Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 22


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Aish menangis dalam pelukan Abi. Dunianya terasa runtuh, tidak pernah ia menjalani hidup sekacau ini setelah kepergian sang ummi.


Aish tahu, Adam terus menatapnya dari kaca spion dengan tatapan sendu. Membuatnya tidak berani mengangkat wajah. Ia sudah tidak punya harga diri di hadapan pria itu. Harusnya ia bisa menjaga diri dengan baik, namun kini tubuhnya sudah terlihat oleh pria lain.


"Dimana Allah saat Aish ketakutan Bi, kenapa Allah biarkan Aish sendirian!" Tanya Aish dengan nada putus asa. 


"Nak," pria itu menggeleng pelan, tidak setuju dengan pemikiran sang putri.


"Jangan menyalahkan Allah atas apa yang terjadi hari ini. Masih banyak karunia Allah yang patut kamu syukuri, termasuk bersama Abi disini," ucapnya sambil menguatkan pelukan.


“Segala takdir Allah itu baik, hanya saja kadang menyakitkan untuk kita jalani.” Lanjut Abi Zayid dengan mata memerah.


Dia bisa berbicara seperti itu karena tidak tahu seberat apa hari yang dilalui putrinya hari ini. Sangat sadar kalau ucapannya hanyalah sekedar kata untuk menguatkan anak gadisnya.


"Astaghfirullahaladzim," Aish menggumamkan istighfar berkali-kali dengan bibir bergetar. Kenapa pikirannya sangat lancang menyalahkan Allah atas takdir buruk yang diterimanya. Tidak seharusnya ia meratap seperti ini, masih ada Abi disisinya.


Geo merasakan lidahnya kelu, tangannya mencengkram kuat kemudi. Ia marah, malu dan benci dengan apa yang Leo lakukan. Kalau ingin membuatnya menderita, kenapa harus menyakiti orang yang tidak bersalah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Aish langsung masuk ke kamar. Tujuan utamanya kamar mandi, mengguyur tubuhnya yang kotor. Ia terduduk di bawah shower sambil memeluk lutut yang bergetar. Suara tangisnya terserbu oleh suara kucuran air.


Bayangan pria yang menarik paksa jilbab dan merobek gamisnya berputar di kepala. Pria yang dianggapnya murid Abi itu mendekat dan memaksanya melakukan perbuatan laknat. Aish mengkerut ketakutan, berlari ke sudut ruangan untuk menghindar. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan lagi.


"Kamu cantik kalau tubuh indahmu ini tidak disembunyikan," Leo semakin mendekati Aish. Membayangkan bagaimana nikmatnya berbagi saliva dengan bibir ranum perempuan itu. Melepaskan dahaga di atas tubuh nan molek dan indahnya.


"Jangan mendekat!!" Aish berteriak ketakutan. Dia sudah terpojok tidak bisa menghindar lagi, Leo mengurungnya dengan kedua tangan menempel ke tembok.


"Kamu cukup diam, biar aku yang bekerja." Leo menyeringai tipis, menghirup dalam aroma rambut Aish yang membuatnya semakin gila.


"Pergi!!" Aish mendorong tubuh pria itu namun tidak berpengaruh apa-apa. Untuk tetap berdiri saja dia susah payah. Bagaimana bisa dia memiliki tenaga untuk mengusir pria bertubuh kekar di depannya.


"Sstt, jangan berisik. Nikmati saja," Leo memangkas jarak. Meskipun bibirnya sakit dan kepalanya masih terasa nyeri, namun tidak membuatnya melepaskan Aish begitu saja.


"Aaarrgghhh!!" Teriak Aish semakin jijik pada dirinya sendiri. Mengingat bagaimana pria itu menyusupkan tangan pada mahkotanya yang paling berharga. Kakinya sampai lemas karena perbuatan bejat pria itu dan membuatnya semakin terpojok.


"Aaarrgghh!!" Aish melempar benda apapun yang ada di kamar mandi. Perempuan itu masih menggunakan baju koko milik Geo dan sorban Abi. Ia tidak dapat berpikir kenapa orang yang berwajah sama datang bersama Abi.

__ADS_1


Seharusnya pria itu memiliki luka di kepala dan bibirnya kalau memang orang yang sama. Namun pria yang datang itu terlihat segar dan sehat. Membuat Aish sadar, mereka memang dua orang berbeda yang memiliki wajah sama.


"Aish!!" Abi Zayid yang mendengar suara berisik di kamar sang putri langsung berlari mendatanginya. Mencari putrinya di kamar namun tidak ada.


Suara gemericik air di kamar mandi mengalihkan perhatian Abi Zayid. Ia nekat masuk karena khawatir terjadi sesuatu pada putrinya.


Mata yang sejak tadi menahan tangis itu menatap pilu putri semata wayangnya yang menangis di bawah kucuran air. Ia lekas mematikan shower lalu mengelumbuni putrinya yang kedinginan dengan handuk lebar.


Tidak ada yang berani masuk ke kamar, semua hanya menunggu di depan pintu dengan wajah cemas dan tegang.


"Bibi, tolong masuk ke dalam. Pastikan mereka baik-baik saja," titah Geo pada pelayan yang ada di rumah itu. Seolah dialah sang pemilik rumah.


Perempuan paruh baya itu mengangguk setuju.


Melihat salah satu pelayan datang, Abi Zayid memintanya untuk membantu mengganti pakaian Aish. Setelahnya ia keluar, pria berumur itu terduduk lemas di sofa dengan bibir yang terus bergerak mengucapkan dzikir untuk menenangkan diri.


Putrinya sedang hancur, maka begitu juga keadaan dirinya sekarang. Ayah mana yang tidak hancur melihat putrinya hancur.

__ADS_1


__ADS_2