Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 73


__ADS_3

"Aish," Geo tiba di villa hampir jam satu malam. Terpaksa melewati jalur darat karena tidak mendapatkan penerbangan ke Jogja. 


Ia bisa bersabar melewati perjalanan yang memakan waktu hampir delapan jam itu karena Ken memberikan kabar kalau istrinya aman. Anak buah pria itu sudah mengamankan Leo.


Selama satu jam Geo menggenggam tangan Aish, berharap istrinya itu bangun. Namun ibu hamil itu masih betah tidur karena pengaruh obat yang disuntikkan ke tubuhnya.


"Sayang, kalian baik-baik saja." Calon ayah itu bisa merasakan tendangan di perut Aish. Hatinya lega melihat sang istri yang baik-baik saja. Beruntung anak buah Ken cepat bertindak.


"Papa kangen kalian," katanya memberikan kecupan di perut Aish lalu beralih ke kening.


"Sama Umma kangen juga, kangen banget malahan. Umma jangan pergi lagi dari Papa ya," bisik Geo. Sudah cukup ia merasakan tersiksa selama berjauhan dari Aish. Jadi tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. 


Sebenarnya Aish sudah bangun sejak Geo memainkan perutnya. Tapi ia pura-pura tidur karena merasa nyaman dengan elusan yang sudah lama tidak dirasakannya.


"Mas," Aish terpaksa membuka kelopak mata saat sang suami ingin menyosor di bibir.


"Aish, Sayang sudah bangun." Geo memeluk wanitanya erat, melepaskan rindu yang begitu menyiksa beberapa bulan ini. "Maafin Mas ya Sayang, jangan pergi lagi." Mohonnya dengan mengecup seluruh wajah Aish.


Aish merentangkan tangan minta dibantu bangun, lalu wanita itu merangsek dalam pelukan Geo. 


"Gak ada yang peluk kan kalau pergi dari Papa, makanya jangan pergi lagi." Ujar Geo dengan kekehan.


"Maaf," lirih Aish pelan.

__ADS_1


"Sstt, berhenti minta maaf. Umma gak salah, Papa yang banyak salah." Geo tidak ingin membahas hal yang tidak penting. Lebih baik menikmati waktu bersama untuk melepaskan rindunya.


"Gak bisa nafas," gumam Aish yang dipeluk sangat erat oleh Geo. 


Geo langsung melonggarkan pelukannya kemudian terkekeh geli, bukannya merasa bersalah. "Perut Umma mau meletus," celetuknya gemas. Tidak berhenti memberikan elusan di perut buncit sang istri.


"Mereka gak nyusahin kan Sayang?" 


Aish menggelengkan kepala, "mereka sudah bisa menendang Mas." 


"Makasih ya sudah kuat berjuang sendirian. Papa sayang kalian, apalagi Umma. Sayang banget," bisik Geo membuat wanita hamil itu tersipu malu.


"Umma mau makan? Pasti gak makan dari sore kemarin kan," ujar Geo cerewet.


"Baiklah, Papa gak akan lepas pelukannya hm. Sekarang tidur lagi," Geo menidurkan Aish kembali. Kemudian memeluknya, kali ini mereka tidur bersama sambil berpelukan setelah beberapa bulan terpisah.


Geo tidak langsung memboyong Aish pulang. Ia harus memastikan pada dokter kalau anak dan istrinya itu akan baik-baik saja jika dibawa perjalanan jauh.


🍃


"Astaghfirullah, pergi-pergi!!" Pelayan perempuan itu terkejut melihat majikannya dipeluk oleh pria yang kemarin membuat keributan. 


Tadinya ia ingin melihat keadaan majikannya itu dan membangunkan. Karena sudah hampir memasuki waktu subuh.

__ADS_1


"Bibi!" Pekik Aish disela suara Geo yang mengaduh mengaduh kesakitan. Karena dipukuli perempuan paruh baya itu dengan sapu.


"Ini penjahat Nak, penjahat!!"


"Bibi, ini suami Aish bukan penjahat." Aish menghalau bibi yang ingin memukul Geo kembali.


"Suami? Tapi wajahnya sama dengan si penjahat." 


"Sayang sakit," rengek Geo dilebih-lebihkan.


"Wajahnya memang sama Bi," Aish mengusap belakang Geo yang tadi kena pukulan sapu.


Sementara Geo yang membenamkan kepala di perut Aish tertawa geli.


"Kenapa?" Perempuan paruh baya itu masih belum mengerti. Menarik wajah Geo dan mengamatinya sekali lagi.


Aish memang tidak pernah bercerita kalau suaminya itu kembar. Tidak pernah juga menunjukkan fotonya. Tentu saja karena Aish tidak punya foto suaminya sendiri.


"Mereka kembar Bibi," perempuan hamil itu sampai geleng-geleng kepala. 


"Mas!!" Pekik Aish karena Geo yang masuk dalam dasternya dan menciumi di perut tanpa penghalang apapun, membuatnya kegelian.


Sekarang pelayan itu yang menggeleng malu. Meninggalkan kamar majikannya, membiarkan pasangan suami istri itu melepaskan kangen dan bermesraan. 

__ADS_1


__ADS_2