Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 37


__ADS_3

Geo memiringkan badan ke arah kiri, mengamati Aish yang tengah gelisah. Perempuan itu seperti tidak nyaman berada satu tempat tidur dengannya.


Padahal tadi tertidur pulas saat tidur di sofa bersandar padanya. Sampai-sampai bahunya jadi kebas. Ia berusaha memutus ingatan tentang Ara yang terus menghantui. Tidak pantas baginya memikirkan perempuan lain sedang sudah ada seorang istri di sisinya.


"Kenapa gak dilepas, kan jadinya panas gak bisa tidur." Bukan sebuah pertanyaan, karena tangan Geo sudah bergerak untuk melepaskan hijab instan yang terpasang di kepala Aish. Kemudian melepas ikatan yang menjalin rambut panjang istrinya.


"Kalau mau tidur, ikat rambutnya dilepas, kan rambutnya juga perlu napas."


Aish hampir saja kehabisan napas mendapatkan perhatian dari Geo. Pria yang berusia empat tahun lebih muda darinya itu selalu saja bisa membuat jantungnya ketar-ketir tidak karuan. Bukan rambutnya yang tidak bisa bernapas, tapi dadanya yang dibuat sesak napas.

__ADS_1


"Mas, jangan gini. Aku takut jatuh cinta sama kamu," jujur Aish dengan debaran di dada.


Meski malu mengatakannya tapi tetap Aish ungkapkan, agar bisa memilih langkah selanjutnya. Membiarkan hatinya jatuh cinta pada Geo atau memasang benteng pertahanan untuk perasaannya agar tidak terluka parah.


"Kenapa takut, aku ini suamimu hm?" Tanya Geo seraya menyentuh pipi Aish dengan lembut. Sebisa mungkin menepis bayangan Ara di kepalanya. Tidak ingin membuat wanita yang berstatus sebagai istrinya kecewa.


"Kalau aku jatuh cinta nanti bikin Mas repot," Aish tidak berani menatap mata Geo terlalu lama. Ia suka dengan binar hitam mata itu, namun Aish terlalu takut kecewa kalau melabuhkan hati pada pria yang berstatus sebagai suaminya sendiri.


Aish menggeleng, tidak menjelaskan apa yang ada dalam isi kepalanya.

__ADS_1


"Jangan larang hatimu jatuh cinta pada suami sendiri, nanti tambah sakit hm. Kita lalui semua ini sama-sama, kalau ada hal yang bikin kamu gak nyaman jangan dipendam. Kalau mau cerita, cerita aja." Geo tersenyum kecil menyingkirkan helaian rambut yang menempel di pipi Aish.


"Tapi kamu gak bisa mencintai aku kan Mas? Aku gak mau menuntut Mas untuk itu. Aku gak mau jadi orang tidak tahu diri karena menginginkan cinta Mas juga."


"Perihal cinta itu urusanku. Aku akan tetap memberikan nafkah lahir dan batin untukmu," Geo melabuhkan kecupan di kening Aish dengan mata terpejam.


Meyakinkan dirinya kembali atas apa yang ia ucapkan. Berat, tentu saja melawan keinginan hati itu sangat berat. Geo tidak bisa menyentuh perempuan yang tidak menjadi pemilik hatinya. Namun sekarang, Aish adalah istrinya. Berhak atas semua yang ada pada dirinya.


“Maaf sudah menyusahkan kamu Mas. Jangan paksakan kalau itu membuat Mas tersiksa, aku tahu disini ada nama perempuan lain.” Aish menempelkan telapak tangannya di dada Geo. Mengucapkan kalimat itu dengan perasaan tidak rela.

__ADS_1


Entah kenapa dia jadi tidak tahu diri seperti ini. Padahal Aish sangat sadar kalau Geo menikahinya hanya karena ingin memberikan perlindungan untuknya.


"Disini memang ada nama perempuan lain. Tapi aku sudah berikrar pada Allah untuk mengambil tanggung jawabmu dari Abi. Membahagiakanmu, menjagamu dan memenuhi segala kebutuhanmu itu sudah menjadi tanggung jawabku." Geo menahan tangan Aish di dadanya. Biarlah urusan perasaan ini hanya dia dan Tuhan yang tahu. Walau sebenarnya Geo merasa bersalah. Sama saja dia mengkhianati istrinya sendiri. Tapi mau gimana lagi, tidak mudah untuknya melupakan Ara.


__ADS_2