
Kehausan, Geo terbangun tengah malam. Di kamar memang tersedia dispenser, tapi kebetulan airnya habis. Jadilah ia harus turun ke bawah mengambilnya. Hal sekecil itu harus ia perhatikan nantinya, jangan sampai Aish kelelahan harus turun naik tangga.
Tubuhnya sudah lebih segar setelah olahraga sore tadi, tidak mengalami muntah-muntah lagi. Geo menggelengkan kepala saat terpikir akan mengajak Aish bercinta ketika mualnya kembali menyerang nanti. Itu bisa membahayakan Aish dan kandungannya kalau ia terlalu sering bertamu.
Langkah kaki Geo terhenti kala melihat wanita yang penampilannya persis seperti Ara duduk di mini bar. "Pasti aku salah lihat, apa rumah ini ada hantunya sekarang." Bantin Geo bergegas menuangkan air ke gelas, lalu menenggaknya hingga tandas.
"Tuan," sapa Rena dengan senyuman manis kemudian menunduk.
Geo sedikit tersentak ketika wanita yang disangkanya hantu Ara itu menyapa. Baru ingat kalau mereka memiliki art baru, tapi apa wajahnya memang mirip Ara. Geo tidak pernah memperhatikan itu.
"Apa Tuan sedang ingin makan sesuatu, biar saya buatkan." Tawar Rena pada majikannya.
"Tidak, cuma mengambil ini." Sahut Geo datar, ia harus minta penjelasan pada Pandu. Kenapa memilihkan art yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya.
Pria itu kembali ke kamar dengan wajah gusar. Bayangan Ara kembali berputar-putar di kepala, manjanya, ceriwisnya. Semua yang ada pada diri Ara ia rindu. Geo melirik ke tempat tidur, istrinya tengah tertidur pulas di sana.
Perlahan kakinya melangkah ke pembaringan, bagaimanapun juga Aish lah yang harus ia berikan perhatian penuh. Ara hanyalah kepingan dari masa lalunya.
Ada calon buah hatinya di dalam rahim sang istri yang harus dijaga dengan baik. Geo mengusap lembut perut Aish lalu melabuhkan kecupan di sana.
"Mas," Aish terusik ketika merasakan sentuhan di perutnya.
__ADS_1
"Tidur lagi," Geo mengusap mata Aish lalu membenarkan selimutnya yang tersingkap.
"Kenapa bangun?" Wanita hamil itu memiringkan tubuhnya, menatap sang suami dengan lembut.
"Haus," sahut Geo menarik Aish ke pelukan.
"Sudah minum?"
"Sudah bawel," Geo terkekeh kecil menggigit pelan hidung Aish.
"Aku gak bawel Mas."
"Iya-iya, udah tidur lagi. Umma harus banyak istirahat." Suruh Geo yang tidak ingin Aish kurang tidur, karena tidak baik untuk kesehatan calon bayinya
"Araa!!" Teriakan satu nama itu membuat Aish dan Geo terbangun bersamaan.
Baru saja Geo memejamkan mata, mimpi itu kembali hadir mengganggunya. Ia terbangun dengan napas tersendat-sendat. Sedang Aish, diam membeku di tempat.
"Maaf," ucap Geo pelan. Membawa Aish dalam pelukan.
"Gak usah peluk-peluk, sana cari Ara aja." Kesal Aish, suasana hatinya langsung jadi buruk.
__ADS_1
"Umma Maaf," ulang Geo dengan merengek. Sadar akan kesalahannya, ia tidak melepaskan pelukan.
"Mas nikah aja sama Ara sana," ketus Aish yang semakin kesal. Apalagi saat mengingat sang suami masih sangat mencintai perempuan itu.
"Gak boleh marah sama suami, nanti anak-anak mirip aku semua hm." Pria itu menggoda, tidak menanggapi kekesalan wanitanya. Malah semakin mengeratkan pelukan dan memberikan kecupan di pucuk kepala.
Lama kelamaan mimpi itu semakin mengganggunya. Apalagi kalau sampai Aish jadi sensitif dan cemburuan karena kehamilannya. Ia harus benar-benar waspada.
"Umma," panggil Geo pada istrinya yang diam tidak menyahut. Setelah ia lihat Aish sudah tertidur kembali.
"Alhamdulillah," gumamnya bersyukur. Tidak perlu menghabiskan banyak energi untuk membujuk istrinya ini.
Keesokan paginya Geo yang baru bangun langsung mengalami muntah-muntah. Sementara itu Aish yang masih kesal karena kejadian tadi malam membiarkan saja tanpa membantunya.
"Umma peluk," rengek Geo setelah kembali ke tempat tidur. Istrinya itu masih marah, memeluk pun tidak mau.
"Peluk saja Ara," setelah mengucapkannya Aish beranjak ke kamar mandi.
"Ini anak-anak loh yang minta peluk, Umma mau aku memeluk perempuan lain." Pancing Geo sambil mengulum senyum, ancamannya pasti berhasil.
"Peluk saja sana puas-puas!!" Aish tetap melanjutkan langkahnya lalu membanting pintu kamar mandi dengan kasar.
__ADS_1
"Astaghfirullah," sebut Geo sambil mengelus dadanya yang terkejut. Galak juga ternyata istrinya ini.
"Bersiaplah Geo ini hanya permulaan," peringatnya pada diri sendiri. Mengingat perempuan hamil susah ditebak maunya apa.