
"Siapa perempuan ini?" Ferdinand menunjukkan selembar foto berukuran 4R pada Geo. Saat ini pria paruh baya itu tengah berada di apartemen putranya.
Geo menyipitkan mata lalu menggeleng, tidak tahu dimana Papa mendapatkan foto Aish.
Ya, yang dilihatnya sekarang foto perempuan yang selalu Nasya panggil Bunda. Perempuan yang baru tadi siang mereka bertemu.
"Kau yakin?" Ferdinand memicing curiga.
"Sebenarnya apa yang ingin Papa tanyakan dan apa tujuan Papa datang kemari?" Ujar Geo to the point, tidak ingin menebak-nebak apa yang sedang ada dalam isi kepala sang papa.
Ferdinand beranjak menuju balkon, pemandangan Kota Jakarta malam hari nampak sangat indah. Kerlap-kerlip lampu ibu kota yang seperti milyaran bintang bertaburan memanjakan mata.
"Papa sudah memberitahumu untuk pergi dari negara ini atau paling tidak dari kota ini. Jangan menampakkan diri pada saudaramu lagi. Tapi kau malah berkeliaran sesuka hati." Tuturnya dengan helaan napas berat. Mengkhawatirkan kalau terjadi saling serang kembali antara putra kembarnya.
"Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini Pah." Sahut Geo mengikuti sang papa ke balkon, menumpukan tangan pada pagar pembatas dengan pandangan menerawang ke langit yang dipenuhi bintang.
Hatinya masih tertinggal disini, sulit untuknya menghapus bayang-bayang Ara. Meskipun bertemu wanita itu juga sama menyakitkannya. Tapi ia lebih betah hidup dalam luka yang menganga.
__ADS_1
"Geo, wanita pujaan hatimu itu sudah menikah dan sekarang memiliki anak. Jangan bodoh masih menaruh hati pada wanita yang jelas-jelas sudah jadi milik orang lain," pertegas Ferdinand.
"Aku tahu Ara sudah menikah Pah, tapi dia kebahagiaanku." Ungkap Geo yang membuat sang papa mengusap wajah gusar.
Entah harus bagaimana lagi menjelaskan pada putranya kalau tidak ada gunanya mengharapkan wanita yang sudah menikah.
"Kita sudah pernah bicarakan ini Geo, Papa tidak ingin membuang waktu menasehatimu untuk melupakan Ara." Ferdinand berujar yang mendapatkan senyuman smirk dari sang putra.
Biar ia seperti ini dulu, tidak semudah itu untuk melupakan cintanya yang dipaksa pergi. Hari demi hari ia lalui, namun tetap saja Ara masih menetap di hati.
"Jangan dekati perempuan kalau kau tidak berniat untuk menjaganya dengan baik!"
"Maksudnya?" Geo butuh penjelasan, setelah dengan Ara dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
"Perempuan itu," tunjuk Ferdinand pada foto yang ia tinggalkan di meja. "Sedang jadi incaran adikmu," jelasnya.
"Tidak ada hubungannya denganku Pah," jawab Geo cepat. Dia tidak merasa harus bertanggung jawab atas apa yang Leo lakukan nanti. Walau ia sempat khawatir dengan hal itu, tapi Geo lebih memilih tidak peduli. Sudah cukup ia menjadi korban dari perbuatan Leo.
__ADS_1
"Ge, Leo tidak akan mengincar perempuan itu kalau dia tidak melihat kau dekat dengannya."
"Perempuan itu perempuan yang aku tolong waktu kecelakaan Pah, jadi bukan tanggung jawabku untuk menjaganya. Dan aku tidak pernah mendekatinya," jelas Geo secara gamblang.
"Berhenti membuatku menjadi orang yang bertanggung jawab atas perbuatan yang Leo lakukan. Aku sudah kehilangan Ara karenanya!" Lanjut Leo dengan emosi, kalau tidak ada rasa kemanusiaan sudah dia bunuh manusia bernama Leo itu. Tapi sayang, ada hati yang harus ia jaga. Sang mama yang sangat menyayangi Leo.
"Bagaimana kalau Leo mengaku sebagai dirimu dan dia membuat kekacauan lagi. Apa kau masih tidak mau peduli dengan semua itu."
"Harusnya Papa bisa mengatasi putra Papa itu!" Gusar Geo kembali ke ruang tengah lalu menghempaskan diri di sofa. Logikanya dibuat berpikir ulang. Bagaimana kalau gadis kecil yang tidak tahu apa-apa itu juga menjadi sasaran Leo. Mengingat betapa dekatnya Nasya dengan Aish.
"Bagaimana perasaan Mama kalau tahu Papa yang menyingkirkan Leo. Papa bisa saja melakukannya. Tapi Papa tahu, Mama sudah cukup terluka karena kehilangan kau. Walau Papa tidak membenarkan perbuatan Mama-mu yang selalu membela apa yang Leo lakukan." Jelas Ferdinand panjang lebar.
Geo menutup mata dengan napas yang menggebu turun naik. Jantungnya berdetak semakin cepat, yang menandakan kalau emosinya sedang memuncak. Ingin meluapkan segalanya dan membalas perbuatan orang yang sudah membuatnya terjatuh seperti ini. Tapi ia tidak bisa melakukannya.
"Papa tahu kamu hebat, dan masih ada rasa peduli dalam hatimu ini. Walau itu hanya sebatas rasa kemanusiaan." Ferdinand mendekati Geo dan menepuk dua kali kedua bahu sang putra.
"Tidak menguntungkan untukmu memang, tapi akan sangat merepotkan kalau orang menganggapmu yang melakukan kejahatan." Tutur Ferdinand lembut, memberikan pengertian pada putra sulungnya.
__ADS_1
Hanya Geo harapan satu-satunya untuk meneruskan perusahaan dan memiliki keturunan. Ia tidak bisa berharap lebih pada Leo.