
"Bagaimana kabarmu?" Suara berat menyapa Aish dari sudut kamar.
Wanita yang ingin masuk ke kamar mandi itu terkejut.
"Mas," Aish terpekik kaget dengan keberadaan sang suami dalam kamarnya. Namun beberapa detik kemudian perempuan hamil itu tersadar.
Bibir Leo menyeringai tipis, "jangan takut. Duduk dengan tenang oke," ujarnya mendorong kursi rias ke arah Aish. Bukan hal yang sulit untuknya menyusup kembali ke villa ini.
Untuk sementara ia tetap menjaga jarak. Agar wanita hamil itu tidak ketakutan dan berteriak, yang bisa mengundang para penjaga berdatangan.
"Mau apa kamu kesini?"
"Bertemu dengan kalian, boleh aku memegangnya." Izin Leo dengan lembut, menunjuk ke arah perut Aish.
Wanita hamil itu refleks memegangi buncitnya dan menutup dengan handuk yang ada di tangannya.
"Aku mau menyapanya saja." Leo tersenyum, berjongkok di depan Aish lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh perut buncit yang tertutup handuk itu.
__ADS_1
Aish terpaku melihat senyuman yang setiap malam dirindukannya. Senyuman itu persis seperti senyuman sang suami yang memenuhi isi kepalanya.
"Ada dua," komentar Leo saat merasakan tendangan yang berbeda dari perut Aish.
Aish hanya diam, tidak memberikan tanggapan apapun. Pikirannya masih terbang pada Geo, bagaimana kabar suaminya itu. Argh, Aish sangat rindu.
Gairah Leo tiba-tiba bangkit saat menyentuh perut Aish. Wanita hamil ini terlihat begitu seksi dan menggemaskan. Bibirnya yang kemerahan begitu menggoda, belum lagi buah dadanya yang berisi penuh membuat Leo semakin tergila-gila.
"Telepon suamimu," bisik Leo yang sudah berada di belakang Aish. Memberikan ponsel yang sedang menghubungkan dengan saudara kembarnya.
Leo meneguk saliva dengan kasar, aroma tubuh Aish membuat seluruh tubuhnya menegang dan ingin dilepaskan.
"Halo," terdengar suara dari seberang sana. Aish sampai berkaca-kaca mendengar suara pria yang begitu dirindukannya.
"Mas," panggil Aish dengan suara bergetar. Inilah akibatnya karena dia pergi tanpa izin dari sang suami.
"Aish, kenapa Sayang?" Geo yang sedang bersama Pandu di ruangan kerjanya menegakkan tubuh mendengar suara wanita yang beberapa bulan ini dicarinya.
__ADS_1
"Maafin Aish Mas," lirih perempuan itu dengan tangisan. Suara kekhawatiran Geo membuat Aish semakin merasa bersalah.
Harusnya dia bisa menahan diri agar tidak egois dan pergi. Sedari awal Aish tahu kalau sang suami tidak bisa memberikan cinta untuknya.
"Jangan menangis," dengan sigap Leo menenangkan Aish. Melihat air mata itu, entah kenapa hatinya ikut merasakan sakit.
"Leo, brengsek kau!!" Umpat Geo, sangat mengenali suara pria yang berada di dekat Aish.
"Permainan kita mulai," Leo bersorak riang mengambil ponsel di tangan Aish. Tidak mempedulikan umpatan saudara kembarnya.
"Nanti kutelepon lagi, kekasihku sedang sedih karena suaminya. Untung ada aku yang menggantikan posisinya, hm." Ucap Leo dengan berbisik, setelah berhasil menyuntikkan obat tidur pada Aish.
"Penjahat!!" Aish merebut ponsel Leo lalu membantingnya marah. Perempuan itu meradang setelah mendengar ucapan Leo. Ketakutannya tadi sudah hilang entah kemana. Aish melemparkan benda apapun ke arah Leo.
"Hei-hei tenang, ingat kandunganmu." Leo berusaha menghindari Aish yang mengamuk. Menghitung mundur sampai wanita itu tertidur.
"Pergi kau!!" Teriak Aish.
__ADS_1
"Oke aku pergi, tapi tenang dulu. Ingat mereka," Leo mengangkat kedua tangannya. Sedikit khawatir pada perut buncit Aish, walau bagaimanapun di dalam sana ada keponakannya.