Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 56


__ADS_3

Jantung Aish bekerja lebih cepat dari biasanya, begitu khawatir dengan keadaan Geo. Apa suaminya itu memiliki riwayat penyakit yang tidak diketahui olehnya.


Aish merasa gagal menjadi istri kalau sampai seperti itu. Harusnya ia tahu kalau memang Geo memiliki penyakit. Apa suaminya itu sengaja ingin menyembunyikan darinya.


"Aku tidak apa-apa, cuma lemas. Jangan khawatir berlebihan," Geo membenarkan jilbab sang istri yang berantakan.


"Kamu punya penyakit apa Mas, kenapa gak kasih tahu aku. Kamu sengaja gak ngasih tahu akau biar mati perlahan ya."


Geo terkekeh kecil mendengar celotehan panjang sang istri, "emang ya kepalanya mau dibedah ini. Kalau mikir suka berlebihan, emang mau jadi janda, hm." Ujarnya mengusap gemas puncak kepala Aish.


"Mass," rengek Aish kesal. Anehnya sekarang ia suka kesal pada suaminya ini.


"Kamu harus periksa ya, kata dokter aku sakit gara-gara kamu."


"Mas, apa aku punya penyakit menular?" Sela Aish cepat, jantungnya berdebar tidak karuan membayangkan dirinya memiliki penyakit menular dan bisa membahayakan orang lain.


Geo geleng-geleng kepala, ingin sekali menjitak kepala istrinya itu tapi tidak tega. Baru punya pemikiran seperti itu ia sudah mual dan kembali memuntahkan isi perutnya.


"Demi kalian aku rela seperti ini," gumam Geo dalam hati. Sudah tahu penyebab mual yang dialaminya. Ternyata calon anaknya sedang mencari perhatian pada Umma-nya.

__ADS_1


"Kita cari rumah sakit lain aja Mas, rumah sakit ini gak becus menangani kamu, buktinya masih muntah-muntah."


Geo cukup terkejut mendengar istrinya yang bicara dengan emosional.


"Aku yang sakit kenapa kamu yang panik gini?" Tanya Geo setelah selesai mengeluarkan isi perutnya. Ia tidak perlu susah-susah ke kamar mandi karena sudah disediakan kresek untuknya. Tidak keren sekali, seperti mabuk perjalanan saja.


"Aku khawatir kamu makin parah dan ninggalin aku."


Pria itu ingin tertawa gelak namun tenaganya sudah habis. "Dari kemarin emosian banget, banyakin istighfar Umma." Katanya mengingatkan, menarik tangan Aish agar duduk di sisinya.


"Jangan tinggalin aku," ujar Aish tiba-tiba melankolis dan menangis.


Ucapan Geo semakin membuat Aish berpikiran buruk. Pasti Geo menyembunyikan penyakitnya, sebab tadi ia tidak diperbolehkan ikut kala dokter menjelaskan apa yang terjadi pada suaminya.


Tangis Aish semakin keras, membuat Geo tidak tega.


"Umma," pria itu menarik sang istri ke pelukan. "Mau makan sesuatu?" Tawarnya, Aish menjawab dengan gelangan.


"Maunya Mas jangan pergi."

__ADS_1


"Mas gak akan pergi, hm. Jaga diri Umma baik-baik ya."


"Maass!" Aum Aish nyaring, tidak peduli dengan suaranya yang bisa mengganggu pasien di kamar lain. Tangisnya semakin pecah, merasa Geo seperti ingin meninggalkannya.


"Dengerin aku ngomong dulu."


"Gak mau," hampir saja Aish melemparkan gelas yang ada di atas nakas kalau tidak Geo tahan.


Geo semakin khawatir dengan keadaan psikis Aish yang kadang tidak dapat mengendalikan emosi dengan baik.


"Mulai sekarang jangan biasakan membanting sesuatu. Umma lagi hamil, bisa saja disini ada lebih dari satu kehidupan." Ujar Geo lembut, menghirup aroma tubuh Aish membuatnya tenang.


Tubuh Aish menegang, mulutnya tergagap tidak dapat bersuara lagi. Hanya sorot matanya yang masih terlihat tidak percaya. "Titip anak-anak ya, Umma harus jaga kesehatan dan jaga emosi. Biar Papa yang ngidam, hm."


"Mas," Aish menguatkan tangannya yang melingkar di punggung sang suami. Ia semakin ketergantungan dengan suaminya ini. Bagaimana nanti kalau Geo sudah menemukan cinta sejatinya dan memilih pergi meninggalkannya.


"Hm, bahagia?" Tanya Geo.


"Mas bahagia? Atau ini semakin membuat Mas terbebani." Pikiran tentang Geo yang menggaulinya karena terpaksa tidak mau hilang dari kepalanya. Suaminya itu baik padanya karena merasa bersalah pada Abi. Aish takut Geo meninggalkannya setelah memberikan cucu untuk Abi.

__ADS_1


__ADS_2