Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 36


__ADS_3

"Kenapa belum pulang?" Aish bolak-balik menatap jam dinding kemudian beralih pada ponsel. Berulang kali ikut menghitung perubahan pada angka jam digital yang nampak di layar.


Sudah jam sepuluh malam, tapi Geo belum juga kembali ke rumahnya. Bagaimana nanti ia menjelaskan pada Abi kalau suaminya belumlah juga pulang. Dan Aish tidak tahu kemana perginya Geo.


Tadi saat makan malam Aish beralasan Geo sedang pulang mengambil pakaian ganti ketika Abi menanyakan keberadaan sang suami. Nomor ponsel Geo pun Aish tidak punya, jadi tidak bisa menghubunginya.


Sejak sholat magrib tadi ia menunggu, berharap bisa sholat bersama. Namun Geo tidak juga menampakkan batang hidungnya.


"Belum tidur?"


Suara dari pria yang sedang ditunggu mengagetkan perempuan yang sedang mengetuk-ngetuk layar ponsel sambil bergumam sendiri.


"Eh, belum." Jawab Aish gelagapan seperti sedang ketahuan mencuri. Bergegas bangun lalu mengambil tangan Geo untuk menyalaminya.


"Mas sudah makan?" Tanyanya, sebenarnya bukan itu pertanyaan yang ingin Aish ajukan. Tapi karena tidak ingin membuat Geo merasa terganggu, ia mengurungkan berbagai pertanyaan yang ada dalam kepalanya.


"Sudah. Tidur sana, jangan begadang." Titah Geo seraya melepaskan jaket. Ia sudah berganti dengan kaos oblong yang dilapisi jaket, tidak seperti berangkat tadi menggunakan jas lengkap.

__ADS_1


"Iya," jawab Aish bingung harus bicara apalagi.


Hatinya masih bertanya-tanya, Geo baru pulang dari mana. Pria itu tidak membawa pakaian ganti selain yang dikenakannya. Kalau pulang ke rumah orang tuanya, kenapa Geo tidak membawa serta dirinya dan mengenalkannya lebih dekat pada keluarganya.


Saat bertemu dengannya setelah akad pagi tadi mama mertuanya lebih antusias bertemu Geo dibanding dirinya.


"Nungguin mau diajak malam pertama hm," ujar Geo bicara tanpa basa-basi membuat Aish menunduk malu.


Perempuan itu menggeleng pelan, kembali ke tempat tidur. "Tadi bingung aja jelasin sama Abi kalau Mas gak pulang, jadi kepikiran." Jawab Aish merebahkan badannya kemudian menarik selimut.


Aish masih canggung melepaskan hijab di depan Geo. Jadi dia masih menggunakan hijab terusan di dalam kamar.


"Iya Mas," Aish tidak membantah memejamkan matanya. Walau sebenarnya tidak mengantuk dan matanya enggan terpejam tapi Aish tetap pura-pura tidur.


Lama tidak ada suara, Aish membuka mata dan melirik Geo yang tertidur di sofa. Ia dibuat jadi serba salah. Ingin membangunkan, tapi khawatir mengganggu. Kalau dibiarkan kasihan badannya sakit semua. Ia bangun dan menyelimuti Geo yang tidur dengan posisi duduk.


"Kamu sebenarnya siapa sih, aku mau nyari tahu banyak tentang kamu tapi takut. Diam aja bikin penasaran," Aish berjongkok menatap wajah Geo yang semakin tampan kalau sedang tidur. Menyematkan kata tampan dalam pikirannya membuat jantung Aish berdetak tidak karuan.

__ADS_1


Karena tidak enak membiarkan sang suami tidur di sofa sendirian jadilah Aish juga mengambil posisi tidur disana. Walau badannya tidak terbiasa tidur dengan posisi duduk.


Matanya yang tadi enggan terpejam secara perlahan tertidur karena tak kuasa menahan kantuk. Sampai kepalanya miring ke kanan, tanpa sadar menjadikan bahu Geo sebagai sandaran.


Geo menggerakkan bahunya yang terasa berat dan kebas. Matanya terbuka seketika tahu penyebab bahunya berat sebelah.


"Kenapa ikut tidur disini?" Gumamnya pelan dengan suara serak mengusap-usap puncak kepala Aish. Beberapa menit Geo mengumpulkan nyawa sebelum memindahkan Aish ke tempat tidur.


"Mas," Aish membuka mata dan terkejut tubuhnya berada dalam gendongan Geo. Wajah Geo begitu dekat dengan tangan masih menyangga tengkuk dan lututnya.


"Aku menyuruhmu tidur disini, bukan tidur di sofa." Ucap Geo dengan nada tegas, menurunkan Aish di tempat tidur.


"Maaf sudah menyusahkan kamu Mas."


"Kalau tahu nyusahin orang, nurut makanya." Gemas Geo mencubit hidung Aish sebelum beranjak.


"Aku takut Allah gak ridho kalau biarin kamu tidur di sofa sendirian," Aish berucap pelan.

__ADS_1


Geo mendengus kecil, kalimat itu membuatnya membaringkan tubuh yang lelah di tempat tidur samping Aish. Sulit matanya untuk kembali terpejam, yang ada dalam angannya hidup bersama Ara hingga menua. Namun kenyataannya wanita lain yang sedang berbaring di sampingnya.


__ADS_2