu, itu hanya trik Aish untuk meluluhkan hatinya.
"Pulang," Aish tertawa tanpa dosa mengecup pipi Geo. Sekarang wanita hamil itu sudah semakin berani menggoda suaminya.
"Masih kurang disini," Geo menunjuk pipi kanannya. Aish menurut, memberikan kecupan disana.
"Yang ini belum juga," tunjuk Geo di keningnya kemudian beralih menunjuk dagu. Aish menurut saja tanpa membantah.
"Yang ini gak dapat jatah, hm?" Dengan usil pria itu menunjuk bibirnya.
"Mau pulang apa mau ambil jatah disini?" Aish mengembalikan ucapan suaminya tadi.
"Umma," Geo tertawa geli mendusel-dusel pipi sang istri dengan gemas.
__ADS_1