
Keesokan paginya, Sandi sudah siap dengan kursi rodanya. Thalia pun sudah terlihat segar selepas membersihkan diri. Mereka berdua sedang menunggu kedatangan Tuan Morgan yang akan menjemputnya.
"Tali, nanti tidur bersamaku ya!" pinta Sandi.
"Mana boleh, Sandal. Kita kan belum resmi nikah," sanggah Thalia.
"Kalau pen ini sudah dilepas, mau kan nikah secepatnya sama aku?" tanya Sandi dengan sorot mata yang penuh dengan pengharapan.
"Aku menolak pun, kamu pasti maksa. Bukankah aku tidak punya pilihan selain bersedia menikah dengan kamu?"
"Gadis pintar! Memang hanya kamu yang tepat berdiri di samping aku," ucap Sandi dengan tersenyum cerah.
"Sandal, memang tidak mengapa kalau Melati dekat dengan Jojo. Apa pacarnya Jojo tidak akan marah?"
"Itu urusan dia. Kamu tahu, aku pernah melihat mereka sedang ...." Sandi menggantungkan ucapannya. Dia memberi kode pada Thalia untuk mendekat ke arahnya. Karena penasaran dengan cerita Sandi, Thalia pun mendekat ke arah pemuda tampan itu.
"Sedang apa?" tanya Thalia penasaran.
"Sini aku bisikkin!"
Lagi-lagi Thalia hanya menurut dengan apa yang Sandi katakan. Sampai akhirnya saat wajahnya dengan wajah Sandi sudah sangat dekat, Sandi langsung menahan wajah Thalia dan segera meraup candunya.
Rasanya sudah sangat lama, Sandi tidak merasakan sensasi yang seperti dia rasakan sekarang. Dia terus saja mengeksplor seisi rongga mulut Thalia hingga terdengar suara decapan dan decakan memenuhi seisi ruang rawat inap. Sampai saat keduanya sudah sama-sama kehabisan napas, barulah Sandi dan Thalia saling melepaskan pagutannya.
"Kenapa berhenti?" celetuk Melati yang sudah berdiri di ambang pintu bersama dengan Jojo.
Sontak saja kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu menengok ke arah asal suara. Wajah Thalia langsung merah padam. Ketika dilihatnya Melati dan Jojo yang masih terbengong di tempatnya.
"Kalian mengintip?" tuduh Sandi.
"Tidak! Kami ke sini untuk menjemput kamu," elak Jojo.
"Bukan kita yang mengintip, tapi kalian yang tidak sadar tempat. Sudah tahu rumah sakit tapi malah main adu bibir," ketus Melati. "Tapi makasih deh. Kalian sudah kasih tahu cara berciuman. Aku tinggal praktek saja sama Idola," lanjutnya dengan tersenyum senang.
"Dasar!" sungut Thalia.
"Apa Om Morgan belum datang?" tanya Jojo langsung mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Katanya masih di jalan," jawab Sandi.
"Oh, kalau Om Morgan datangnya masih lama, bagaimana kalau pakai mobil aku saja. Biar Om Morgan tidak usah datang kesini," saran Jojo.
__ADS_1
"Tidak usah, Jo! Sebentar lagi, papaku datang."
Baru saja Sandi selesai bicara, terlihat pintu kamar inap ada yang membukanya dari luar. Nampak Tuan Morgan datang untuk menjemput putranya. Setelah cukup saling sapa, mereka pun akhirnya pulang ke rumah Tuan Morgan.
Setibanya di rumah, Sandi langsung disambut oleh semua pekerja di rumah itu. Mereka begitu antusias menyambut kedatangan tuannya. Karena sudah sangat lama, Sandi tidak pulang ke rumah itu.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda!" kompak seluruh pekerja di rumahnya.
"Jangan panggil Tuan Muda! Panggil saja Sandi."
Sandi langsung memberi kode pada Thalia agar segera mendorongnya ke dalam. Dia ingin segera merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Thalia yang mengerti keinginan Sandi, dia pun kembali mendorong kursi roda setelah terlebih dahulu tersenyum pada semua pekerja di rumah itu.
"Tali, bantu aku! Rasanya pegal sekali tubuhku jika terus-terusan duduk. Aku ingin berjalan tapi gak bisa," keluh Sandi.
"Sabar! Aku yakin, kamu pasti bisa berjalan kembali," ucap Thalia meyakinkan.
"Benar, Boy. Kamu harus lebih bersemangat agar secepatnya kalian menikah," timpal Tuan Morgan. "Oh, iya Jo. Kalau kamu dan pacarmu ingin menginap, pilih saja kamarnya. Nanti beritahu Pak Heri kalau kalian akan memakai kamar itu," lanjutnya.
