Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 47


__ADS_3

Seperti keinginannya, Geo membawa Aish pulang ke apartemen malam ini setelah meminta izin pada sang mertua.


"Ini apartemen siapa Mas?" Tanya Aish takjub saat menginjakkan kaki pada marmer berjenis imperial beige buatan Turki.


Mengikuti Geo masuk ke dalam apartemen mewah yang tak berpenghuni itu. Sangat sayang apartemen dengan fasilitas lengkap dan mewah ini tidak dihuni. Kitchen equipment nya saja merupakan produk Miele yang didatangkan dari Jerman.


"Apartemen kita," Geo membuka pintu kamar utama mengajak Aish untuk masuk. "Kita menginap disini malam ini ya," bukan persetujuan tapi sebuah pemberitahuan.


Aish hanya mengangguk kecil, netranya menemukan sebuah bingkai foto perempuan di atas nakas. Tangannya terulur untuk mengambil foto itu namun lebih dulu direbut oleh Geo.


Huhh!! Hanya memikirkan suaminya masih memuja perempuan lain saja hatinya kembali berdenyut nyeri. Seakan ditikam dengan sengaja.


Ya, sama saja Aish melukai dirinya sendiri dengan bertahan menjadi istri Geo. Mungkin karena hal ini jugalah orang bijak pernah berkata, jangan menikahi seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya.


"Maaf aku lupa membuangnya," Geo menyimpan foto yang diambilnya dari Aish ke atas lemari.


Aish menanggapi dengan senyuman, protesnya tidak berguna juga. Yang bisa dilakukannya hanya diam dan bersikap sesantainya. Melayani suami dengan baik, sudah itu saja. Selebihnya masalah perasaan, ia tidak bisa berharap banyak pada Geo.


"I'm sorry," ulang Geo membawa Aish duduk di sisinya. Gara-gara mendengar suara Ara tadi hatinya langsung kacau. Melupakan kalau di apartemen banyak hal yang menyangkut Ara belum ia bereskan.


"Gak perlu minta maaf Mas," lagi-lagi Aish tersenyum. Namun Geo bisa membaca raut terluka istrinya itu.


"Maaf ya, aku belum sempat beresin semua yang berkaitan dengannya disini." Bukan belum sempat, hanya saja Geo enggan membuang segala hal yang berkaitan dengan Ara.


"Iya," jawab Aish pelan kemudian terdiam kembali. Hanya pikirannya yang sibuk bercengkrama, membuat kepalanya terasa penuh.


"Aish," panggil Geo setelah beberapa saat mereka saling diam dalam keheningan malam.

__ADS_1


"Iya Mas."


"Marah?" Tanya Geo, tangannya sudah terulur mengelus puncak kepala Aish. Tentu saja ia sangat tahu apa yang bisa membuat wanitanya ini jinak.


"Aku harus marah untuk hal apa?" Jawab Aish dengan kepala menunduk. Tersenyum mengejek pada dirinya sendiri. Sungguh kemarahannya tidaklah penting dalam hubungan yang saling menguntungkan ini.


"Kamu boleh marah, luapin semuanya ke aku, jangan dipendam. Maafkan aku yang tidak sempurna ini, aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Maaf ya, kalau akhirnya keputusanku yang aku pilih ini malah membuat kamu terluka." Tutur Geo menarik Aish dalam pelukan, bukan Aish yang harus membalas semua patah hatinya ini. Tidak seharusnya ia menduakan wanita yang sudah menjadi istrinya walau hanya di hati.


"Aku gak bisa apa-apa kan Mas selain menjalani semua ini," lirih Aish dengan suara bergetar. Marah, ya dia marah dengan keadaan. Marah dengan hatinya yang terlalu cepat jatuh cinta hingga membuatnya ingin memiliki Geo secara utuh.


Kepasrahan Aish itu membuat Geo semakin merasa bersalah. "Aku pengen menghapuskan namanya segera, kamu mau bantu?"


