Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 32 Percaya sama aku, please!


__ADS_3

"Sandal, jadilah laki-laki sejati. kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak apa-apa mundur dari pernikahan kita," serobot Thalia.


Mendengar apa yang Thalia katakan, Sandi langsung berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Thalia dan menggenggam tangan gadis itu erat. Sementara Thalia hanya melihat ke arah tangannya yang digenggam oleh Sandi.


"Tali, kamu jangan mudah percaya dengan apa yang dia katakan. Aku tidak ingat pernah melakukan iya-iya dengan dia. Kamu juga Ca, aku tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai anakku sebelum mendapatkan bukti lengkap. Ayo kita lakukan test DNA!" ajak Sandi.


"Cih! Aku gak nyangka, laki-laki yang aku cintai tidak lebih dari seorang bajingan. Waktu itu kamu begitu menikmatinya dan berjanji untuk menikah denganku. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kamu mengingkari perbuatan kamu sendiri," ungkap Camelia. "Lagipula, aku punya bukti kalau kamu memang pernah melakukan hal itu sama aku," lanjutnya.


"Bukti apa maksud kamu?" tanya Sandi.


Tanpa memperdulikan pertanyaan Sandi, Camelia langsung mengambil ponsel dari dalam tas kecil yang dibawanya. Tangannya sibuk mencari file yang sudah dia siapkan untuk membuktikan ucapannya. Setelah mendapatkannya, Camelia pun langsung memberikannyanya pada Thalia.


"Kamu lihat saja sendiri biar tidak menuduh aku mengada-ada," suruh Camelia.


Thalia melihat ke arah Sandi sebentar sebelum akhirnya dia mengambil ponsel Camelia. Benar saja apa yang Camelia katakan. Dalam rekaman itu terlihat Sandi yang mabuk dibopong oleh Camelia. Hingga sampai tempat tidur, Sandi langsung menubruk Camelia dan menindih gadis itu seperti yang pernah Sandi lakukan padanya.


Sesaat Thalia memejamkan matanya untuk menetralkan hatinya yang bergejolak. Meskipun benar Sandi dan Camelia pernah menjalin hubungan, tetapi saat melihat rekaman itu hatinya terasa sakit. Apalagi, kenyataan itu baru dia ketahui sehari sebelum pernikahannya dengan Sandi.


“Sandal, terima kenyataan kalau kamu memnag pernah melakukan hal itu dengan Camelia. Tidak mengapa kita batal nikah, anak itu lebih membutuhkan kamu. Kita masih bisa jadi sahabat tanpa harus menikah,” ucap Thalia dengan suara yang bergetar. Dia mencoba melepaskan tangan genggaman Sandi.


“Tidak Tali, Aku tetap akan melakukan test DNA. Aku tidak percaya dengan rekaman yang hanya sepotong itu. Please percaya sama aku!” pinta Sandi.


“Sandi, apa susahnya kalau kamu menikah dengan aku. Setelah anak ini lahir, kita bisa bercerai. Thalia, bolehkan aku yang menjadi pengantin wanitanya besok? Demi anak yang ada dalam kandungan aku. Apa kamu tega, dia lahir tanpa seorang ayah dan mendapatkan gunjingan dari orang-orang?” desak Camelia.


Thalia tidak menjawab pertanyaan Camelia. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Sandi dan Camelia. Hatinya benar-benar hancur dengan kenyatan yang harus dia terima.


Sementara Sandi langsung mentap tajam pada Camelia. Dia sangat marah dengan apa yang didengarnya. Dengan dada yang bergemuruh, dia bicara pada Camelia.


“Dengar! Tidak ada pernikahan di antara kita sebelum aku mendapatkan bukti jelas kalau bayi itu anakku.” Sandi langsung pergi meninggalkan Camelia. Dia akan menyusul Thalia yang terlihat pergi ke luar kafe.


Namun, saat dia sudah berada di luar kafe, Sandi tidak mendapatkan keberadaan gadis itu. “Ke mana perginya? Cepat banget dia menghilang,” gumam Sandi.


Sandi mengedarkan pandangannya. Melihat ke setiap penjuru kafe. Namun tetap saja dia tidak bisa menemukan Thalia. Saat dia melihat Thalia sudah berada di seberang jalan, dia pun langsung berlari ingin menyusul Thalia tanpa memperdulikan kendaraan yang sedang ramai berlalu lalang.

__ADS_1


“Tali, please! Jangan tinggalkan aku! Kenapa kamu tidak bisa percaya sama aku?” pinta Sandi saat dia sudah bisa meraih tangan Thalia.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya tidak ingin merenggut kebahagian bayi yang tidak berdosa,” lirih Thalia.


“Tidak ada yang merenggut kebahagian siapapun. Kalau benar bayi itu anakku, kita bisa merawatnya bersama tanpa harus menikah dengan Camelia.” ucap Sandi. “Kita pulang yuk!” ajaknya kemudian.


