
"Rumahnya kebesaran, kita cari yang lebih kecil saja Ustadz." Ucap Aish pelan saat Adam menanyakan pendapatnya tentang rumah itu. Mereka berdiskusi saat pemilik rumah memberikan mereka waktu untuk berpikir.
Belum sempat Adam menanggapi Aisyah sudah nyeletuk lebih dulu. "Kalau besar kan enak buat anak-anak bermain nanti Mbak. Nantikan anaknya banyak," seloroh gadis itu dengan senyuman lebar seraya memainkan alisnya menggoda.
"Ai, Abang ngajak kamu bukan buat banyak bicara ya." Tegur Adam pada adiknya yang memang suka asal nyeplos. Gadis yang baru duduk di bangku kuliah itu langsung memanyunkan bibir cemberut. "Gak masalah besar atau kecil kan, yang penting kamu nyaman dan suka. Tapi kalau kamu gak suka kita bisa cari yang lain," lanjutnya pada Aish.
Aish mengangguk kecil, "kita cari yang lain saja boleh." Pintanya, tidak bisa menjelaskan kenapa ia menolak rumah itu walau hatinya sangat suka dengan interior dan suasananya.
"Iya, kita cari yang lain saja. Nantinya kan kamu yang akan banyak tinggal di rumah. Jadi harus cari tempat yang kamu sukai dan bikin nyaman." Adam tersenyum teduh, hatinya memang menyayangkan kalau harus melepaskan rumah ini. Tapi kenyamanan calon istrinya yang jadi nomor satu.
"Yah. Padahal aku suka ini Abang," rengek Aisyah.
"Kan sudah Abang bilang, Abang beli rumah bukan buat kamu." Adam menyentil pelan kening sang adik, yang disambut rengekan nyaring gadis itu.
Aish yang melihat kedekatan kakak dan adik itu hanya terkekeh kecil. Beruntung dia mendapatkan calon suami yang sangat pengertian. Dilihat dari caranya memperlakukan sang adik, pria itu penyayang dan lemah lembut namun juga tegas.
Setelah berbicara pada Geo perihal keputusannya akan hunian itu Adam mengantarkan Aish pulang.
🍃
__ADS_1
"Ada apa?" Pria lanjut usia dalam balutan koko dan sarung itu bertanya pada putrinya usai mereka sholat isya berjamaah di masjid.
"Maksud Abi?" Aish balik bertanya, tidak mengerti pertanyaan Abi mengarah kemana.
"Tadi sore Nak Adam cerita, kalau kamu menolak rumah yang tadi kalian lihat karena kebesaran." Abi Zayid menatap lekat putri semata wayangnya.
"Apa yang mengganggu pikiran putri Abi ini?" Tanyanya lagi seraya mengusap puncak kepala Aish.
Belasan tahun menjadi orang tua tunggal untuk sang putri membuatnya harus mengerti berbagai kondisi perihal anak perempuannya.
Wanita itu mengambil tangan sang abi yang berada di kepalanya, menggenggam lalu menempelkan di pipi. "Gak tahu Abi, Aish suka rumahnya tapi gak rela aja kalau rumah itu dijual. Kayaknya rumah itu berarti banget buat pemiliknya," terang Aish membuat Abi Zayid terkekeh pelan.
"Abi tinggal sama siapa kalau aku pindah dari rumah ini?" Aish menatap sendu, tidak menanggapi kekehan renyah sang abi.
"Abi bisa menghabiskan waktu bersama para santri, tidak akan kesepian. Kamu jangan khawatirkan Abi. Abi bisa jaga diri, Nak."
"Belasan tahun Abi cuma hidup sama Aish disini, gimana Aish gak khawatir ninggalin Abi sendirian." Gumamnya dengan segala keresahan yang menyambangi dada.
Ia sangat jarang membahas perihal menyesakkan seperti ini, karena hanya akan membuat rongga dada dan kepalanya terasa penuh.
__ADS_1
"Gak sendirian, Abi bisa tinggal di pesantren lagi kalau kamu sudah menikah."
"Jangan, Aish mau Abi tetap disini!" Larang Aish dengan tegas.
"Kenapa?" Pria berumur itu menggenggam erat tangan putrinya yang terasa dingin.
Genggaman tangan hangat itu tidak mampu membuat kecemasan Aish mereda.
"Aish selalu kebayang Ummi kalau disana."
"Abi bisa jaga diri Nak. Sudah saatnya Abi kembali ke rumah yang menjadi kenangan Abi sama Ummi. Dan kamu, mulailah hidup yang baru. Jangan terkungkung oleh masa lalu yang menyiksamu."
"Aish gak mau," perempuan yang sangat jarang bermanja-manja itu menghambur kepelukan sang Abi.
"Kamu ternyata masih putri kecil Abi, Nak."
"Pokoknya Abi gak boleh tinggal disana," kukuh Aish dengan linangan air mata. Sudah cukup ia kehilangan Ummi, tidak mau kehilangan Abi yang sangat disayanginya ini lagi.
"Iya," pria berumur itu menurut sambil mengusap punggung sang putri untuk menenangkan.
__ADS_1
Ucapan Abi tidak mampu membuat Aish tenang. Sepanjang malam tidurnya dipenuhi kegelisahan, walau sang abi sudah berkali-kali meyakinkan kalau tidak ada yang perlu ia takutkan.