
"Abi, biar saya yang menangani Aish. Abi bantu Ustadz Adam membubarkan wali santri saja." Geo terpaksa memberikan perintah seperti itu saat suara lemparan batu terdengar semakin nyaring di atap rumah.
Pria berumur yang tidak kalah lelah darinya itu menyetujui usulnya. Satu tangan Geo masih memegang pinggang Aish. Perempuan itu gemetar saat mendengar keributan di luar sana.
Setelah Abi Zayid meninggalkan mereka, Geo membawa Aish berjalan hati-hati menghindari pecahan kaca yang berserakan. Ia dudukkan perempuan itu ke sisi tempat tidur.
Aish yang tadinya mengamuk tidak bergerak lagi saat ada tangan kekar yang menahan pinggangnya. Ketika amarahnya sedang memuncak seperti ini, sempat-sempatnya jantung yang ia miliki berkhianat dengan berdebar kencang.
"Saya tahu ini sulit buat kamu, tapi jangan melukai diri sendiri." Geo menarik tangan Aish lalu melepaskan perban yang terlihat berdarah. Karena tadi Aish dengan brutal menggenggam apa saja tanpa peduli luka di tangannya.
"Tubuh ini titipan Allah, harus dijagakan." Lanjut Geo mengambil kotak obat yang ia gunakan tadi malam. Benda itu masih berada di atas nakas. Dengan hati-hati dibersihkannya telapak tangan Aish.
Aish mematung di tempat, air matanya sudah berhenti keluar. Hujan sudah reda, entah energi apa yang pria itu miliki sampai bisa membuat dirinya diam tidak bergerak.
"Kamu mau dengar cerita saya?" Tanya Geo tanpa mengalihkan perhatiannya dari luka Aish. Tahu tidak pantas melakukan hal seperti ini pada seorang muslimah. Tapi tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin memanggil dokter saat keadaan masih kacau begini.
Tanpa sadar Aish mengangguk.
"Dulu, ada seorang pria yang dinyatakan meninggal karena disuntik racun oleh saudara kembarnya sendiri." Geo menjeda ucapannya, membersihkan luka di telapak tangan Aish membuat si empunya meringis kesakitan.
"Sakit?" Tanya Geo ketika mendengar ringisan Aish.
Perempuan itu menjawab dengan anggukan. Geo meniup-niup tangannya, namun yang dingin malah hatinya.
__ADS_1
"Tahan sebentar, kalau gak mau sakit ya jangan dilukai."
"Lagi marah, benci, jijik sama diri sendiri." Ungkap Aish lirih, Geo tersenyum tipis karena berhasil membuat perempuan itu mengutarakan perasaannya.
"Marah boleh, tapi jangan menyakiti diri sendiri." Katanya sembari membalut kembali tangan Aish dengan perban yang baru.
"Ceritanya belum selesai," desak Aish penasaran.
"Setelah satu tahun anak muda yang dinyatakan meninggal itu muncul kembali. Bukan hidup lagi, tapi memang belum meninggal."
Aish terus memperhatikan cara Geo membalut lukanya. "Dia menghilang kemana?"
"Dia hampir mati tapi Tuhan masih memberikannya kesempatan untuknya menghirup udara bebas."
"Awalnya dia merelakan semua yang sudah terjadi, memilih mengubur kebenciannya. Namun sekarang, kebencian itu menguar kembali ke permukaan. Dia berniat untuk balas dendam dan membunuh kembarannya itu."
"Kenapa?"
"Karena dia sudah melukai orang yang tidak bersalah." Selesai membalut perban Geo menepuk pelan punggung tangan Aish.
"Jadi aku boleh balas dendam juga?" Tanya Aish seperti anak kecil.
"Jangan, karena itu akan membuat hatimu semakin tidak tenang. Setelah pembalasanmu berhasil, hatimu akan gelisah dan merasa bersalah. Kalaupun tidak ada alasan lagi di dunia ini yang bisa membuat kamu bertahan. Maka lihatlah Abi, dia begitu menyayangimu. Jangan buat di usianya yang sekarang ini sedih karena memikirkan kamu yang terpuruk."
__ADS_1
Geo duduk di lantai setelah memastikan tidak ada pecahan kaca lalu melihat luka di kaki Aish. "Mau sekalian digantiin perbannya?"
"Gak usah, ganti sendiri aja nanti."
Geo mengangguk, tidak membantah. Perempuan itu sudah terlihat lebih tenang setelah dia pancing dengan bercerita.
"Siapa orang itu?" Meskipun bisa menebak siapa orang itu, tapi dia ingin jawaban pasti.
"Orang itu sekarang ada di depan matamu," jawab Geo dengan senyuman samar yang tipis.
"Dia yang mau bunuh kamu?"
Geo mengangguk lagi, membiarkan Aish tahu semuanya agar tidak salah alamat dalam membenci. "Kamu harus hati-hati ya, aku sudah meminta orang untuk mencari keberadaannya. Kamu lihat ini," tunjuknya pada gelang karet hitam di pergelangan tangan.
"Kalau ada orang yang mirip aku deketin kamu tapi gak pake ini, itu bukan aku." Jelas Geo untuk mempermudah Aish mengenalinya. Pandu yang mengirim benda itu pagi tadi padanya.
"Dia jahat?"
"Hanya sedang tersesat mungkin," jawab Geo sekenanya.
"Nikahkan saja mereka. Lihat mereka pasti mau berbuat mesum lagi!!" Cetus seorang bapak yang berdiri di depan kamar Aish bersama dua orang lainnya. Tubuh Aish kembali gemetar, apalagi di belakang orang-orang itu ada Abi dan Adam.
Geo yang peka akan hal itu langsung berdiri di depan tubuh Aish. Melindungi, agar perempuan itu tidak melihat tatapan orang yang sedang menghujat mereka.
__ADS_1