
Aish membawa tumpukan berkas CV taaruf ke kamar, meletakkannya ke atas meja rias. Beberapa waktu ini ia enggan untuk menyentuhnya. Tidak ada yang salah dengan mereka, hanya saja ia yang sudah terlalu malas untuk berurusan dengan hal-hal seperti ini lagi.
Tapi karena saran Abi yang memintanya untuk memilah-milah dulu, yah ia menurut saja. Wanita itu membaca dan menelaah satu persatu kertas-kertas yang berisi biodata, visi dan misi pernikahan dari para ikhwan.
Sampai sepertiga berkas sudah Aish baca, namun belum ada yang bisa membuat hatinya tersentuh. Mungkin karena sudah terlalu lelah berharap dipertemukan dengan pria yang tepat. Hingga membuatnya hatinya membeku dan sulit untuk disentuh.
Ia tidak ingin merasakan kecewa karena manusia lagi. Jadi lebih kepada pasrah menanti datangnya jodoh. Senjatanya hanya melangitkan doa, disaat dirinya sudah menyerah dengan ikhtiar bumi.
Aishabella ini hanya manusia biasa, yang memiliki rasa lelah. Hingga puncaknya ia memilih berhenti dari hal yang membuatnya tertekan sendiri. Ya, melihat berkas-berkas taaruf ini menciptakan tekanan batin di hidupnya.
Helaan napas berat keluar dari mulut Aish. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu menutup mata setelah selesai membaca cepat puluhan CV taaruf. Tangannya memegang salah satu amplop yang ia ambil paling terakhir.
Tidak mungkin ia mengatakan pada Abi kalau tidak ada yang membuat hatinya tertarik. Toh, kalau tidak berjodoh Allah akan memiliki caranya sendiri untuk menggagalkan. Begitu juga sebaliknya, saat ini yang ia pikirkan hanya kebahagiaan Abi. Ya, walau dengan cara yang salah karena mengorbankan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dengan Bismillah ia akan memantapkan hati untuk memulai ibadah terlama ini. Orang bilang cinta akan hadir karena terbiasa. Semoga saja itu juga berlaku untuk dirinya.
Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan Abi. Selagi Abi masih sehat dan bisa membahagiakannya. Tidak tahu kapan Allah memisahkan mereka. Membayangkan itu membuat Aish bergidik ngeri. Bagaimana hidupnya nanti kalau Abi tidak ada yang menemani hari-harinya.
Hanya perihal jodoh saja membuatnya overthinking kemana-mana. Sejujurnya ia takut orang terpaksa menikah dengannya hanya karena memandang hormat pada Abi. Ia takut kalau orang yang menikahinya itu ternyata sedang menyimpan nama lain dihatinya.
Sepertinya kejadian masa lalu menciptakan memori tersendiri di kepalanya. Membuat Aish lebih protek terhadap hatinya agar tidak terluka lagi.
🍃
Terpaksa ataupun tidak Aish akan tetap melakukannya untuk Abi. Untuk sekarang urusan hatinya jadi yang kesekian. Wanita itu tersenyum simpul menggelengkan kepala, masih dalam balutan mukena. Mereka baru pulang sholat subuh di masjid.
"Abi tidak mau kamu terpaksa melakukan ini," katanya mengajak Aish untuk duduk. "Menikah itu merupakan ibadah terlama yang paling dibenci setan. Sudah tentu akan ada banyak ujian didalamnya, perlu kesiapan fisik dan mental. Kalau kamu terpaksa melakukannya bisa saja nanti jadi bumerang untuk dirimu sendiri," nasehat Abi Zayid diikuti usapan di puncak kepala Aish.
__ADS_1
Aish tidak mampu menjawab, karena semua yang Abi katakan itu memang hal yang membuatnya takut.
"Abi bukan mau menakuti kamu. Abi hanya ingin kamu yakin akan pilihanmu nanti dan tidak ada penyesalan disana."
"Aish tahu Abi, semua sudah Aish pikirkan." Aish tersenyum meyakinkan sang abi, walau masih ada keraguan di relung hatinya. Namun tidak ia ungkapkan. Orang cukup tahu kalau dirinya baik-baik saja, perihal hati biar ia urus sendiri.
🍃
Geo memijat pelipisnya yang berdenyut, matanya perih karena semalaman tidak bisa tidur. Hidupnya selalu dihantui bayang-bayang Ara. Sesulit ini melupakan gadis pujaannya itu.
Berulang kali mengingatkan dirinya sendiri kalau gadisnya itu sudah bahagia bersama pria lain. Namun tetap saja, hatinya terlalu bebal untuk dinasehati. Lebih memilih terluka daripada membuka hati untuk orang baru.
Pria itu berhenti sejenak duduk di pinggiran trotoar, membenamkan kepalanya yang terasa pusing ke lutut. Kurang tidur dan tidak makan sejak semalam membuat tubuhnya tidak bertenaga.
__ADS_1
Hari ini ia tidak jogging di sekitar taman, melainkan mencoba rute lain ke daerah kompleks perumahan. Taman selalu mengingatkannya tentang Ara. Namun ia sering mengunjungi tempat itu untuk membunuh rasa rindunya.
Tepukan di punggung membuat Geo mengangkat wajahnya yang memucat. Matanya berkunang-kunang tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di depannya. Ia tidak pernah selemah ini menjalani hidup. Tapi sekarang ia tidak bisa untuk berpura-pura kuat.