
"Aku gak sakit Mas cuma mual dikit," rengek Asih pada Geo yang menuntunnya seperti orang sakit. Suaminya itu dengan hati-hati mendudukkannya di tempat tidur.
"Sstt, lagi belajar ngurus istri yang lagi hamil." Kelakar Geo yang membuat Aish memukul bahunya pelan.
"Baru satu hari nikah sudah KDRT, hm."
"Mas, bisa gak sih jangan bikin aku semakin nyaman sama kamu."
"Kan memang itu tujuan kita, sama-sama merasa nyaman dan membuka diri satu sama lain. Memangnya kamu mau membuat Abi menunggu cucunya semakin lama, hm." Geo berujar lalu duduk di samping Aish setelah membawa kaki sang istri naik ke tempat tidur.
"Kalau aku giniin takut gak," Geo mengusapkan jempolnya ke bibir Aish dengan lembut.
Jujur, bibir ranum itu sangat menggodanya untuk dilahap. Perlu digaris bawahi, dia lelaki normal yang bisa tergoda dengan wanita. Hanya hatinya saja yang masih sulit untuk melepaskan masa lalu.
Aish menganggukkan kepala dengan segala debar di dadanya. "Jantungku berdebar-debar," beritahunya polos. Geo sontak tertawa dan semakin mendekatkan tubuhnya.
"Aku bantu biar terbiasa ya, kalau dirasa takut kamu pegang aku kuat-kuat nanti aku lepasin." Ujar Geo dengan niat terselubung, pikirannya mulai kotor. Kalau tadi malam ia bisa menahan diri agar tidak menyentuh Aish. Tapi pagi ini rasanya Aish sangat menggoda.
"Pelan-pelan aja ya Mas, tangan aku udah gemetar nih."
"Aku gak masukin sekarang kok," Geo malah menjadikannya candaan membuat Aish semakin tersipu malu.
"Tangannya pegang disini," katanya membawa tangan Aish melingkar di lehernya.
__ADS_1
Perlahan Geo mendekati wajah Aish, wajah itu sudah tegang dan waspada padanya. Ia tidak langsung menyasar bibir Aish, tapi mengusap punggung sang istri terlebih dulu agar tenang.
Setelah ketegangan di wajah Aish mulai memudar Geo mengecupnya di pipi. "Kamu ikuti aku ya, kalau gak suka cubit aja." Geo mengingatkan kembali dan Aish mengangguk. Tidak bisa menjawab karena napasnya tersendat-sendat. Wajah Geo yang sangat dekat membuatnya kekurangan pasokan oksigen.
Sebelum memulai Geo mengusap bibir Aish dengan jempolnya kembali lalu menempelkan bibir mereka.
Aish tidak menolak atau mendorongnya. Tapi wanita itu terdiam kaku tidak bergerak. Dengan lembut Geo menyesapnya pelan, dan Aish tidak memberikan respon apa-apa.
Mendapati Aish tidak memberontak itu suatu hal yang bagus. Geo menekan tengkuk Aish agar semakin mendekat kearahnya. Masih belum ada balasan sampai ia memberikan jeda untuk Aish bernapas.
"Sudah biasakan, sekarang kita mulai ya." Geo tidak memberikan kesempatan Aish untuk menjawab. Menyesapnya dengan penuh gairah dan menggigit bibir bawah Aish agar memberinya akses untuknya menjelajah disana.
Perlahan Aish mulai mengikuti gerakan Geo, sedikit kesulitan untuk mengimbangi kelincahan sang suami. Ia dibuat semakin menggila oleh pria yang katanya akan menunggu agar mereka sama-sama nyaman. Nyatanya bisa menciptakan rasa nyaman untuknya secepat ini.
Aish pun tidak masalah, mulai nyaman dengan sentuhan yang Geo berikan. Sentuhan itu benar-benar berbeda dengan sentuhan pria yang membuatnya ketakutan.
"Mas," tahan Aish saat Geo ingin menyasar ke arah inti dirinya.
"Hm," sahut Geo dengan suara serak yang berat. Gairahnya benar-benar sedang berada dipuncak, ingin segera melepaskan keperkasaannya pada tempat yang tepat.
"Mas lupa ya subuh tadi aku haid," beritahu Aish hati-hati. Sebenarnya dia juga sudah dibuat tergila-gila, Geo memperlakukannya dengan lembut dan hati-hati.
Ucapan Aish membuat Geo menarik kepalanya mundur dengan wajah frustasi.
__ADS_1
"Maaf," ucap Aish merasa bersalah. Ia bisa melihat suaminya sudah terbakar gairah.
"Bukan salah kamu," Geo terpaksa menarik sudut bibirnya dan beranjak ke kamar mandi.
"Disini aja," ujar Aish menahan tangan Geo yang mau menuntaskan semuanya sendirian.
"Yakin?"
"Kita harus sama-sama nyamankan." Aish berucap dengan suara bergetar.
Kalau tidak ingat ada penghalang dibawah sana Geo pasti akan menerjang Aish sekarang juga, suka atau tidak suka.
Geo seperti anak kucing bermanja pada Aish setelah wanita itu membantu menuntaskan segala hasratnya. Sisi baru lagi yang Aish temui dari suaminya.
"Bikin nagih ih," lirih Geo membenamkan wajah di dada Aish yang tidak terhalang apa-apa. Menutupi tubuh sang istri dengan selimut sampai ke leher dan dia ikut di dalamnya. Seperti bayi yang sedang diberikan asi Geo tidak mau melepaskan Aish.
"Makasih ya Mas sudah bikin aku gak takut lagi."
"Iya, tapi semua gak gratis harus ada imbalannya." Geo menggigit salah satu squishy milik sang istri membuat Aish terpekik nyaring.
"Nyesel ih gak ku paksa tadi malam," Geo menyembulkan wajah mengecup pipi Aish. Kalau dipuaskan seperti ini, ia pasti bisa jatuh cinta pada Aish dengan mudah.
Namun kenyataannya tidak, setiap kali Geo mendatangi Aish yang ada di kepalanya malah bayangan Ara.
__ADS_1