Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 49


__ADS_3

Setelah hampir dua bulan menikah ini pertama kalinya Geo membawa Aish pulang ke rumah orang tuanya. Itupun karena paksaan mama yang menginginkannya pulang.


Geo enggan menginjakkan kaki ke tempat masa kecilnya dibesarkan bersama sang saudara kembar. Dulu mereka selalu akur dan kompak melakukan segala hal bersama. Hingga Leo menunjukkan sikap cemburu dan tidak suka saat ia yang dipilih Papa Ferdinand untuk mengurus perusahaan keluarga.


Mobil yang dikendarai Geo terparkir di depan bangunan megah bergaya Eropa. Aish memainkan jemarinya gugup sepanjang jalan. Menyadari itu Geo memberikan usapan di punggung tangan sang istri.


"Tidak akan ada yang menyakitimu disini Aish, ayo kita keluar." Katanya menenangkan Aish yang semakin gugup.


Mereka keluar bersamaan, Geo tidak segan menggandeng tangan Aish saat memasuki rumah yang lebih satu tahun ini tidak pernah dikunjunginya.


"Sayang, kau sudah datang." Perempuan paruh baya datang tergopoh-gopoh menyambut putranya. Matanya melirik sinis pada perempuan yang berdiri di samping Geo. Namun tidak menunjukkan ketidaksukaannya terang-terangan di depan sang putra.


"Iya Mah," Geo tersenyum memeluk mama. Kemudian Aish menyalami ibu mertuanya bergantian dengan sang suami.


"Mama sudah masakin makanan kesukaanmu, ayo makan dulu." Dengan semangat mama menarik tangan Geo menuju ruang makan mengabaikan Aish begitu saja.


"Mah, istriku gak diajak." Geo melepaskan tangannya yang ditarik mama. Lalu mengulurkan tangan pada sang istri.


Aish berjalan pelan mendekati sang suami lalu menyambut uluran tangan itu, menautkan tangannya disana.


"Apapun perlakuan Mama jangan masukin hati. Kalaupun ada yang harus kamu masukin ke hati itu cuma aku," bisik Geo kemudian mengecup pipi Aish singkat.


Kecupan yang tiba-tiba Geo berikan itu membuat Aish tersipu malu. Sedang di depan sana ibu mertuanya semakin menatap tidak suka.


"Aish mau makan yang mana?" Tanya Geo, menyebutkan semua nama makanan kesukaannya yang ada di meja makan.


Aish termenung, seperti ini rasanya kalau memiliki ibu ya. Ibu selalu melakukan apapun untuk membuat anaknya bahagia. Itu yang Aish simpulkan setelah melihat meja makan penuh masakan yang katanya kesukaan Geo.

__ADS_1


Melihat putranya memperlakuan sang istri dengan penuh perhatian membuat perempuan paruh baya itu menatap jijik pada Aish.


"Malah melamun," Geo menepuk punggung tangan Aish yang sempat-sempatnya melamun di meja makan.


"Mau yang mana Sayang biar Mama ambilin. Harusnya istrimu yang melakukan ini," sidirnya melihat Aish yang sedari tadi diam.


"Mah," tegur Geo. Tidak suka mama membuat Aish merasa tidak nyaman. "Aku bisa ambil sendiri kalau mau makan, yang penting istri aku mau makan apa." Tegasnya menunjukkan kalau tidak ada yang boleh menyinggung perasaan Aish.


"Kenapa, hm?" Geo mengelus bahu Aish yang semakin menunduk. Tidak tahu penyebab istrinya itu tiba-tiba sedih.


"Kangen Ummi," jawab Aish pelan. Setik air matanya jatuh di pangkuan.


Geo melirik sang mama, kemudian terdengar helaan napas panjang. Harusnya mama bisa menggantikan peran ibu untuk Aish. Namun sejak hari pernikahannya mama sudah menunjukkan rasa tidak sukanya pada sang istri. Hal itulah yang membuat Geo tidak mendekatkan Aish pada mama.


"Setelah pulang dari sini kita ke makam Ummi ya," Geo menenangkan dengan elusan di kepala. "Ayo makan dulu, hargai Mama yang sudah masak banyak."


Geo tersenyum menunjuk makanan yang ia mau. Aish itu kadang seperti anak kecil saat menunjukkan sisi kemanjaannya. Tapi kadang kedewasaannya seperti seorang ibu. Membuat segala sisi kosong dalam diri Geo terpenuhi.


"Kalian makan saja Mama tunggu di luar." Ujar perempuan yang melahirkan Geo itu dengan suara sedikit meninggi. Jengah melihat drama suami istri di depannya.


"Mas mama marah," cicit Aish tidak enak hati.


"Jangan dipikirin, Mama emang gitu. Makan dulu, jangan sedih." Geo menepuk puncak kepala Aish menenangkan. Jangankan Aish, dengan Ara saja dulu mama juga tidak suka.


🍃


"Sudah puas membuat kedua putraku tergoda denganmu!!" Bentak mama, menatap nyalang Aish yang tengah mencuci piring kotor.

__ADS_1


Hampir saja Aish menjatuhkan piring yang tengah dicucinya karena terkejut dengan suara melengking sang mertua yang tiba-tiba membentaknya dari belakang.


"Maksud Mama apa?" Tanya Aish tidak mengerti dengan tangan sedikit gemetar.


"Jangan pura-pura bodoh, kau sengaja menggoda Leo dan meminta pertanggung jawaban Geo kan?" Tuduh sang mertua membuat Aish menautkan alis.


Menggoda? Kapan dia pernah menggoda pria yang sudah membuat kepercayaan dirinya hancur berantakan.


"Aku tidak pernah menggoda Leo Mah, dan aku tidak pernah memaksa Mas Geo menikahiku." Jawab Aish dengan berani, entah darimana datangnya keberanian itu. Aish tidak terima dituduh menggoda Leo.


"Halah omong kosong, kau pakai jilbabmu ini hanya untuk meluluhkan hati Geo." Mama menarik kasar jilbab Aish sampai terjatuh di lantai dan menginjak-injaknya.


Rumah mewah itu sedang sepi, karena semua pelayan sudah ia perintahkan menjauh setelah mendapat kesempatan untuk merendahkan menantunya.


"Mama boleh tidak suka denganku, tapi Mama tidak bisa menghinaku seperti ini!!" Teriak Aish marah, melemparkan piring di tangannya ke arah sang mertua.


Andai saja perempuan paruh baya itu tidak menghindar pasti sudah mengenai kepalanya.


"Kau berani kurang ajar dengan mertuamu sendiri!!" Geram mama mendekat ke arah Aish lalu menarik rambutnya kasar. Tidak peduli kalau putranya akan marah melihat ini.


"Sakiiittt!!" Teriak Aish mendorong kasar sang mertua yang menjambak rambutnya sampai terjatuh. Dia sudah kesetanan, perempuan itu mengamuk sambil menangis histeris.


Mama yang di dorong Aish mengerang kesakitan dengan mulut terus mengumpat.


Aish mengambil pecahan kaca menodongkan ke arah sang mertua. Membuat perempuan paruh baya itu berteriak ketakutan. Aish yang tadi terlihat lemah itu tiba-tiba menjadi seperti orang gila.


"Aish!!" Geo yang mendengar suara keributan menyusul ke belakang. Istrinya dalam keadaan berantakan dengan tangan menggenggam pecahan kaca, sampai tangan itu berdarah.

__ADS_1


Aish memang lembut, tapi emosi tidaklah stabil. Istrinya itu bisa mengamuk kapan saja saat ada yang membuatnya terancam.


__ADS_2