
"Aarrgh!!" Geo menarik kasar rambutnya usai melihat rekaman yang dikirim Leo.
Ia baru menunaikan sholat maghrib, namun jantungnya sudah dibuat berpacu cepat. Ini bukan tentang nama baiknya. Tapi bagaimana ketakutannya perempuan yang bernama Aish. Ia tidak bisa membayangkan kalau Ara, gadis tercintanya yang berada diposisi itu.
Setelah meminta asistennya memeriksa keberadaan Leo dari nomor yang barusan masuk ke ponselnya. Geo menunggu Abi Zayid dan Ustadz Adam keluar dari masjid.
"Abi, kali ini percaya pada saya. Bukan saya yang menculik Aish, tapi saya akan menemukannya untuk Abi." Pria itu mencegat Abi Zayid yang baru keluar dari masjid.
"Kamu tidak perlu banyak tingkah, cukup kembalikan Aish." Adam yang menimpali dengan suara tegas. Setelahnya ia kembali beristighfar untuk meredam emosi yang kembali mencuat.
"Bukan saya yang menculik Aish," Geo ingin menjelaskan yang sesungguhnya terjadi. Namun terpotong oleh ponselnya yang berdering. Panggilan dari Pandu, asisten yang mengurus semua pekerjaannya selama ia tidak ada.
"Saya sudah dapat lokasinya Tuan Muda. Saya dan Tuan Ferdinand akan segera meluncur kesana. Kita bertemu di lokasi."
"Oke, berjaga-jaga. Jangan hanya datang berdua dengan Papa. Aku segera meluncur, tidak perlu membawa polisi. Biar aku yang menghabisinya sendiri. Kalau tidak dia, maka aku yang akan mati!" Geo menutup panggilannya setelah mengucapkan itu. Ia tidak bisa mentolerir lagi, perbuatan Leo bisa mencelakai orang-orang yang tidak bersalah.
Matanya memejam sambil menarik napas panjang. Hatinya bersyukur bukan Ara yang menjadi sasaran Leo. Namun ia merasa bersalah karena orang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban.
Adam mencermati pembicaraan Geo yang terdengar serius. Menimbang-nimbang dengan apa yang pria itu katakan. Bisa saja semua itu bagian dari rencana untuk membuat mereka percaya.
__ADS_1
"Kalian kalau mau ikut silahkan, kalau tidak juga tidak apa." Geo berucap pelan, tidak lagi meyakinkan dua orang yang pasti sulit percaya padanya.
"Saya ikut, ingin memastikan kalau kamu tidak sedang membual!" Sambar Adam, entah kenapa perkataan itu terdengar keterlaluan. Namun ia tidak ingin terjebak dengan permainan orang yang baru dikenalnya.
Geo mengangguk, mengabaikan ucapan menusuk Ustadz Adam. Walau ada sedikit sudut hatinya yang merasa terluka. Namun wajar orang tidak percaya padanya, karena memang wajahnya tidak berbeda dengan penjahat sesungguhnya.
"Abi mau ikut?" Tanya Geo dengan suara tetap lembut pada guru spiritualnya itu.
Abi Zayid hanya mengangguk tanpa bersuara. Ia dibuat bingung oleh keadaan, hatinya sangat yakin kalau pemuda di depannya ini orang baik. Namun dari rekaman yang Adam tunjukkan membuatnya jadi berpikir ulang.
Tanpa banyak suara Geo mengajak dua pria beda usia itu untuk naik ke mobilnya. Pikirannya kalut, berharap waktu berhenti sejenak agar Leo tidak menyakiti perempuan yang tidak bersalah. Salahnya tidak mendengarkan peringatan Papa kalau Leo mengincar Aish.
Geo bergegas keluar mobil mendekati asisten dan papanya yang sudah tiba di lokasi lebih dulu.
"Leo dan orang-orangnya sudah pergi saat kami datang. Dia sudah tahu kalau kita sedang meluncur kesini," jelas Ferdinand.
Geo mengabaikan penjelasan sang papa, menerobos masuk mencari keberadaan Aish. Sangat khawatir pada wanita itu, bagaimana tidak, semua terjadi karena dirinya.
Ia menemukan Aish dalam keadaan memeluk lutut di sudut ruangan. Wanita itu sudah tidak menggunakan jilbab dan gamis lagi. Hanya menggunakan tanktop dan celana legging. Tubuhnya bergetar dan suara tangisnya sangat memilukan.
__ADS_1
Geo melepaskan baju kokonya untuk menutupi tubuh Aish, meninggalkan kaos berlengan pendek di tubuhnya. Tapi untuk kepala ia tidak punya apa-apa yang bisa digunakan untuk menutupnya.
"Jangan mendekat!!" Pekik Aish ketakutan melihat orang yang tadi memaksanya berbuat tidak senonoh memberikan baju koko untuk ia gunakan. Pria itu datang dengan tampilan yang berbeda.
"Aku bukan dia, aku datang bersama Abi untuk menyelamatkanmu." Ucap Geo lembut dengan hati teriris melihat betapa kacaunya perempuan itu. Tapi ia yakin Leo belum sempat menyentuh Aish.
"Kamu pembohong, kamu penjahat. Abi dia penjahat!! Dia yang bunuh Ummi!!" Teriak Aish saat melihat sang Abi berdiri di depan pintu dengan berderai air mata. Hanya pria itu yang masuk, Ferdinand melarang yang lain untuk masuk.
"Bukan, bukan dia Nak. Dari tadi Nak Geo bersama kami." Beritahu Abi Zayid sembari membawa putrinya dalam pelukan. Tidak tahu kejadian apa yang sudah Aish lewati hari ini, sehingga membuat penampilannya sangat kacau.
Geo membeku di tempat, tidak percaya kalau pria sepuh itu masih percaya padanya.
"Dia jahat Abi. Dia penjahat!!" Pekik Aish nyaring.
"Pakai dulu bajunya Nak," bujuk Abi Zayid. Membantu Aish menggunakan baju koko milik Geo. Lalu melepaskan sorbannya untuk digunakan sebagai penutup kepala sang putri.
Setelahnya Aish menangis sesenggukan kembali dalam pelukan sang abi. Ia berteriak setiap kali melihat wajah Geo.
Geo menarik napas panjang dengan mata terpejam. Leo sudah berhasil menanamkan dalam pikiran Aish kalau dia adalah penjahat.
__ADS_1