
Geo meninggalkan kantor dengan raut wajah mengeras. Tangannya mengepal kuat saat mendapat kabar istrinya terpeleset di kolam renang.
Apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi. Bukan tanpa alasan Geo mencurigai pelayan barunya itu.
"Aish," setelah sampai Geo langsung masuk ke kamar.
Aish memang ia perintahkan untuk dibawa ke kamar yang ada di lantai satu saja. Cukup kejadian hari ini sebagai pelajaran untuknya. Tidak mau istrinya turun naik tangga lagi, itu sangat beresiko.
"Mas," lirih Aish. Wajah tampan itu sangat kentara kalau sedang marah. Tidak pernah Geo memasang wajah seperti itu di hadapannya. Selelah apapun suaminya itu pasti tetap bersikap lembut padanya.
"Di mana perempuan itu?"
Dari nada suara itu pun Aish bisa menebak kalau suaminya mencurigai Rena.
"Peluk," pinta Aish sengaja dimanja-manjakan. Ia tahu cara memadamkan api amarah suaminya ini.
Geo menarik napas panjang untuk meredakan emosi sebelum membawa Aish dalam pelukan.
"Bukan salah Mbak Rena, aku yang jalan gak hati-hati." Aish berbisik di telinga suaminya dengan lirih.
__ADS_1
"Semua ini pasti rencananya, Aish. Untuk apa dia datang ke kantorku tanpa kamu suruh dan sekarang malah membuat kamu jatuh." Geo sangat yakin pasti Leo yang berada dibalik semua ini. Dengan sengaja memasukkan perempuan itu ke rumahnya. Kenapa Pandu sampai lengah akan hal sepenting ini.
"Istighfar Mas, jangan suudzon." Aish berucap lembut, mengusap dada sang suami agar lebih cepat tenang.
Geo menarik napas panjang, lalu beristighfar sebanyak tiga kali. Ia sering melupakan hal-hal sekecil itu di tengah hatinya yang membara.
"Mbak Rena yang nolong aku Mas, makanya mereka masih selamat." Aish menjelaskan bagaimana Rena yang dengan cepat menangkap tubuhnya sehingga tidak terhempas ke lantai. Malah wanita itu yang lebih sakit karena tertindih tubuhnya.
"Aku khawatir Aish."
Perempuan itu mengangguk kecil, "aku tahu Mas khawatir sama anak-anak. Tapi mereka gak papa, tadi sudah diperiksa dokter. Sekarang Mas harus berterima kasih sama Mbak Rena, hm." Aish tersenyum kecil, ingin melihat bagaimana Geo meruntuhkan prasangkanya sendiri.
Aish mengangguk pasti, "Mbak Rena gak punya niat jahat sama kita. Dia ngirim makanan karena pernah lihat aku membuatkan Mas makan siang," jelasnya.
"Tapi kamu harus tetap hati-hati, Aish. Mulai sekarang kita tempati kamar ini saja, supaya kamu tidak perlu turun naik tangga."
"Iya Mas, iya." Aish menyetujui saja.
"Kamu pasti belum makan siangkan, anak-anak belum dikasih nutrisi juga." Geo mengelus pipi Aish lembut, memberikan kecupan di kening. "Papa pesankan makan siang dulu," katanya mengalihkan perhatian Aish.
__ADS_1
"Minta maafnya kapan Mas?"
"Kapan-kapan," Geo menyibukkan diri dengan ponselnya. Dia tidak akan meminta maaf dengan perempuan itu.
Aish memutar bola mata malas, sudah bisa ditebak jawabannya. Jenisan apa manusia di depannya ini, bisa bersikap lembut padanya tanpa melibatkan perasaan.
"Umma mau makan apa?" Pria itu menunjukkan ponselnya ke Aish untuk memilih makanan yang diinginkannya.
"Gak enak semua," komentar Aish mendorong ponsel Geo. Padahal belum melihat menu keseluruhan.
"Terus yang enak apa, hm. Anak-anak mau makan apa?" Tanyanya seraya memberikan elusan di perut Aish.
"Mau pulang, ketemu kakek." Jawab Aish menirukan suara anak kecil. Ia lama tidak bertemu abi, abi pun belum tahu perihal kehamilannya ini.
"Baiklah anak-anak, kita ketemu kakek. Papa ambilkan pakaian ganti Umma dulu ya," sambil menepuk perut Aish dan memberikan kiss disana setelahnya Geo beranjak.
Aish hanya tersenyum mendapatkan perlakuan itu. "Gak apa kalau Papa cuma sayang sama kalian Nak. Kalian baik-baik ya di dalam, Umma tunggu kalian."
Sekarang anak-anaklah yang menjadi alasan Aish tetap bertahan. Walau tahu Geo tidak pernah mencintainya. Pria itu memang tidak mengabaikannya, tapi Aish juga ingin merasa dicintai.
__ADS_1