Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 28


__ADS_3

"Haaarrgh!!" Geo melemparkan ponselnya ke sofa, menghempaskan diri ke kasur sambil memijat pelipis dengan satu tangan.


Ia tidak jadi mengikuti pelajaran fiqih sholat hari ini. Pikirannya sedang kacau, jadi memilih pulang ke apartemen untuk menenangkan diri. Bukannya tenang, pikirannya malah semakin bercabang.


"Bajingan dimana kau!!" Umpatnya, dimana saudara laknatnya itu bersembunyi setelah membuat masalah besar.


"Brengsekk!!" Lagi-lagi bibirnya mengumpat kasar.


Saat ini video Aish dan Leo sedang viral. Mereka terlihat seperti sedang memadu kasih tanpa paksaan. Tubuh Aish tidak telanjang memang, masih terbalut tanktop dan legging panjang. Hanya menampakkan lekuk tubuhnya yang molek. Tapi tetap saja, itu sebuah aib bagi seorang wanita yang sangat menjaga dirinya dari pandangan lelaki.


Ia sudah memerintahkan Pandu untuk mengurus video itu. Namun tidak bisa dihentikan begitu saja. Banyak tangan-tangan usil yang sudah membagikannya, sehingga mereka kesusahan untuk menghentikan penyebaran.


"Nak Geo tidak perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak Nak Geo lakukan. Abi tidak bisa membicarakan masalah itu sekarang." Kalimat yang keluar dari mulut Abi Zayid kembali terngiang di telinganya.


Harusnya Geo bisa bernapas lega karena Abi Zayid tidak meminta pertanggung jawaban darinya. Tapi kenapa dadanya malah terasa sesak. Dia seperti seorang pengecut yang tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Padahal jelas-jelas itu bukan dirinya, kenapa malah dia yang merasa bersalah. Seharusnya dia bisa bersikap tidak peduli, namun nyatanya tidak bisa.


"Aarrggh," Geo menggeram frustasi menarik rambutnya dengan kedua tangan. Lama-lama ia bisa gila karena perbuatan Leo yang selalu membuat hidupnya menderita.


🍃

__ADS_1


"Neng, boleh dong minta kissnya sini." Goda dua orang bapak-bapak yang sedang nongkrong di depan pos kamling.


Aish mempercepat langkahnya, dia sudah gemetaran. Selama satu bulan ini ia mengurung diri di rumah, menghentikan segala kegiatan yang mengharuskannya berbaur dengan banyak orang.


Setelah kabar pernikahannya yang kembali gagal. Dan perihal video itu, para ibu-ibu semakin semangat menggunjingnya. Tidak hanya dari luar pesantren, di wilayah pesantren pun juga.


Bahkan tidak hanya ibu-ibu yang membuatnya tidak nyaman. Godaan seperti bapak-bapak inipun sering ia dapatkan saat keadaan memaksanya harus ke luar rumah.


Seperti sore ini, karena tidak ada yang dimintai tolong ia terpaksa pergi ke minimarket sendiri untuk membeli keperluan perempuan.


"Neng jangan sombong gitu dong, sentuhan saya dijamin tidak kalah enak dari pacar Neng itu." Ujar bapak-bapak yang lain sambil mengerling genit menarik tangan Aish.


"Lepaskan!!" Aish menghempaskan tangan itu, tubuhnya semakin gemetar. Tapi bapak itu semakin menggodanya genit. Dan bapak-bapak yang lain mendekati wajahnya.


Aish langsung mengerjapkan mata melihat pria yang lama tidak muncul di hadapannya. Ia gunakan kesempatan itu untuk menjauhi bapak-bapak tadi. Hatinya semakin cemas karena tidak bisa membedakan mana orang yang baik dan mana yang jahat.


Geo menyingsing tangan kemeja, menunjukkan gelang di tangan saat menyadari Aish ketakutan melihatnya.


"Ada pacarnya ya Neng, gak mau nyoba sama saya biar bisa membandingkan mana yang lebih enak. Saya juga lebih berpengalaman, jadi dijamin bisa memuaskan." Ujar bapak-bapak berkepala botak.

__ADS_1


Bugh!


Tanpa aba-aba Geo melepaskan bogeman setelah menarik Aish ke belakangnya. Membuat bapak berkepala botak itu terhuyung.


"Sekali lagi Anda mengganggunya akan saya pecah kepala botak itu!!" Tegasnya dengan tatapan membunuh, ingin menguliti hidup-hidup kepala botak yang berisi sampah itu. Lalu berbalik menghadap Aish.


"Masuk!" Titahnya tanpa membukakan pintu.


Aish mengangguk kecil, tangannya masih bergetar sampai kesulitan membuka pintu. Geo berdecak pelan membukakan pintu untuk perempuan itu.


"Terima kasih," ucap Aish dengan kepala menunduk saat sudah berhasil duduk di kursi penumpang samping kemudi.


"Jangan lemah dihadapan bajingan-bajingan itu. Angkat kepalamu, tunjukkan kalau kamu tidak lemah dan bukan kamu yang pantas dipersalahkan." Geo mengambil sapu tangan memberikan pada Aish yang berkeringat, ia tidak punya tissue di mobil.


Aish hanya diam tidak menjawab perkataan Geo. Bagaimana bisa mengangkat kepala, sedang wajah pun ia sudah tidak punya di hadapan orang-orang. Semenjak kejadian itu banyak santri dan tenaga pengajar yang berhenti dari pesantrennya satu-persatu. Hingga kini hanya tersisa sedikit, membuat Abi sering sakit-sakitan memikirkan itu.


"Mau langsung pulang atau ada yang dicari lagi?" Tanya Geo mengalihkan pembicaraan.


"Pulang," jawab Aish singkat.

__ADS_1


Geo hanya bisa menghela napas pelan. Ia tahu semua ini sangat berat untuk perempuan itu lalui. Karena tidak mau membuat Abi Zayid dan Aish semakin tersudutkan jugalah, Geo memilih tidak pernah datang ke pesantren lagi. Menyibukkan diri di perusahaan dan mencari bajingan yang sesungguhnya.


Tadi pagi ia baru dapat kabar kalau Abi Zayid sedang sakit. Jadi berniat mengunjunginya, namun malah melihat Aish digoda oleh bapak-bapak brengsek yang tidak ingat umur, anak dan istri.


__ADS_2