
Di ruang tengah yang telah disulap menjadi tempat akad, Geo menjabat tangan Abi Zayid. Walau sudah berusaha santai tetap saja tangannya bergetar. Dan hal itu disadari oleh calon mertuanya, membuat Geo digoda habis-habisan.
Hanya kerabat dekat kedua belah pihak yang hadir disana. Tidak banyak tamu yang diundang sesuai keinginan Aish.
Setelah seruan Sah keluar dari mulut para saksi barulah Geo bisa bernapas dengan lega. Sekarang dia telah mengambil alih tanggung jawab atas Aish. Perempuan itu sudah sah menjadi istrinya.
Baru saja mereka mengucapkan hamdalah suara teriakan yang berasal dari kamar Aish terdengar nyaring.
"Biar saya yang lihat ke dalam," Geo menahan Abi Zayid yang ingin beranjak. Tidak ingin alasan pernikahan mereka terbongkar secepat ini karena Aish yang kemungkinan menyesali keputusannya.
“Ada apa?” Tanya Geo, Aish tengah mengamuk membanting barang apa saja yang ada di dekatnya. Riasan di wajah cantiknya sudah berantakan, wanita itu tidak menangis lebih terlihat seperti sedang marah. Geo tidak tahu penyebabnya, Aish marah padanya atau pada pernikahan ini.
“Gak tahu Mas, tiba-tiba mengamuk saat membaca surat itu?” Jawab salah satu MUA.
“Surat?” Geo mengernyitkan kening.
“Iya,” tunjuknya pada kertas yang masih di genggam Aish. Saking kuatnya tangan itu menggenggam sampai urat-uratnya menegang.
“Kalian keluar dan jangan membicarakan apapun setelah keluar dari kamar ini.” Ucap Geo dengan tegas, lebih tepatnya memberikan ancaman.
__ADS_1
Dua orang wanita itu mengangguk patuh meninggalkan kamar pengantin.
Geo berjalan mendekati Aish, perempuan itu masih belum menyadari kehadirannya. Tidak ada benda yang pecah, hanya botol-botol scincare yang berserakan di lantai.
“Lihat!” Geo menegakkan tubuh Aish yang satu tangannya mencengkram kuat meja rias. Menunjuk cermin yang menampilkan wajah berantakan wanita itu.
Perlahan Geo membuka jalinan genggaman Aish di tangan yang lain. Lalu mengambil kertas dan membaca tulisan yang ada disana.
“Hanya karena kalimat sampah seperti ini kamu mengamuk?” Pertanyaan ketus dari Geo membuat Aish menangis.
Aish dibuat down. Kenapa dia sangat lemah, tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Hanya karena hal seperti itu saja emosinya meledak. Padahal selama ini dia paling bisa menjaga emosi.
"Dan ini,” Geo menunjuk benda-benda yang berserakan di lantai lalu beralih ke wajah Aish. "Juga ini, kamu membuat orang lain repot harus bekerja dua kali untuk membereskan kamar dan riasan kamu."
Paham dengan maksud Geo, sambil sesenggukan Aish memunguti barang-barang yang tadi dilemparnya. Mengembalikan ke tempat semula dengan tangan bergetar. Dia seperti bukan seorang istri, tapi seperti pembantu yang sedang dimarahi majikan karena melakukan kesalahan.
“Kita tidak hidup dari pujian orang lain dan kita tidak mati karena cacian orang lain. Perkataan, cacian, hinaan tidak bisa menentukan kualitas diri kita. Cara kita merespon yang menentukan diri kita emas atau sampah. Hidup ini tentang kamu. Tidak ada yang bisa menyakitimu kalau kamu tidak mengizinkannya. Kamu boleh marah, mengamuk seperti ini tapi jangan ada yang tahu selain dirimu sendiri dan aku.”
Aish terdiam dengan sesenggukan kecil. Ia jadi malu berkali-kali lipat. Pria itu seakan menampar keras dirinya.
__ADS_1
Geo membawa tubuh Aish yang masih bergetar untuk duduk, “luapkan semua emosimu sekarang. Setelah lega baru kita keluar,” katanya mengambilkan air mineral dengan sedotan yang sudah disiapkan agar lipstiknya tidak carut marut. Lipstiknya memang tidak berantakan tapi riasan wajahnya yang berantakan.
“Aku benci sama diriku sendiri. Aku jijik dengan diriku, aku malu sama kamu Mas. Aku ini hanya terlihat baik tapi sebenarnya tidak baik. Dan aku,,,” Aish tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi, kamu tetap berharga. Kalau orang lain yang membenci itu biasa, tapi bagaimana kalau yang membenci malah diri sendiri. Diri ini perlu cinta dari si pemilik tubuhnya sendiri." Geo memegang lembut kedua bahu Aish sambil menepuk-nepuknya.
"Bagaimana kamu mau hidup tenang dan bahagia kalau kamu sendiri yang jadi pembenci.” Lanjutnya mengambil tisu lalu membersihkan air mata di wajah istrinya. “Aku bilang jangan cantik-cantik, tapi jangan dirusak dengan menangis juga riasannya.”
“Maaf,” lirih Aish malu. Tadi amarahnya langsung meledak saat membaca surat itu.
“Maaf tidak akan bisa membetulkan make up ini. Minta maaflah pada dirimu sendiri sebelum pada orang lain. Cintai dia yang sudah sekuat ini, ” ujar Geo merapikan hijab Aish dengan keahlian seadanya.
“Aku harus pakai yang mana untuk merapikannya,” tanyanya melihat kotak make up yang berisi benda-benda asing di matanya.
Aish menggeleng tidak tahu, dia tidak pernah menggunakan peralatan make up apapun selain bedak. “Aku minta mereka benerin make up nya, nanti ada yang jemput kamu. Jangan mengamuk lagi, jaga tubuh ini. Dia milikku,” Geo menepuk puncak kepala Aish setelah berpesan seperti itu.
Aish dibuat mematung menatap punggung Geo yang meninggalkan kamar. Kadang pria itu berbicara sangat ketus sampai membuat mentalnya down. Tapi kadang juga berbicara penuh perhatian membuat hatinya seketika melayang.
Tidak Aish tahu saja, Geo keluar kamar dengan menahan amarah. Tentu dia tahu siapa penulis surat sialan itu.
__ADS_1