Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 52


__ADS_3

Geo membawa Aish pulang setelah terjadi ketegangan kembali antara dirinya dan mama. Lagi-lagi perempuan yang telah melahirkannya itu membuat ulah dan meneriaki Aish dengan kata-kata yang tak pantas.


Pria itu menatap lekat istrinya yang sudah tertidur. Ia enggan beranjak ke kamar, setiap melihat wajah Aish perasaan bersalahnya selalu mencuat ke permukaan.


Istrinya tidur dengan gelisah, Geo menduga karena rasa nyeri di tangannya.


"Aish, tangannya sakit?" Tanya Geo lembut seraya melabuhkan kecupan di kening Aish. Tentu saja istrinya itu tidak menyahut karena sedang tidur.


"Sakit," gumam Aish dengan mata yang masih terpejam. Entah sadar atau tidak saat mengucapkannya.


"Besok pasti sembuh," Geo menganggkat tangan Aish dan meniup-niupnya seperti sedang membujuk anak kecil.


🍃


Sebelum adzan subuh berkumandang Geo membangunkan Aish yang masih terlelap. Saking nyamannya tidur sambil dipeluk membuat Aish lupa untuk bangun.


"Aish," panggil Geo. Mengelus-eluskan punggung tangannya di pipi sang istri.


Wanita yang masih terbungkus selimut itu menggeliat, perlahan membuka kelopak matanya. Saat matanya terbuka sempurna, sang suami sudah menyambutnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Mas, kamu tidur disini?" Tanya Aish terkejut.


"Kalau bukan aku yang tidur disini, lalu siapa yang tidur meluk kamu tadi, hm." Geo mengulum senyum melihat Aish yang salah tingkah.


"Kamu tidur?"


"Enggak, aku ngelonin kamu." Sahut Geo tertawa geli, wajah istrinya itu seketika manyun mendengar jawaban darinya.


"Mass," rengek Aish menunduk malu. Menyembunyikan wajahnya yang merona merah.


"Iya Umma. Hm, mau apa? Papa mau sholat subuh dulu." Goda Geo sembari mengusap perut Aish. Membuat istrinya semakin tersipu malu. Rona wajah malu-malu Aish sangat menggemaskan di mata Geo.


🍃


Kalau diawal pindah rumah Aish bisa menolak dicarikan Geo asisten rumah tangga selain Bi Siti. Namun kali ini ia tidak bisa menolak lagi. Tangannya yang masih terbalut perban membuat pergerakannya terbatas untuk melakukan pekerjaan rumah.


"Iya Mas," Aish mengangguk saja tidak melakukan penolakan lagi.


"Aku tinggal kerja jangan capek-capek, tangannya juga jangan dipaksa ngerjain yang aneh-aneh." Pesan Geo sebelum berangkat ke kantor. Entah apa definisi aneh-aneh versi Geo.

__ADS_1


Aish mengiyakan dengan senyuman, suaminya itu terlalu berlebihan mengkhawatirkan dirinya.


"Jangan iya-iya aja, tapi didengerin." Omel Geo, menjepit gemas hidung sang istri.


"Iya Mas, iya." Aish menganggukkan kepala. Semakin kesini perhatian Geo semakin bertambah untuknya. Membuat Aish merasa seperti benar-benar dicintai.


Kali ini saja Aish ingin menutup mata dan egois dengan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan Geo. Ia ingin dicintai selayaknya, tanpa tersisihkan oleh perempuan lain.


Namun lagi-lagi Aish tak punya tempat untuk itu. Ia layaknya sebuah halte yang hanya dijadikan tempat untuk singgah, bukan menetap.


"Melamun, mikirin apa lagi?" Tangan Geo, sudah terulur untuk menepuk puncak kepala Aish. Tentu saja ia tahu apa yang menjadi beban pikiran istrinya ini.


"Aku gak melamun Mas," Aish membela diri diikuti cengiran lebar. "Sana gih berangkat, cari uang yang banyak."


"Jadi aku diusir nih, gak mau minta peluk atau cium dulu." Geo semakin usil menggoda istrinya. Semua itu ia lakukan agar Aish tidak merasa terabaikan.


"Enggak."


"Tapi aku mau," tanpa aba-aba Geo menarik sang istri dalam pelukan. Dalam hatinya meratap, kenapa sesulit ini melupakan Ara sampai ia tidak bisa mencintai istrinya sendiri.

__ADS_1


Sementara Aish yang berada dalam pelukan Geo menghela napas pelan. Menikmati setiap perhatian yang Geo berikan. Sungguh ia sangat takut kehilangan semua rasa nyaman ini.


__ADS_2