Takdir-Ku Kamu

Takdir-Ku Kamu
Part 66


__ADS_3

"Aish, Sayang." Geo bergumam sendiri, menggelepar di tempat tidur hanya menggunakan handuk. Tidak mengejar Aish, karena memilih mengguyur tubuhnya yang kepanasan dengan air dingin.


Ia sudah menyuruh Rena dan Bi Siti untuk keluar dari rumah. Tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi. Entah karena dirinya sedang berhalusinasi atau karena apa. Geo masih belum terpikir untuk menyelidiki. Jangankan untuk melakukan penyelidikan, menyusul Aish saja ia belum mampu.


🍃


"Argh!!" Pria yang hanya menggunakan handuk itu mengerang saat kepalanya terasa pusing. Setelah dibawa tidur tubuhnya sudah lebih baik, hanya saja kepalanya masih agak berat.


Dengan sedikit terhuyung Geo bangkit dari tempat tidur untuk mengenakan pakaiannya. Ia harus cepat menyusul Aish, menjelaskan semua kesalahpahaman ini.


Tujuan Geo sekarang rumah abi. Mau kemana lagi Aish kalau bukan ke tempat abi. Orang yang Geo cari masih berada di pesantren. Dengan tidak sabaran Geo menunggu sang mertua pulang.


"Abi, Aish ada pulang?" Tanya Geo dengan perasaan cemas. Bagaimana tidak, istrinya itu sedang membawa anak-anaknya dalam perut.


Abi Zayid yang baru pulang dari masjid mengernyit bingung, "mungkin ada di dalam." Ujarnya yang belum masuk ke rumah, Geo sejak tadi memang menunggu di teras saat pelayan mengatakan pemilik rumah masih di luar.

__ADS_1


"Ada apa?" Pria berumur itu bertanya dengan nada khawatir, mengajak menantunya masuk. Aish seperti pergi tanpa pamit sehingga suaminya cemas.


"Bawaan bayi Bi, merajuk." Pria itu beralasan, mana mungkin Geo jujur kalau Aish marah karena melihatnya dengan perempuan lain.


"Gak ada di sini, coba kamu cari di rumah Nasya?" Usul Abi Zayid dengan helaan napas berat. Setelah mencari ke seluruh ruangan di rumahnya tidak ada sang putri. Pelayan juga mengatakan Aish tidak ada pulang ke rumah.


"Geo pamit Abi," dengan buru-buru Geo mengambil tangan sang mertua dan berpamitan. Hari sudah sore, ia khawatir kalau Aish tidak ditemukan sampai malam.


"Hati-hati, bawa putri Abi pulang." Sama seperti Geo, Abi Zayid juga mencemaskan putrinya yang sedang mengandung.


Sekarang tujuannya rumah Nasya, bocah kecil yang selalu memanggilnya dengan sebutan Om Penculik. Ternyata sang istri juga tidak ada disana. Geo mengusap wajah gusar, hanya karena kesalahan kecil kenapa istrinya itu marah besar.


Ya kecil bagi Geo, karena dia tidak melakukan apa-apa. Terburu sadar saat Aish datang memergokinya. Mungkin kalau Aish tidak melihatnya, bisa saja dia khilaf karena menganggap asisten rumah tangganya itu adalah Ara. Dan saat itu terjadi, dirinya dalam pengaruh obat yang entah itu apa. Pasti ada orang yang menjebaknya.


"Om penculik, bunda mana?" Nasya mendatangi pria yang sedang berbicara dengan ayahnya. Tanpa sungkan anak itu merentangkan tangan minta digendong.

__ADS_1


"Bunda ada di rumah," jawab Geo dengan berbohong sambil tersenyum membawa bocah kecil itu dalam gendongan.


"Kakak, sudah besar hm. Masih minta gendong," tegur Adnan pada putrinya yang tidak sungkan pada Geo.


"Kakak masih kecil Abi, Om penculik masih mampu gendong Kakak. Abi aja yang gak mau gendong kakak," sindir bocah itu pedas.


"Nasya mau ikut Om ketemu Bunda," rengek Nasya.


"Gak bisa sekarang Sayang. Nanti Om kesini lagi sama bunda ya." Tolak Geo lembut, pencariannya masih berlanjut. Gadis bernama Nasya itu memanyunkan bibir cemberut.


"Kakak sama Abi sini." Adnan merentangkan tangan, paham kalau tamunya sedang buru-buru. Dengan sangat terpaksa Nasya berpindah tempat.


"Om pulang," pamit Geo mengusap kepala Nasya.


Ia tidak mau kalau Aish berada diluar terlalu lama. Itu bisa membahayakan keselamatannya. Belum lagi dia yang tidak bisa mengendus keberadaan Leo. Entah siapa yang berada dibalik adiknya itu, sampai sekarang Geo tidak bisa menemukan persembunyian nya.

__ADS_1


__ADS_2