
"Mas sakiiittt!!" Pekik Aish sampai meneteskan air mata.
Tangannya mencengkram punggung Geo dengan kuku menancap di sana, tidak peduli kalau punggung sang suami akan berdarah karenanya.
Ia pikir melakukan hubungan suami istri memang sesakit ini saat pertama kali. Tapi kenyataannya Geo-lah yang melakukannya dengan kasar.
Geo selama satu minggu ini membiasakan Aish untuk menerima sentuhannya saat tengah haid. Kini langsung menerjang kala sang istri memberitahu sudah bersih.
Geo marah pada dirinya sendiri. Karena tidak bisa menghilangkan bayangan Ara yang mengganggunya. Sehingga tanpa sadar membuatnya menyentak Aish dengan kasar. Padahal ini pertama untuk istrinya pasti sangat sakit. Ia hanya tidak ingin berfantasi dengan wanita lain saat mendatangi istrinya. Tapi sungguh, Ara sangat susah Geo hilangkan dari kepala.
"Maaf, aku pelan-pelan ya." Geo tidak bergerak agar Aish tidak semakin kesakitan. Mengecup mata sang istri yang basah. Ia tidak ingin Aish mengalami trauma kembali dan ketakutan saat disentuh. Sudah susah payah ia membuat Aish nyaman dengannya.
Aish menganggukkan kepala, sangat yakin kalau pertama kali memang sesakit ini. Karena setelahnya ia mulai menerima perasaan yang lain saat Geo melakukannya dengan lembut.
"Sakit banget ya?" Geo memeluk Aish, mereka sama-sama dibasahi keringat setelah selesai melakukan penyatuan. Begitulah pria, dengan cinta atau tidak mereka tetap bisa menyentuh wanita, jangan ditanya hatinya untuk siapa.
"Banget," Aish menyentuh bagian intinya dan Geo refleks mengikuti gerakan sang istri mengusapnya lembut disana. Bukan menghilangkan rasa sakit, malah membuat Aish menegang kembali.
"Mau lagi ya?" Geo menggoda sambil mengecup pipi Aish.
Bagaimana rasanya kalau ia melakukan dengan Ara, mencurahkan seluruh rasa cintanya saat melakukan penyatuan. Geo segera beristighfar setiap kali bisikan setan mendatanginya untuk membayangkan Ara, sedang yang ada di hadapannya sang istri.
"Mas apaan sih masih sakit. Ini beneran gak papa?" Aish mengusap dada lebar Geo yang masih polos.
"Kenapa malah nanyain itu sih, kan kamu yang sakit. Aku gak suka ya kamu nanya-nanya gitu saat kita lagi bikin cucu Abi." Lagi-lagi Geo membenamkan wajahnya di dada Aish. Merasakan hangat dengan apitan dua gunung kembar. Harusnya Aish yang bermanja dengannya, ini malah sebaliknya.
__ADS_1
Aish tahu, setiap kali bermesraan dengannya Geo terlihat gusar. Suaminya itu terpaksa bersikap mesra padanya dan sudah pasti itu sangat menyiksa.
"Aku gak mau egois Mas, kamu bikin aku nyaman. Kamu memenuhi semua hakku, tapi dengan mengorbankan dirimu sendiri."
"Sstt, diam kalau gak mau aku buat diam dengan cara lain." Bukan marah, tapi Geo tersenyum menggoda memainkan kedua benda yang ditangkupnya.
"Ini yang akan jadi sumber kehidupan anak-anakku nanti ya. Ah gak rela kalau aku gak kebagian lagi." Geo mengalihkan perhatian Aish dengan kemesumannya.
Ya setelah satu minggu bersama, Aish sudah terbiasa dengan kemesuman suaminya ini.
Mereka masih tinggal di rumah Abi, Geo masih sibuk dengan pekerjaannya jadi belum bisa pindah rumah. Dan juga belum mendapatkan asisten rumah tangga yang sesuai untuk menemani Aish. Karena bibi yang menjaga rumahnya biasa pulang pergi, tidak menginap. Geo tidak ingin istrinya kesepian di rumah saat ia tidak ada.
"Mas mesum terus ih."
"Bersihkan dulu gih, wudhu, baca doa lalu tidur." Geo mengingatkan Aish karena ini sudah hampir tengah malam.
"Males jalan, sakiit." Rengek Aish mulai manja dan Geo semakin suka itu. Dia semakin melihat Ara dalam diri istrinya.
"Ya udah sini aku yang bersihin," Geo menekuk kaki Aish pelan. Lalu membukanya, membuat si empunya melotot.
"Mas apa-apan sih malu," Aish memukul Geo yang ingin masuk dalam selimutnya.
"Astaghfirullah KDRT lagi, aku kan mau bersihin dengan caraku sendiri. Gak baik dengan tissue," kilahnya dengan wajah jenaka.
Ucapan Geo membuat Aish bergidik ngeri saat tahu pikiran sang suami.
__ADS_1
"Enggak, aku mau ke kamar mandi aja." Aish menyingkir dari Geo, membuat pria itu tertawa gelak.
Entah kepribadian mana lagi yang belum Aish tahu dari suaminya. Saat bersamanya pria itu terlihat lebih bersahabat tidak dingin seperti dulu lagi.
"Aauuww!!" Aish terpekik merasakan sakit di pangkal pahanya saat menurunkan satu kaki dari tempat tidur.
"Sakit?" Geo langsung bangkit mendekati sang istri.
"Lumayan kaget," Aish menunduk malu mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya.
"Gak mau minta tolong buat digendong hm?" Geo tidak membantu tapi malah menggoda istrinya.
Maunya Geo Aish bersikap terbuka padanya, tidak menyembunyikan diri yang sesungguhnya. Yang ia lihat selama ini Aish selalu terlihat anggun, lemah lembut, penurut. Ia ingin mengeluarkan sisi cerewet khas perempuan dari istrinya ini.
"Bisa sendiri Mas," Aish meloloskan kedua kakinya ke lantai. Melangkahkan kaki dengan pelan, sungguh rasanya sangat mengganggu.
Geo yang gemas melihat cara jalan istrinya langsung menggendongnya ke kamar mandi. Mereka tidak akan istirahat kalau dia terus menggoda istrinya ini.
"Mass!!" Pekik Aish kaget karena tubuhnya melayang di udara.
"Sstt, Abi nanti kebangun kalau kamu teriak-teriak." Ujar Geo menurunkan Aish di kamar mandi dan dengan sengaja menarik selimut dari tubuhnya.
"Mass keluar!!" Aish semakin terpekik karena perbuatan Geo. Cepat mendorong tubuh sang suami lalu menutup pintu dengan kasar.
Diluar Geo tertawa gelak, puas menjahili istrinya. Hal yang tidak pernah ia lakukan pada orang lain, dengan Ara pun tidak seperti itu. Karena pertemuan mereka yang terbatas waktu.
__ADS_1