
"Kamu serius minta aku berhenti jadi playboy?" tanya Sandi dengan begitu bersemangat.
"Iya! Aku capek ketemu gadis-gadis itu buat bilang kalau kamu mutusin mereka. Jadian aja aku gak tahu, giliran putus harus aku yang maju. Kamu pikir aku ini apa?" sentak Thalia sengit.
"Tentu saja kamu talinya sandal. Jangan marah lagi dong. Aku janji ini yang terakhir kamu yang mutusin mereka. Sekarang kita makan yuk! Mau aku suapi?" Sandi langsung mengambil cemilan dari piring dan mengarahkan ke mulut Thalia.
Meskipun masih kesal, tak urung gadis itu memakan makanan yang diberikan Sandi. Namun ide jahilnya tiba-tiba muncul saat Sandi menyuapi untuk yang ketiga kalinya, dia langsung menggigit tangan sahabatnya.
"Aw ... Tanganku bukan makanan! Kamu sengaja ya!" tuduh Sandi.
"Emang, aku masih kesal sama kamu."
"Aku juga kesal sama kamu, kenapa semalam jendela kamarnya dikunci? Aku kan kedinginan di luar, mana ada suara-suara yang ...." Sandi tidak melanjutkan ucapannya, dia lupa kalau yang akan dia bicarakan itu orang tua sahabatnya.
"Suara apa?" tanya Thalia penasaran.
"Suara Nyi Kukun yang ada di pohon kedondong tetangga kamu itu."
"Kamu serius?" tanya Thalia dengan mata yang melotot. Gadis itu memnag selalu takut dengan mahkluk halus.
"Iya aku serius, makanya mending tinggal di apartemen aku saja," bujuk Sandi.
"Ya udah deh! Nanti pulang kerja bawa baju dulu ke rumah," sahut Thalia.
"Ngapain? Kan ada baju kamu di apartemen aku."
"Oke deh! Tapi kamu gak boleh ninggalin aku sendiri di apartemen. Pokoknya harus diajak, kalau gak, aku pulang ke rumah."
"Siap sayang!" Sandi mencium pipi Thalia sekilas. dia senang karena akhirnya tidak merasa sendiri lagi di apartemen.
Meskipun memang benar dia memiliki banyak pacar tapi Sandi tidak pernah mengajak mereka main ke apartemennya. Karena biasanya dia yang datang menemui pacar-pacarnya di luar. Begitupun saat diajak main ke rumah mereka, dia selalu berusaha untuk mengelak-nya.
...***...
Sebenarnya enggan playboy itu mengantar sahabatnya pulang ke rumahnya. Akan tetapi, dia tidak punya pilihan saat ayahnya Thalia menyuruh putrinya untuk segera pulang ke rumah. Mau tidak mau, akhirnya dia mengantar Thalia untuk pulang.
"Tali, kalau urusan dengan ayahmu selesai, kita langsung ke apartemen saja atau kamu mau main dulu?" tawar Sandi.
__ADS_1
"Kita nonton dulu yuk! Katanya ada film baru yang seru," ajak Thalia.
"Boleh. Nanti aku tunggu di rumah ibu kost ya! Aku malas ketemu dengan ibu kamu."
"Iya iya ngerti!"
Selama perjalanan menuju ke rumah Thalia, tak hentinya bibir Sandi menyunggingkan senyuman. Harapannya untuk bisa satu atap dengan Thalia sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Tak lupa dia pun membawa banyak makanan enak sebagai sogokan buat ibu tiri Thalia yang cerewet.
"Kasihin ke ibu kamu, bilang aku habis dapat bonus dari bos," ucap Sandi seraya menyerahkan satu kantong kue dan snack.
"Banyak amat, sampai satu kantong besar begini."
"Gak apa! Biar Ibu kamu gak suka hina kita lagi."
Tidak butuh waktu lama, mobil yang Sandi bawa sudah tiba di rumah gadis itu, Sandi maupun Thalia sempat terkejut melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah Thalia. Thalia pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengurangi rasa penasarannya. Sementara Sandi melajukan kembali mobilnya menuju rumah ibu kost-nya dulu.
Belum sempat Thalia memberi salam, ibunya sudah berbicara Terlebih dahulu. "Loh Thalia sudah datang!"
"Iya, Bu! Maaf kalau kedatangan saya mengganggu pembicaraan Tuan dan Nyonya," ucap Thalia seraya sedikit membungkuk pada tamu yang berkunjung ke rumahnya.
