
"Mau sarapan?" Abi Zayid bertanya saat melihat putrinya ikut ke meja makan. Bukan tanpa alasan ia bertanya seperti itu di depan menantunya.
"Cuma menemani kalian Bi." Jawabnya diikuti gelengan kepala kemudian mengambilkan nasi untuk Abi dan suaminya.
Aish menghentikan gerakannya mengambil nasi ketika tersadar belum tahu kebiasaan sang suami sarapan menggunakan apa.
"Mas mau sarapan roti atau nasi?" Tanyanya menoleh ke arah Geo yang duduk di sampingnya. Hal sesederhana itu saja dia masih belum tahu tentang suaminya.
"Sembarang aja, aku bisa makan semuanya." Geo mengambil piring yang masih berada di tangan Aish. "Kenapa cuma dua?"
"Aku gak sarapan, kamu sama Abi aja yang sarapan Mas." Ujarnya memberikan piring berisi nasi pada sang Abi.
"Aish gak bisa sarapan, kamu makan aja gak perlu nungguin dia." Beritahu Abi Zayid pada sang menantu.
Geo melirik ke arah istrinya untuk memastikan, wanita itu mengangguk kecil membenarkan ucapan Abi.
Jadilah Aish hanya menunggui kedua prianya makan. Biasanya juga seperti itu, menyiapkan dan menemani Abi sarapan tapi dia sendiri tidak makan.
"Abi mau ke pesantren sekarang, kamu lanjutin makannya ya Nak." Abi Zayid berujar pada Geo. Makan dengan cepat, sengaja memberikan waktu pada anak dan menantunya untuk berduaan.
__ADS_1
"Kok buru-buru Bi, ini masih pagi. Abi harus jaga kesehatan loh, jangan sampai kecapean." Bukan Aish yang menegur tapi Geo.
"Abi sudah ada janji sama para pengasuh santri Nak," sahut Abi Zayid. Geo tidak bisa melarang kalau jawabannya seperti itu hanya mengangguk tanda mengerti.
Sepeninggal Abi, Geo makan sendiri. Ruang makan hening hanya terdengar suara denting sendok dan garpu miliknya. Aish yang duduk di sampingnya pun tidak berbicara apa-apa.
"Ayo sarapan, gak papa sedikit." Ujar Geo tiba-tiba menyodorkan sendok ke depan mulut Aish.
"Aku gak bisa sarapan Mas," tolak Aish dengan gelengan kepala.
"Cobain satu suap ini aja, aaa..." bujuk Geo meminta Aish membuka mulutnya. Wanita itu pun menurut, "makasih ya sudah ngasih aku pahala." Katanya saat menarik sendok keluar dari mulut Aish.
Aish langsung mengernyitkan alis bingung.
"Mas," Aish tersipu malu dibuatnya.
Sulit untuknya tidak jatuh cinta pada Geo. Ada saja hal manis yang dilakukan suaminya ini, membuat Aish selalu merasa berbunga-bunga.
"Enakkan, ayo aku suapi lagi." Geo menyendokkan nasi beserta lauknya ke mulut Aish kembali. Tapi istrinya itu menolak, membekap mulutnya seperti ingin memuntahkan sesuatu.
__ADS_1
"Aku beneran gak bisa sarapan Mas," jujur Aish. Perutnya bergejolak ingin memuntahkan segala isi di dalamnya.
"It's okay," Geo dengan sigap menengadahkan telapak tangannya di depan mulut Aish. Melarang istrinya ke kamar mandi. Ia tidak yakin Aish bisa menahannya sampai ke kamar mandi.
"Mas jijik," Aish yang panik menarik Geo ke wastafel lalu membersihkan tangan suaminya. Sedang si empunya tidak merasa jijik sama sekali.
"Perutnya sudah lebih nyaman?" Tanya Geo tidak mempedulikan Aish yang malah mengkhawatirkan dirinya.
"Sedikit," jawab Aish. Jujur perutnya masih terasa mual.
"Kamu harus biasain sarapan, nanti kalau ada isinya disini gimana hm." Geo mengusap-usap perut Aish lalu membawanya kembali duduk. "Bisanya diisi apa kalau pagi?"
"Cuma minum susu."
"Kalau makan buah gimana?"
"Gak terbiasa Mas. Piringnya aku ambilin yang baru ya, makanannya ganti aja."
"Gak perlu, aku sudah selesai." Geo beranjak mengambilkan air hangat untuk Aish. "Mau aku bikinin salad buah?" Tawarnya.
__ADS_1
"Masih belum bisa diisi Mas, nanti muntah lagi." Aish meminum sedikit air hangat yang diberikan Geo.
"Kita istirahat di kamar aja ya," Geo tidak membantah, menuntun istrinya ke kamar. Mereka sama-sama harus beradaptasi dengan kebiasaan masing-masing.