
"Yang sekarang suka ngambekan hm, nanti Papa pulang kerja kita ketemu kakek ya Nak." Geo mengusap perut datar Aish sebelum berangkat ke kantor. Wanitanya itu masih cemberut.
Walau perutnya masih kurang bersahabat tapi ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama. Sudah cukup Geo pernah menghilang satu tahun lamanya. Papa tidak mau bersusah payah menggantikan dirinya lagi untuk mengurus perusahaan. Apalagi setelah ia menikah, tanggung jawab penuh diserahkan padanya.
"Aku gak ngambekan Mas," protes Aish.
"Iya bukan kamu, anak-anak Papa aja." Geo mengulum senyum, menjawil gemas hidung sang istri. "Titip anak-anak Umma, kalau mau makan sesuatu kabari Papa. Atau kalau kangen bisa langsung datang ke kantor Papa, hm."
Di akhir kalimatnya pria itu memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri, kening kemudian turun ke perut Aish.
Siapa yang menyangka kalau pria yang sehangat itu masih belum bisa mencintai sang istri seutuhnya. Rena yang melihat gaya berpamitan Geo saja ikut menghangat hatinya. Tapi tidak dengan Aish yang malah semakin dihinggapi ketakutan.
🍃
Baru tiba di kantor Geo sudah memberikan tatapan permusuhan pada asistennya. "Siapa yang menyuruhmu mencari pembantu yang mirip mantan kekasihku, Pandu?"
Kalimat yang sangat ingin Geo layangkan itu akhirnya terucap juga. Tidak hanya tadi malam, ternyata pagi tadi pun ia melihat art di rumahnya itu berpenampilan persis Ara. Untung Aish tidak menyadarinya, jadi Geo bisa sedikit lebih tenang.
"Maaf Tuan, tapi wanita itu lebih tua. Mana mungkin mirip Nona Ara?" Pandu sampai memeriksa kembali foto Rena di surat lamarannya. Untuk mencari asisten rumah tangga saja mereka melakukan seleksi ketat.
__ADS_1
"Ck, kau malah balik bertanya. Betah kerja tidak, aku bisa saja mencari asisten yang baru detik ini juga!" Geo geram mendapatkan jawaban bodoh seperti itu.
"Masih betah Tuan," cicit Pandu. "Mungkin anda saja yang terlalu rindu dengan Nona Ara Tuan, jadi semua terlihat mirip." Lanjutnya, setelah mengucapkan itu Pandu langsung menutup mulutnya yang kebablasan bicara.
Geo melayangkan tatapan tajam, dengan bibir tersenyum kecut. "Pintu masih ada di sana Pandu, silahkan keluar dan jangan pernah kembali lagi!!"
"Maafkan mulut Saya yang lancang ini Tuan," ujar Pandu gelagapan.
"Tidak ada maaf untukmu!!" Sarkas Geo, menyandarkan tubuhnya ke kursi malas. Bicara dengan Pandu membuatnya emosi saja. Ternyata bukan hanya Aish yang berubah lebih sensitif, dia juga.
Padahal Pandu tidak sepenuhnya salah, ia memang sangat merindukan Ara sampai menganggap pembantunya itu mirip sang mantan.
"Keluar Pandu!!" Teriak Geo, asistennya itu membuat kepalanya semakin ruwet saja.
"Tapi saya tidak dipecatkan Tuan?" Pandu memastikan kembali sebelum keluar ruangan sang bos.
"Keluar sekarang atau kulenyapkan kau!!" Teriak Geo semakin geram.
Pandu cepat kabur sebelum Tuannya tambah mengamuk. Sepanjang sejarah baru kali ini bosnya itu marah dengan cara yang tidak elegan sama sekali. Hanya gara-gara mantan. Padahal cukup buanglah mantan pada tempatnya, tidak perlu didaur ulang kembali.
__ADS_1
Hah!! Geo meloloskan napas kasar, memfokuskan diri memeriksa berkas-berkas di hadapannya sebelum membubuhkan tanda tangan.
Berjam-jam Geo berkutat dengan berkas-berkas, satu hari tidak masuk kerja sudah membuat pekerjaannya menumpuk. Sebelum berada di mejanya, berkas-berkas itu harus melalui pemeriksaan Pandu. Tentu saja dia tidak memecat asistennya itu, hanya mengancamnya saja.
Ketukan pintu mengalihkan atensi Geo, tidak terasa sekarang sudah jam istirahat.
"Tuan ada Mbak Rena mengantarkan makan siang dari Nyonya." Beritahu Pandu dengan hati-hati, waspada kalau saja bosnya masih marah.
"Bawa masuk," seru Geo bersemangat. Entah semangat karena Aish membuatkan makan siang untuknya lagi atau semangat karena ingin melihat perempuan yang sangat mirip dengan mantan itu.
Pandu sempat kaget saat melihat penampilan wanita itu. Penampilannya tidak seperti saat dia bawa, sekarang tidak nampak tua. Seperti yang Tuannya bilang, sangat mirip dengan Nona Ara.
Geo memelototkan mata saat Pandu membawa masuk perempuan itu. Padahal ia menyuruh makanannya saja.
Perempuan itu bergegas menyusun makanan di atas meja. Melihat lirikan mata yang tidak bersahabat Pandu meminta untuk Rena segera pergi. Biar dia yang menyiapkan makan siangnya.
"Selamat menikmati Tuan," sebut Rena dengan senyuman manis.
Jantung Geo langsung berdebar kencang. Senyuman itu, ah dia rindu senyuman manis Ara yang mendebarkan.
__ADS_1