Dia langsung menghentikan taksi yang lewat. Tidak peduli dengan mobilnya yang terparkir di halaman kafe. Yang terpenting buat dia, jangan sampai Thalia pergi meninggalkannya.


Selama perjalanan menuju ke apartemen, Thalia maupun Sandi tidak ada yang bersuara. Mereka bungkam sibuk bergelut dengan pikirannya masing-masing. Sampai taksi berhenti di depan apartemen, barulah Sandi mengeluarkan suaranya.


“Ayo Tali, kita turun!” ajak Sandi.


Thalia yang sedang asyik melamun, langsung turun begitu saja tanpa memperdulikan Sandi yang masih membayar ongkos taksi. Setelah Sandi memberikan uang untuk ongkos, dia pun segera berlari untuk menyusul Thalia.


“Tali, tungguin!” seru Sandi.


Thalia menghentikan langkahnya saat sudah tiba di depan pintu lift. Dia baru menekan tombol setelah Sandi berdiri di sampingnya. Keduanya langsung masuk ke dalam lift saat pintu lift sudah terbuka.


“Tali, jangan marah dong! Ayo kita bersama-sama hadapi Camelia. Aku yakin kalau dia sedang mengada-ada,” tutur Sandi.


“Sandal, jika memang anak itu anak kamu, apa yang akan kamu lakukan? Aku tidak mau memiliki madu,” tanya Thalia pelan.


“Lihat aku Tali! Tidak ada seorang perempuan pun yang mampu membuat aku merasa nyaman selain kamu. Apapun yang terjadi, aku akan tetap mempertahankan kamu. Tidak peduli mereka akan memaki aku ataupun mengatakan aku pecundang. Tapi aku tidak akan pernah bisa jika harus kehilangan kamu,” tegas Sandi.


“Aku takut, jika nanti anak itu lahir, kamu akan lebih menyayangi mereka dan melupakan aku.” Thalia menundukkan kepalanya. Dia sangat tidak siap jika harus berbagi suami dengan wanita lain.


“Percaya sama aku, please! Hanya kamu yang ada di hati aku. Bukan gadis lain ataupun gadis yang pernah berkencan dengan aku.”


Ting


Terdengar suara lift berbunyi, pertanda lift sudah sampai di lantai yang dituju. Sandi dan Thalia pun segera bergegas keluar. Mereka seperti sudah tidak sabar untuk cepat-cepat sampai di apartemen.


Sandi terus saja menggenggam Thalia. Dia benar-benar takut gadis itu akan menyerah dan pergi jauh dari hidupnya. Sandi pun tidak mengerti, kenapa dia sangat ketakutan akan ditinggalkan oleh Thalia. Padahal dulu, saat dia bermain-main dengan banyak gadis, dia selalu merasa yakin kalau Thalia akan selalu berada di sampingnya meskipun hanya sebagai seorang sahabat.

__ADS_1


Saat keduanya sudah berada di dalam apartemen, barulah Sandi melepaskan genggaman tangannya. Dia langsung merogoh kantong jaketnya, saat terdengar suara ponselnya yang berbunyi. Terlihat di layar ponsel, nama toko perhiasan tempat dia memesan cincin kawin dan seperangkat perhiasan untuk maskawin-nya. Sandi pun segera mengangkat panggilan telepon.


“Hallo!”


“Hallo, Mas! Ini dengan The Palace Jewellery. Mau mengkonfirmasi kalau pesanan atas nama Sandiaga sudah bisa diambil.”


“Baik, Mbak! Saya ke sana sekarang.”


Bisa-bisanya aku lupa mengambil cincin kawin. Padahal dari tanggal pesanan sudah bisa diambil dari kemarin lusa, batin Sandi.


Sandi langsung menutup sambungan teleponnya. Dia kemudian bergegas ke kamarnya mengambil jaket kulit karena akan memakai motor sports-nya. Tak lupa dia pun menemui Thalia terlebih dahulu.


“Tali, kamu nangis?” tanya Sandi saat melihat gadis itu tiduran di atas tempat tidur.


“Gak! Aku hanya ingat ayah,” elak Thalia.


“Jangan nangis! Kamu hanya harus percaya sama aku. Tali, tidak apa kan kalau aku tinggal sebentar? Aku harus mengambil cincin kawin. Kemarin kelupaan," pamit Sandi.


"Lama gak?"


"Nggak! Aku langsung pulang kalau tidak ada halangan apapun. Sebentar ya!" Sandi langsung mencium kening Thalia lama. Meskipun rasanya berat meninggalkan gadis itu sendiri, tetapi dia tidak mau kalau sampai Thalia kecapean mengikutinya. "Tunggu aku!" Bisiknya.


"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut!"


"Iya istriku yang cantik. Aku berangkat sekarang ya, biar tidak kemalaman." Lagi Sandi mencium seluruh wajah Thalia membuat gadis menjadi risih.


"Kamu kapan berangkatnya kalau cium aku terus?" tanya Thalia jengah.


"Hehehe … Aku ingin cium kamu terus takut nanti gak bisa cium lagi."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, koment, gift, rate dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2