"Tidak apa! Ayo sini duduklah! Kamu yang bernama Thalia? Cantik ya, Mah! Pasti Jojo suka," ucap Tuan Simon.
"Sebenarnya saya kurang suka dengan perjodohan. Tapi kalau putri saya tidak keberatan, saya pasti akan merestui," ucap Pak Gerry.
"Baik, Pak. Silakan dibicarakan lagi. Saya menunggu kabar baik secepatnya," ucap Tuan Simon.
"Nak Thalia kerja di mana?" tanya Nyonya Raline.
"Di Sanly kafe, Nyonya!" sahut Thalia.
"Oh, kafe yang lagi booming itu ya!"
"Iya, Nyonya!"
"Tidak apa, kerja di mana pun yang penting halal ya dan tidak merugikan orang lain."
"Anda benar sekali, Nyonya. Tapi terkadang ada orang yang memandang rendah pekerjaan seorang pelayan kafe. Padahal, tanpa mereka kita tidak mungkin bisa merasakan bagaimana rasanya dilayani," sindir Thalia.
__ADS_1
"Ternyata calon menantu kita pandai berbicara," puji Raline dengan mengedipkan mata pada suaminya.
"Kalau begitu, kami permisi pulang dulu, Pak Gerry, Bu Eva. Kami tunggu kabar baiknya ya!"
"Baik, Tuan! Terima sudah berkunjung ke gubug kami," ucap Pak Gerry.
Setelah cukup berbasa-basi, Tuan Simon dan istrinya pun langsung pergi meninggalkan rumah Pak Gerry. Kini tinggallah Thalia dan kedua orang tuanya. Tanpa basa-basi lagi, Eva langsung bicara pada putri sambungnya.
"Bagaimana Thalia? Kamu mau kan menikah dengan putra sulungnya Tuan Simon. Dia seorang superstar loh! Kamu tahu Jojo Frizt? Ternyata dia putra Tuan Simon. Tapi aku gak ngerti, kenapa dia memilih kamu untuk dijadikan menantunya. Padahal Tifani jauh lebih cantik dari kamu."
"Tadi siapa, Bu? Yang mau dijodohkan sama aku, Jojo Frizt?"
"Iya, yang sering hilir mudik di televisi. Kamu seneng kan mau nikah sama artis? Udah maharnya gede, Tuan Simon mau bantu ayah kamu bikin swalayan pula. Udah terima saja."
"Kalau Jojo Frizt yang mau jadi calon suamiku, aku pasti mau. Dia kan idola aku," ucap Thalia dengan wajah yang berbinar.
"Serius kamu tidak keberatan, Nak?" tanya Pak Gerry dengan menatap dalam putrinya.
"Iya, Ayah! Benar kata Ibu, tidak ada ruginya buat aku menikah dengan artis. Apalagi dia artis idolaku," sahut Thalia.
"Baiklah kalau itu sudah keputusan kamu. Bapak akan bicara dengan Tuan Simon nanti," ucap Pak Gerry.
Entah kenapa aku merasa ada hal yang aneh dengan perjodohan ini. Tapi sudahlah, mungkin Thalia sudah saatnya bertemu dengan jodohnya, batin Pak Gerry.
"Si Ayah! Ngapain tunggu nanti? Kenapa gak sekarang saja menelpon Tuan Simon." Eva langsung mengambil ponselnya ingin menghubungi calon besannya.
"Ibu itu bagaimana? Mereka masih di jalan. Sabar Bu, tunggu mereka sampai di rumahnya."
"Hehehe ... Iya Ibu lupa. Saking senangnya mau besanan dengan orang kaya," ucap Eva cengengesan.
Thalia hanya memutar bola matanya malas melihat kelakuan ibu tirinya. Kalau sudah urusan uang, pasti Eva menjadi garda terdepan yang menengadahkan tangannya.
"Oh Iya, Bu. Ini dari Sandi, katanya buat Ibu karena dia baru dapat bonus." Thalia langsung memberikan makanan yang tadi diberikan oleh Sandi kepadanya.
"Wah ... Wah ... Wah, hari ini ketiban rejeki nomplok. Lia, kamu terima saja apapun yang sahabat kamu kasih tapi awas saja kalau sampai jatuh cinta sama dia!"
Ibu telat, karena aku sudah jatuh dalam pesonanya. Tapi Jojo Frizt membuat aku jatuh sejatuh- jatuhnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kak!...