
Seminggu sudah Sandi berada di rumah sakit. Tuan Morgan sudah memindahkan Sandi ke rumah sakit yang peralatan medisnya lebih lengkap. Tidak ketinggalan Thalia pun ikut serta diajak. Namun hal itu membuat Camelia menjadi berang. Karena dia harus kehilangan jejak laki-laki yang dicintainya.
Setiap hari Thalia dengan setia menemani Sandi. Dia selalu menumpahkan keluh kesahnya pada sahabatnya itu. Meskipun pemuda tampan itu tidak pernah meresponnya. Terkadang Thalia pun membacakan buku komik Sinchan kesukaannya dan Sandi.
Seperti hari ini, Thalia membacakan buku komik dengam suara yang bergetar. Dia menahan tangisannya saat teringat kebersamaannya dengan Sandi. Saat dulu masih memakai seragam putih abu. Meskipun sahabatnya itu dieluk-elukan oleh banyak gadis di sekolahnya, tetapi ke mana pun Sandi pergi pasti bersama dengan Thalia.
"Sandal bangun! Kenapa kamu betah sekali tidur? Kamu tahu tidak, papa kamu sering lupa makan karena terus kepikiran kamu. Mama kamu juga setiap hari datang ke sini, meskipun dia tidak menginap. Bahkan Jojo dan Melati sesekali menjenguk kamu. Hanya saja, semenjak di pindah ke sini Camelia tidak pernah datang mengunjungi kamu." Thalia menghela sejenak ucapannya dengan menempelkan telapak tangan pemuda itu ke pipinya.
"Sandal, apa kamu tidak merindukan aku? Aku sangat merindukan kamu. Kenapa kamu tega membuat aku kesepian? Aku tidak memiliki teman untuk bercerita. Sandal, cepatlah bangun!" Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Thalia, membasahi telapak tangan Sandi yang masih menempel di pipinya.
“Sandal, aku sudah membuat keputusan. Apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sisimu. Aku percaya padamu! Aku akan menemani kamu untuk menghadapi Camelia. Entah kenapa aku merasa dia begitu terobsesi oleh kamu.” Thalia menghentikan ucapannya. Dia melihat ke arah wajah Sandi yang masih terlelap.
Perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium kedua pipi pemuda tampan itu. Thalia tersenyum melihat wajah tampan itu. Tangannya terulur mengelus bibir merah kekaasih hatinya. Lagi-lagi Thalia tersenyum saat mengingat setiap kali mereka saling berpagutan, menyalurkan seluruh rasa yang tersimpan rapi di hati.
“Selamat malam, Sandal. Semoga kita bisa bertemu di alam mimpi,” ucap Thalia denga mengecup singkat bibir Sandi.
Namun, di saat yang bersamaan, jari-jari tangan Sandi bergerak. Perlahan dia pun membuka matanya. Dia terus mengerjap untuk menyesuaikan pupil matanya dengan cahaya.
“Sandal, kamu bangun? Syukurlah, sebentar aku panggilkan dokter,” Wajah Thalia terlihat bahagia saat melihat Saandi sedang mengerjakan matanya. Dia pun segera menekan tombol panggilan pada tim medis.
“Hallo, ada yang bisa kami bantu?” ucap seseorang yang suaranya terdengar dari pengeras suara.
"Pasien yang bernama Sandiaga Lancanter sudah sadat, Mbak. Tolong beritahu Dokter Leon," pinta Thalia.
"Baik, Mbak! Tunggu sebentar!"
"Haus," ucap Sandi pelan.
Thalia dengan sigap mengambil botol mineral yang tersimpan di nakas. Dia pun memberi sedotan agar mempermudah Sandi untuk meminumnya. Tak berapa lama kemudian, datang dokter dan perawat yang akan memeriksa kondisi Sandi.
Seraya menunggu dokter memeriksa keadaan Sandi, Thalia pun segera menghubungi Tuan Morgan. Karena pria paruh baya itu meminta untuk segera diberitahu jika Sandi sudah sadar.
"Hallo, Om!" sapa Thalia saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Iya, Thalia. Apa Sandi sudah sadar?" todong Tuan Morgan.
__ADS_1
"Sudah, Om. Ini Thalia mau memberi tahu Om kalau Sandi sudah sadar. Sekarang sedang diperiksa oleh dokter," ucap Thalia.
"Oh, oke. Om ke sana sekarang." Tuan Morgan langsung menutup sambungan teleponnya. Dia bergegas untuk berangkat ke rumah sakit.
Tidak jauh dengan Tuan Morgan, Nyonya Raline pun langsung bergegas menuju ke rumah sakit saat diberi tahu oleh Thalia kalau Sandi sudah siuman. Kedua orang Sandi itu begitu terburu-buru menuju ke rumah sakit. Karena mereka sudah tidak sabar untuk melihat keadaan putranya.
