Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 53


__ADS_3

Sendirian di rumah dan tidak bisa bergerak bebas melakukan apa-apa membuat Aish merasa bosan. Ia berjalan-jalan mengelilingi rumah tempatnya tinggal. Kakinya berhenti di sebuah halaman luas yang merupakan tempat latihan menembak.


Sudut bibirnya melengkung atas, tersenyum miris. Sesayang itu Geo pada mantan kekasihnya, sampai rumah indah ini dibangunkan khusus untuk wanita itu.


Bagaimana ia bisa merebut hati sang suami. Sedang di dalam hati itu masih mengagungkan nama lain. Sekali lagi Aish menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar untuk melegakan dadanya yang terasa sesak.


Ia tak berani menuntut banyak agar Geo mencintainya. Pria itu sudah sangat baik padanya dan memberikan perhatian penuh.


"Mbak Aish, dicariin ternyata di sini. Bibi udah masakin untuk makan siang. Sekarang Bibi boleh pulang, mau jemput cucu di sekolah." Izin perempuan paruh baya yang bekerja di rumah Geo itu.


Biasanya Bi Siti hanya membersihkan rumah. Untuk urusan memasak, Aish lakukan sendiri. Karena tangannya yang kesulitan untuk memasak, jadilah Bi Siti yang melakukannya.


"Iya Bi, terima kasih ya." Ucap Aish sambil tersenyum, Bi Siti membalas ramah dan menganggukkan kepala.


"Oh ya Non, eh Mbak maksudnya. Bibi sampai lupa, Mas Pandu nungguin di ruang tamu." Bi Siti tersenyum sendiri karena melupakan tujuannya mencari sang majikan.


"Iya Bi," Aish beranjak dari tempatnya duduk. Seperti kata sang suami pagi tadi, Pandu akan datang membawakan asisten rumah tangga.


Sesampainya di ruang tamu Aish sudah disambut Pandu, pria itu menunduk hormat padanya. Sebenarnya Aish tidak terbiasa diperlakukan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, asisten suaminya itu tidak mau mengubah kebiasaannya pada sang majikan.

__ADS_1


"Nyonya, ini Mbak Rena yang akan membantu pekerjaan rumah." Pandu memperkenalkan wanita yang bernama Rena. Dilihat dari penampilan mungkin umurnya hanya beberapa tahun lebih tua dari Aish.


Aish menanggapi dengan anggukan kecil, tersenyum pada perempuan itu.


"Mbak Rena, ini Nyonya Aish istri Tuan Geo." Ujar Pandu melanjutkan perkenalan, lalu menjelaskan singkat apa yang harus Rena lakukan di rumah tuannya. Dan memberitahu dimana kamar perempuan itu.


"Baik Tuan," jawab Rena mengerti.


"Baiklah, kalau tidak ada lagi saya permisi." Pandu membalikkan badan dan melangkah pergi setelah mendapat persetujuan dari Aish.


"Tunggu sebentar," panggil Aish. Membuat Pandu menghentikan langkahnya.


"Mbak Rena bisa bantu saya?" Aish bergegas mengajak Rena ke belakang.


"Biar saya bantu Nyonya," Rena mengambil alih pekerjaan Aish. Perempuan itu dengan cekatan menyusun rantang menjadi satu setelah mengisinya. "Sudah selesai," ujarnya tersenyum puas.


"Terimakasih Mbak," Aish mengambil bekal makan siang itu lalu bergegas kembali ke ruang tamu. Pandu masih menunggu dengan keheranan.


"Titip buat Mas Geo," Aish memberikan rantang dengan tangan kirinya pada Pandu.

__ADS_1


"Baik Nyonya, saya permisi." Pandu menyambut dengan kening berkerut, sampai mobil ia tersenyum melihat bekal makan siang itu.


🍃


Di ruangannya Geo memutar-mutar rantang yang dititipkan Aish pada Pandu. Bibirnya tidak berhenti mengulas senyum. Entah kenapa ada perasaan rindu ingin cepat pulang.


"Assalamualaikum," sapa Geo melalui sambungan telepon. Ia memutuskan menelpon Aish untuk mengucapkan terimakasih.


"Wa'alaikumsalam Mas, sudah dimakan bekalnya?" Aish menjawab salam kemudian langsung bertanya, tidak biasanya Geo menelpon. Sungguh ini kejadian langka setelah mereka menikah, baru pertama kali Geo melakukannya.


"Belum, makasih ya bekalnya. Ini masih dipandangin bekal buatan istri, hm."


Hanya ucapan sederhana seperti itu saja hati Aish sudah berbunga-bunga.


"Tapi bukan aku yang masak Mas, Bi Siti." Aish mengulum senyum, sudah biasa mendengar godaan Geo yang membuatnya klepek-klepek itu. "Jadi makasihnya sama Bi Siti aja ya."


"Hm, tapi kamu yang nyiapinkan. Aku tetap mau bilang makasihnya ke kamu bukan ke Bi Siti," balas Geo semakin menggoda.


"Aku pulang ya, kan kamu belum makan gak ada yang nyuapin." Pria itu langsung memutus sambungan telepon sebelum Aish memberikan tanggapan.

__ADS_1


"Pandu, makan siang untukmu." Geo menyodorkan rantang pada sang asisten.


Pandu yang masih berdiri di depan pintu ruangan tuannya mengernyit bingung. Bosnya itu seperti sedang mendapat undian, meninggalkan kantor dengan riang.


__ADS_2