Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 60


__ADS_3

Dengan dada yang masih berdebar Geo mengambil ponsel dan langsung menghubungi istrinya. Hal yang pertama harus ia lakukan adalah mengucapkan terima kasih, agar si ibu hamil merasa bahagia sudah bersusah payah menyiapkan makan siang untuknya.


“Terima kasih makan siangnya Umma,” pria itu menikmati makan siang sambil melakukan panggilan telepon.


Rasa masakan itu tidak seperti biasanya. Bukan masakan Bi Siti ataupun Aish yang dikenalnya, rasanya lebih enak.


“Makan siang?” Aish bertanya dengan satu kening berkerut.


Luka di tangannya baru mulai mengering, sekarang yang sedang dilakukannya memeriksa kulkas karena persediaan makanan mereka menipis. Dan tentulah Aish tidak memasak siang ini, begitu juga Bi Siti. Setahu Aish Mbak Rena sedang bersih-bersih di halaman belakang.


“Iya, Umma yang menyuruh pelayan baru itu mengantar makan siangkan? Masa Umma sudah lupa hm,” ujar Geo bercanda.


"Makanannya enak, Umma dapat resep dari mana?" Lanjutnya bersemangat.


"Aku gak ada kirim makan siang buat kamu Mas. Ini kulkas juga kosong, aku belum belanja. Bahan makanan sudah habis semua," Aish memberikan penjelasan.


Di seberang sana Geo meneguk ludah kasar, meletakkan sendok di tangannya. Pantas saja rasa masakannya tidak biasa. Pikirannya langsung berkecamuk, siapa sebenarnya yang sudah mengirim wanita itu ke rumahnya.


"Mas," panggil Aish pada suaminya yang tidak menyahut.

__ADS_1


"Iya Umma," sahut Geo.


Ada perasaan tidak tenang menghinggapinya. Khawatir istrinya itu kenapa-kenapa bersama orang yang dicurigai.


"Umma hati-hati ya, diam di kamar aja sampai Mas pulang."


"Mas, aku cuma di rumah gak kemana-mana." Sela Aish cepat, bosan kalau harus diam di kamar seharian.


"Iya, aku cuma mau bilang hati-hati. Jalan naik tangganya juga hati-hati, hm. Kalau perlu nanti aku bikinin lift," ujar Geo bercanda. Padahal hatinya sedang dilanda kecemasan.


"Aku bukan anak kecil Mas," sungut Aish. Suaminya itu sudah mulai posesif, padahal baru beberapa hari dapat kabar kehamilannya.


"Tapi kamu bawa anak kecil Umma. Kecil banget malahan, aku gak bisa pulang sekarang. Tunggu Mas pulang ya."


"Jangan!" Sergah Geo cepat.


"Kenapa?"


"Kita belanja sama-sama nanti, oke."

__ADS_1


"Iya-iya, terserah Mas aja," ujar Aish pasrah.


"Doain Papa ya kerjaannya hari ini lancar biar cepat pulang."


"Iya Papanya anak-anak, selalu didoakan." Sahut Aish dengan kekehan.


Diseberang sana Geo ikut terkekeh, pria itu menutup semua makanan setelah sambungan teleponnya selesai. Tidak ada reaksi apa-apa, dia juga tidak sakit perut atau keracunan. Berarti makanan itu aman, hanya saja apa motif perempuan itu sampai berani mengantar makanan ke kantornya tanpa disuruh.


Sementara itu Aish menyusul Rena ke halaman belakang. Namun orang yang dicarinya tidak ada di sana, ternyata perempuan itu sedang membersihkan kolam renang. Sangat tidak mungkin kalau wanita itu baru pulang dari kantor suaminya. Karena pakaiannya yang kotor dan basah tidak mendukung semua itu.


"Nyonya perlu sesuatu?" Tanya Rena pada majikannya yang datang mendekat.


"Enggak," Aish menggelengkan kepala diikuti senyuman. "Mbak tadi ke kantor Mas Geo?" Tanyanya.


"Oh itu, iya Nyonya. Maaf ya gak bilang dulu. Biasanya kan Nyonya kirim makan siang untuk Tuan. Karena bahan makanan di rumah kita habis, jadi saya belikan saja." Jelas Rena tanpa melepaskan jaring yang digunakannya untuk membersihkan kolam.


"Makasih ya Mbak, saya gak kepikiran sampai ke sana."


"Sudah seharusnya Nyonya, sayakan kerja dibayar." Perempuan itu dengan tersenyum tulus membersihkan kolam renang kembali.

__ADS_1


Aish bisa bernapas lega, tidak perlu mencurigai asisten rumah tangganya itu. Ia berpamitan pada Rena untuk kembali ke kamar sesuai perintah sang suami. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan yang sedang hamil muda itu terpeleset.


"Astaghfirullah!!!" Pekiknya, refleks langsung memegangi perut. Kandungannya masih lemah, sangat rawan keguguran.


__ADS_2