Sementara Thalia hanya bisa menatap sendu kekasih hatinya saat dokter memberitahukan kalau Sandi mengalami kelumpuhan sementara. Jika Sandi rajin terapi maka kemungkinan besar dia bisa berjalan kembali seperti sedia kala.
"Tali, apa kamu kamu malu memiliki suami yang lumpuh?" tanya Sandi sendu saat dokter sudah keluar dari ruang rawat inapnya.
"Shutt! Jangan bicara seperti itu! Aku tidak pernah merasa malu berdiri di samping kamu. Bagaimana pun keadaan kamu." Thalia langsung menempelkan telunjuknya di bibir sensual Sandi. Dia ingin membesarkan hati Sandi dengan apa yang menimpanya.
"Aku malah senang, kamu sudah sadar. Kamu tahu, duniaku terasa hampa tanpa mendengar suara kamu." lanjutnya dengan tersenyum manis.
"Terima kasih, selalu ada di sisiku." Sandi menatap dalam gadis yang dicintainya. Dia takut, jika Thalia meninggalkannya karena sekarang dia lumpuh.
"Aku sudah memberitahu mama dan papa kamu. Mungkin sebentar lagi mereka datang," ucap Thalia kemudian.
"Tali, apa cincinnya ada?" tanya Sandi kemudian.
"Syukurlah, apa aku masih boleh memasangkan cincin di jari manis kamu?" tanya Sandi dengan menatap lekat gadis yang ada di depannya.
"Tentu saja, kalau bukan kamu, siapa lagi yang harus memasangkannya?"
“Terima kasih selalu ada di sisiku,” ucap Sandi kemudian.
Saat keduanya saling tatap mengungkapkan perasaan lewat tatapan mata kerinduan, terdengar suara pintu ada yang membuka dari luar. Nampak Tuan Morgan datang dengan tergesa-gesa. Sampai-sampai dia tidak menutup pintu dengan benar. Disusul kemudian Nyonya Raline dan Jojo datang menyusul.
“Boy, bagaimana keadaanmu?” tanya Tuan Morgan.
“Baik, Pah!” jawab Sandi dengan tersenyum samar.
“Tadi Papa sudah bicara dengan Dokter Leon, katanya masih ada harapan untuk kamu bisa berjalan kembali. Papa yakin, jika perawat spesial yang merawat dan menjagamu, pasti kondisi kamu agar segera pulih,” ucap Tuan Morgan.
“Perawat spesial? Maksud Papa?”
__ADS_1
“Thalia, siapa lagi yang akan merawatmu dengan baik selain gadis itu. Papa semakin yakin, untuk menjadikan dia sebagai menantu Papa,” ungkap Tuan Morgan.
“Papa tidak setuju pun, aku akan memaksa untuk menikah dengan Tali.” Sandi tersenyum senang karena papanya pun menyukai gadis pilihannya.
Sementara Nyonya Raline hanya memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Dia tidak berani mendekat ataupun ikut berbincang bersama dengan mereka. Begitupun dengan Jojo yang berdiri di samping mama sambungnya. Dia dengan setia menemani wanita yag selama ini sudah merawatnya.
"Nyonya, apa tidak ingin memeluk Sandi? Dia pasti bahagia mendapatkan pelukan dari mamanya," cetus Thalia.
Gadis itu merasa tidak tega melihat Nyonya Raline yang hanya diam mematung dengan mata yang berkaca-kaca. Thalia yakin kalau calon ibu mertuanya itu pasti ingin memeluk putra kandungnya. Akhirnya, dia pun berinisiatif untuk mengajak Nyonya Raline mendekat ke arah Sandi.
"Sandal, Nyonya setiap hari menjenguk kamu loh. Bahkan, Nyonya yang selama ini memandikan kamu. Aku hanya membantu menyiapkan baju," ungkap Thalia dengan tersenyum.
"Thalia, panggil Mama saja. Jangan panggil Nyonya lagi!" pinta Nyonya Raline.
"Aku sudah terbiasa memanggil Nyonya." Thalia tersenyum malu dengan permintaan Raline.
"Terima kasih, Mah. Sudah menjagaku," ucap Sandi tulus.
"Boleh Mama memelukmu, Nak?" Ijin Raline.
"Boleh!" sahut Sandi.
Nyonya Raline pun mendekat ke arah Sandi. Dia langsung memeluk putranya pelan karena takut akan mengenai luka di tubuh Sandi. Setelah puas memeluk putranya, Nyonya Raline pun melepaskan pelukannya.
"Apa kabar Raline?" tanya Tuan Morgan.
"Aku baik!" sahut Nyonya Raline.
Reuni kecil sebuah keluarga yang terpisah, karena masalah yang terjadi di masa lalu, membuat suasana di ruangan itu menjadi canggung. Tuan Morgan berkali-kali menghembuskan napas kasar untuk mengusir kecanggungan antara dia dengan mantan istrinya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1