
Geo memijat kepalanya yang terasa pusing. Meminta Bi Siti untuk membuatkan minuman hangat yang bisa mengurangi rasa mualnya.
Pria itu duduk sendirian di ruang makan, Aish tidak mau sarapan dan semakin uring-uringan. Ia pikir mood wanita itu akan membaik pagi ini, tapi nyatanya bertambah parah. Untuk bangun saja istrinya itu malas bergerak.
"Ini sarapan untuk Nyonya, Tuan." Rena meletakkan nampan yang sudah dilengkapi susu dan buah di atas meja. Salut pada majikannya yang sangat menyayangi sang istri.
"Terima kasih," Geo segera menyelesaikan sarapan. Ia harus memastikan Aish makan sebelum ditinggal bekerja. Istrinya itu memerlukan banyak nutrisi karena sedang ada dua makhluk kecil yang bersemayam di perutnya.
"Umma sarapan dulu," panggil Geo yang baru tiba di kamar. Meletakkan nampan ke atas nakas kemudian menyingkap selimut. Wanitanya itu menangis tanpa suara dengan wajah ditutup bantal.
"Umma," lama kelamaan Geo bisa frustasi menghadapi ibu hamilnya ini. "Ada yang sakit atau gak nyaman?" Pria itu bertanya sembari membangunkan Aish dan membawanya dalam pelukan.
Berada di pelukannya Aish malah menangis semakin nyaring. Membuat Geo bertambah kebingungan saja, salah dirinya dimana.
"Sayang, anak-anak Papa yang pintar. Jangan bikin Umma serba salah ya Nak, jangan bikin Umma sakit juga. Pintar-pintar di dalam sana," bisik Geo di perut Aish.
"Sayang," Geo menghapus air mata Aish lalu mengecup seluruh wajahnya.
"Cerita sama Mas, apa yang bikin gak nyaman. Apa yang bikin dadanya sesak?" Tanyanya lembut seraya mengusap punggung sang istri.
Aish tidak menjawab, menguatkan pelukannya pada Geo. Seakan pelukan itu tidak boleh dilepas. Pria itu semakin keheranan, ada apa dengan istrinya ini.
"Cup-cup, Umma mau apa? Apa yang bikin gak nyaman Aish?"
__ADS_1
Tanpa melepaskan pelukannya Geo menempelkan pipinya pada pipi Aish. Tangan yang tidak berhenti memberikan elusan.
"Kalau sudah tenang, cerita ya. Apa yang bikin Umma gak nyaman," bujuk Geo lembut.
"Aku cemburu sama mereka Mas?" Aish kembali sesenggukan sambil mengusap perutnya.
"Kenapa cemburunya sama mereka?" Tanya Geo, lucu bukan alasan yang membuat istrinya itu menangis dan uring-uringan sejak semalam.
"Kamu lebih menyayangi mereka daripada aku," sebut Aish.
Sontak Geo langsung tergelak mendengar jawaban itu.
"Dengar ya Aish Sayang," Geo akan membiasakan memanggil istrinya dengan sebutan seperti itu.
"Kalau seandainya aku harus terpaksa disuruh memilih antara kamu dan nyawa anak-anak kita. Aku tetap akan memilih kamu yang berada disisiku. Jangan berpikir aku tidak menyayangimu, kamu sangat berarti untukku."
"Mas bohong, Mas bilang gitu biar aku senang ajakan." Seru Aish, semua itu Geo lakukan agar dia merasa disayangi saja.
Geo geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. Ia punya jurus jitu untuk menghentikan rajukan istrinya ini.
"Sekarang kamulah takdirku Aish, apa yang kamu takutkan lagi. Sedang rumah yang paling nyaman ini sudah aku sediakan untukmu. Kamulah pemiliknya hm," Geo membawa tangan Aish ke dadanya setelah membaringkan kembali wanitanya itu di tempat tidur.
"Mas bohong," rengek Aish kembali menangis sendu.
__ADS_1
"Mau bukti apa, hm." Geo melepaskan jas yang sudah melekat di tubuhnya. Tadi niatnya akan langsung berangkat ke kantor setelah memastikan Aish sarapan. Tapi sepertinya rencana berubah haluan, ia harus menjinakkan ibu anak-anaknya ini dulu.
"Mau bukti apa Sayang?" Ulang Geo seraya mengendus leher Aish.
"Mau apa, bilang Sayang." Pria itu berujar kembali setelah memberikan gigitan kecil yang membuat wanitanya bergelinjang.
"Apa semua perhatikan yang aku berikan ini kurang untuk membuatmu yakin kalau sampai kapanpun aku tetap akan memilihmu. Kamulah wanitaku satu-satunya Aish." Ya, Geo tidak akan melepaskan Aish walau hatinya belum bisa memberikan cinta untuk istrinya ini.
"Aku tidak hanya butuh perhatianmu, Mas." Kalimat itu muncul di sela-sela erangan yang keluar dari mulut Aish.
"Apa itu?" Geo sudah berada di atas tubuh istrinya memberikan sentuhan yang membuat Aish tidak dapat menjawab pertanyaannya lagi. Hanya suara sexy yang terdengar keluar dari mulut itu.
"Maaf kita lakukan cepat ya Sayang, setelah ini Mas mau ke kantor."
Aish tak mampu menolak, mengangguk kecil saat Geo mendatanginya dengan lembut. Permainan cepat itu cukup membuatnya kelelahan.
Geo tersenyum, menyelimuti Aish yang kelelahan dengan keringat yang membasahi keningnya. Ia sengaja tidak melepaskan atribut istrinya ini. Hanya memberikan sentuhan di tempat favoritnya saja sebelum menjenguk anak-anak.
"Umma nakal ya, Papa harus mandi lagi." Geo melabuhkan kecupan di kening dan bibir Aish singkat. "Dilarang mikir sembarangan, kalau gak mau Mas kasih setan mesum disini." Ucapnya mengusap kepala Aish, lalu beranjak ke kamar mandi.
Pria itu bersandar di dinding kamar mandi. Wajar Aish ragu padanya, karena sampai sekarang Geo tidak pernah mengatakan cinta. Memanggil sayang pun baru dimulai tadi malam. Dan itu pun sangat berat untuk Geo ucapkan.
Setiap mendatangi istrinya itu kadang Geo masih terbayang dengan wanita pujaan hatinya. Namun dengan cepat mengusir bayangan itu. Ia harus bisa mencintai Aish, karena wanita itulah yang seharusnya menjadi pemilik hatinya. Bukan Ara, gadis masa lalunya.
__ADS_1