
Pulang dari masjid setelah shalat subuh tadi Geo tertidur lagi. Lelah tubuhnya belum juga hilang, kepalanya terasa berat.
Setelah membersihkan diri, menyempatkan mengunjungi rumah Abi Zayid untuk melihat kondisi Aish sebelum mengikuti pelajaran fiqih sholat bersama Ustadz Hanif hari ini. Ia tidak malu belajar bersama santri-santri yang memiliki usia jauh lebih muda darinya.
Di depan rumah yang ingin ia datangi sedang banyak orang berkumpul. Geo yang penasaran dengan apa yang terjadi di sana mempercepat langkahnya.
"Nah ini dia orangnya yang tidak malu berbuat mesum. Mau jadi apa pesantren ini kalau membiarkan orang-orang seperti ini bebas berkeliaran. Bisa-bisa santriwati jadi korban. Dan anak-anak kami ikut rusak otaknya." Sarkas seorang ibu yang ikut dalam rombongan itu.
Sekarang Geo mulai sedikit mengerti, orang yang sedang berkumpul ini para wali santri. Tapi ia masih tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Orang-orang itu menatap jijik padanya.
"Anak Pemilik pesantren kok hidupnya bebas. Mau jadi apa anak kami disini, pulangkan saja mereka." Ibu-ibu yang lain berkoar-koar ikut menimpali.
"Nikahkan saja mereka!" Seloroh seorang bapak yang memimpin rombongan itu. Membuat Geo membelalak kaget saat semua tatapan terpusat padanya.
"Tenang-tenang, Bapak-bapak Ibu-ibu. Semua tidak seperti yang kalian lihat. Ini hanyalah sebuah fitnah yang ditujukan untuk mereka," Adam turun tangan menjelaskan.
__ADS_1
"Fitnah bagaimana kalau buktinya nyata!!" Rombongan orang tua santri itu berseru tidak terima begitu saja dengan ucapan Adam. Jelas ustadz itu melindungi calon istrinya, pikir mereka.
Geo menerobos kerumunan, masuk ke dalam rumah. Ia butuh penjelasan atas apa yang sedang terjadi.
Setelah berhasil masuk ke rumah, didapatinya Abi Zayid sedang kelimpungan menenangkan Aish yang mengamuk. Membanting benda apapun yang berada didekatnya.
Saat melihat kehadiran Geo di depan kamar wanita itu semakin berteriak histeris.
"PERGI!!!!" Usir Aish seraya mengarahkan botol skincare kaca di tangannya pada Geo.
"Nak," Abi Zayid memegangi tangan sang putri agar berhenti mengamuk.
"Bukan dia kamu tahu itukan," Abi Zayid menenangkan Aish.
"Kalau dia gak di sini kita gak akan seperti ini Abi!! Dia yang sudah bikin aku—" Aish tidak melanjutkan ucapannya. Berjalan tertatih mendekati Geo dengan segala amarah yang bercongkol di dada.
__ADS_1
Mengingat bagaimana dia diperlakukan bejat oleh orang yang sangat mirip dengan pria di hadapannya ini, membuat Aish mengamuk kembali.
"Abi, biarkan saja sampai emosinya mereda." Ucap Geo tenang, saat Abi Zayid menahan Aish yang ingin menyerangnya.
Meskipun masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pagi ini. Ia memilih diam menjadi pelampiasan amarah Aish.
"Kalau kamu gak mau pergi biar aku yang bikin kamu pergi dari dunia ini!!" Sarkas Aish masih dengan berteriak. Melemparkan botol di tangannya pada Geo. Untung Geo sempat menghindar. Alhasil benda itu mengenai kaca lemari.
Suara pecahan kaca yang mendapat sapaan dari botol masih kalah dengan lengkingan teriakan Aish. Perempuan itu ingin mengambil pecahan kaca namun tubuhnya segera ditangkap Geo.
Geo tidak bisa membiarkan Aish melukai dirinya sendiri lagi. Walau benda itu ditujukan padanya, bisa saja berbalik seperti kemarin. Aish sendiri yang terluka.
"Kakinya sudah sembuh jadi bisa mengamuk?" Tanya Geo tanpa ekspresi merengkuh pinggang Aish. Padahal kaki tangan wanita itu masih terluka. Tapi energinya masih full seperti tidak merasakan sakit.
Aish menatap tangan kanannya yang dibalut perban, lalu perempuan itu tertawa terbahak-bahak. Sakit di tangannya ini tidaklah berarti dibanding harga dirinya dan Abi yang sekarang dibuat terjatuh.
__ADS_1
Dentuman suara dari arah depan membuat Geo menghela napas berat.
Para orang tua santri menggedor pintu menyuruh pemilik rumah keluar. Karena tidak ada yang keluar mereka melemparkan benda apapun dan ingin menerobos masuk ke rumah. Adam sampai kesusahan menghentikannya.