"Iya, Om. Terima kasih," ucap Jojo.
"Kalau begitu, Om mau ke ruang kerja dulu. Kalian istirahatlah!" pamit, Tuan Morgan.
Selepas kepergian Tuan Morgan, Jojo pun mendekat ke arah Sandi. Dia ingin membantu laki-laki untuk berpindah ke tempat tidur. Tak lupa Jojo meminta ijin dulu pada Sandi saat dia akan memindahkannya.
Sandi langsung terdiam saat mendengar nama kecilnya dipanggil oleh Jojo. Karena hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu nama kecil dia. Namun setelah perceraian itu, Sandi tidak mau memakai nama kecil yang diberikan oleh mamanya.
"Namaku Sandi. Jangan pernah panggil aku dengan nama itu," jawab Sandi.
*Ternyata dia masih belum bisa memaafkan. Nama itu yang yang dulu diberikan Mama Raline. Bahkan aku memakai nama pemberiannya sebagai nama panggung aku*, batin Jojo.
"Oh, oke! Boleh aku membantu kamu?" tanya Jojo mengulangi pertanyaannya.
"Iya," jawab Sandi singkat
Jojo dan Thalia langsung membantu Sandi untuk berpindah ke tempat tidur. Dia merangkulkan kedua tangannya pada Jojo dan Thalia. Perlahan Jojo dan Thalia memindahkan Sandi ke tempat tidur.
"Malam ini kalian menginap saja di sini. Kita main kartu," pinta Thalia saat Sandi sudah duduk di tempat tidur.
"Gak akh! Aku ada PR dengan idola," tolak Melati dengan kedua sudut bibir yang melengkung.
"PR apaan? Memang kamu sekolah lagi?" tanya Thalia penasaran.
__ADS_1
"Kepo! Urusin aja nih bayi besar kamu. Sekalian kasih mimi cucu biar anteng," kelit Melati.
"Bener Yang, gak usah urusin mereka. Mending ikuti kata sahabat kamu aja. Aku dikasih ...."
Pletak!
Dengan refleks tangan Thalia menyentil tangan Sandi. Dia kesal dengan keinginan laki-laki itu yang mulai menjurus ke hal yang iya-iya. Apalagi kalau hal itu dibahas di depan orang lain.
"Sandal, lama-lama otak kamu semakin tercemar. Kenapa isinya yang iya-iya terus?" geram Thalia.
"Gak tahu, mungkin karena kamu yang selalu menggoda aku," jawab Sandi enteng
"Bukan Thalia yang menggoda kamu, tapi otak kamu yang sudah terkontaminasi oleh artis bohay itu. Ngaku deh, pasti kamu sudah iya-iya kan sama dia," tuduh Melati.
"Tidak baik menuduh tanpa bukti," bela Jojo.
"Tuh dengar! Memang kamu lihat aku sama dia lagi ituan. Kalau sama Tali, aku ngaku sering ngelakuin seperti yang kalian lihat," seru Sandi tanpa malu sedikit pun.
"Sandal, kamu ngeselin!" sewot Thalia
"Mel, ayo kita pulang! Biarkan Sandi istirahat," ajak Jojo kemudian. Rasanya dia malas mendengar perdebatan yang tidak penting itu. Lebih baik Jojo beristirahat di rumah mumpung sedang tidak ada syuting.
"Ya udah yuk! Kita bikin cerita sendiri ya Idola," ujar Melati dengam senyum malu-malu.
"Astaga Mel! Kenapa kamu jadi seperti itu?" Thalia menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan sahabat.
"Apaan sih Thalia? Memang kamu doang yang bisa, aku juga bisa. Jangan ngiri ya! Karena aku yang dapatkan dia. Malah aku sudah ...." Melati tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya menunjuk pipinya sendiri.
"Sedekat itu? Kenapa waktu itu aku mau pegang pipi gak boleh? Sedangkan kamu bisa cium Idola. Aku mengiri," sungut Thalia.
Wajah Sandi langsung mengeras mendengar apa yang Thalia katakan. Hatinya bergemuruh menahan rasa kesal. Rasanya dia tidak ikhlas Thalia begitu mengagumi Jojo. Meskipun hanya sebatas fans dan idolanya.
"Aku pulang ya! Kamu cepat sehat, mungkin nanti Mama akan ke sini. Apa kamu mengijinkan mama berkunjung ke sini?" tanya Jojo pada Sandi.
"Iya," ketus Sandi.
"Jangan cemburu sama aku! Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Melati. Mungkin beberapa hari setelah pernikahanmu. Kalau kamu tidak keberatan, kita lakukan resepsi pernikahan bersama."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....