"Aku gak bisa bantu apa-apa Mas, hati, perasaan dan pikiran itu milikmu. Cuma kamu yang bisa mengatasinya sendiri."


"Tapi hati aku butuh kamu untuk menggantikan posisinya disini," Geo membawa tangan Aish ke dadanya. "Aku gak mau kamu sedih, aku gak mau Allah malah marah sama aku karena sudah membuat bidadariku ini sedih."


Geo melepaskan jilbab Aish yang kembali diam. Mau berkata-kata seperti apapun tidak akan bisa membuat suasana hati istrinya ini baik-baik saja.


Perlahan Geo mencumbu Aish, istrinya itu tidak melakukan penolakan. Namun tidak juga menyambutnya dengan antusias. "Boleh gak, kalau gak boleh kita istirahat aja."


Hanya anggukan kecil yang menjadi jawaban dari Aish.


🍃


Aish membalikkan badan membelakangi Geo. Setelah melakukan olahraga malam yang membuat mereka berkeringat, sang suami tertidur pulas. Sedang Aish tak bisa sekejap pun terlelap.


Dalam tidurnya Geo kembali menggumamkan nama Ara, itulah penyebab Aish tidak bisa terpejam. Lagi-lagi Aish hanya bisa menghela napas berat. Tidurnya dengan siapa, tapi nama yang diingat malah perempuan lain. Ingin marah, tapi Geo pasti hanya menanggapinya dengan permintaan maaf.

__ADS_1


Dengan pakaian lengkap Aish keluar kamar untuk mengambil air putih. Setelah minum ia tidak langsung kembali ke kamar, duduk melamun di mini bar.


Aish sungguh merasa takut kalau nanti memiliki anak dan Geo tidak menyayangi anaknya. Atau bagaimana nanti kalau anaknya tahu jika ayahnya malah mencintai wanita lain.


Lama Aish termenung sampai kantuk datang menyerangnya. Ia menelungkupkan wajah di mini bar kemudian tertidur.


"Aish," kaget Geo menemukan istrinya tertidur di kursi. Tubuh itu semakin menempel ke meja karena kedinginan.


"Mas," Aish terbangun mendengar namanya disebutkan. Ah, dia jadi teringat lagi bagaimana Geo memanggil nama mantan kekasihnya tadi.


"Kenapa tidur disini, badanmu itu masih sakit jadi tambah sakit kalau tidur disini. Ayo ke kamar," tanpa persetujuan Geo menuntun Aish ke kamar.


"Masih lebih sakitan hatiku yang mendengar nama perempuan lain kamu sebutkan," gumam Aish yang hanya dikatakannya dalam hati.


"Aku mau ke kamar mandi dulu," izin Aish setelah sampai di kamar.


"Jangan sampai tidur di kamar mandi juga," peringat Geo dengan nada bercanda.


Huuhh!! Geo mengusap wajah gusar. Dia tadi terbangun saat bermimpi ditinggalkan Ara, sampai membuatnya berteriak marah dan terbangun. Mungkin saat tidur ia juga kembali menyebut nama Ara seperti kemarin, makanya Aish lebih memilih tidur di luar.


"Dinginkan tidur di pantry," Geo menyambut Aish yang baru merebahkan badan di tempat tidur dan menyelimutinya. Tak lupa memeluk istrinya itu dari luar selimut.


"Kalau kamu gak nyaman tidur sama aku gak papa, aku bisa tidur di kamar lain. Jangan sakiti badan kamu kayak tadi lagi, tidur sambil duduk." Ucap Geo pada Aish yang memalingkan wajah darinya.


Aish tidak mau menjawab, matanya pun enggan terpejam kembali.


"Mau tidur aku peluk atau aku tidur diluar, kamu nyamannya yang mana?" Geo tetap sabar menghadapi Aish karena sadar ini salahnya.

__ADS_1


Aish masih tidak memberikan jawaban membuat Geo bangun dengan helaan napas panjang. Ia tidak keluar kamar tapi tidur di sofa.


__ADS_2