Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 22 Sahabat Tercinta


__ADS_3

Tidak ingin terjadi lagi hal yang seperti tadi di kamar, Thalia memilih mengalah pada playboy itu. Dia tidak ingin lagi memancing kemarahan sahabatnya yang terkadang lepas kontrol.


"Sandal, lihat ada hiu! Ayo kita sembunyi!" panik Thalia saat melihat ada ikan yang sangat besar berenang di samping kapal pesiar yang mereka tumpangi.


"Itu namanya ikan paus. Kamu ingin berenang bersama mereka gak?" tanya Sandi.


"Aku gak mau! Bagaimana kalau ikan itu memakan aku? Sudah pasti aku tidak akan bisa kembali pulang."


"Nanti aku temani kalau kamu dimakan ikan paus itu. Seperti Pinokio yang bisa keluar lagi dari perut ikan."


"Itu dongeng Sandal! Mana ada orang bisa keluar lagi setelah dimakan ikan. Sudahlah, lebih baik kita foto saja yuk! Buat kasih lihat ke Melati saat kita pulang nanti," ajak Thalia.


"Memang siapa yang mau pulang? Kita pulang nanti setelah punya anak. Jadi, kalau kamu ingin cepat-cepat pulang, ayo kita bikin anak sebanyak-banyaknya biar cepat pulang. Bagaimana, apa kamu setuju?"


"SANDAL!!!" pekik Thalia. Gadis itu langsung melotot tidak percaya mendengar apa yang Sandi katakan. Memangnya bikin donat yang sekali bikin adonan bisa jadi puluhan bahan ratusan donat. Namanya bikin anak pasti prosesnya lama.


"Hahaha ...." Sandi langsung tertawa terbahak-bahak mendapatkan pelototan dari Thalia. Dia merasa senang karena sudah berhasil mengerjai sahabatnya.


"Malah ketawa lagi, memang ada yang lucu?" cebik Thalia.


"Kamu yang lucu, aku becanda aja dipercaya. Tapi kalau beneran juga, aku gak keberatan," goda Sandi dengan mengerlingkan matanya nakal.


"Dasar playboy cap Kadal! Otaknya harus disapu dulu biar gak omes terus." Tangan Thalia terulur mengacak-acak rambut Sandi.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Thalia, Sandi menjadi terdiam di tempatnya. Dia teringat saat dulu masih kecil, mamanya sering mengacak-acak rambut dia kalau merasa gemas padanya.


Setelah merasa puas mengacak-acak rambut Sandi,Thalia pun menghentikannya. Dia merasa heran karena Sandi tidak melawan sedikit pun. Justru seperti termenung di tempatnya.


"Kamu kenapa?" tanya Thalia dengan melongokkan wajahnya ke bawah wajah Sandi.


"Gak apa! Ke dalam yuk! Sudah sore, anginnya sudah mulai terasa dingin sekali." Sandi tersenyum untuk menyembunyikan luka hatinya.

__ADS_1


"Nanti akh, aku ingin melihat matahari terbenam. Jarang-jarang ada di tengah lautan saat matahari terbenam," tolak Thalia.


"Ayo sini!" ajak Sandi. Dia langsung menarik tangan Thalia dan membawanya ke ujung dek kapal.


"Sandal aku takut," rengek Thalia. Dia yang tidak pandai berenang, merasa was-was saat sudah berada di ujung dek kapal.


"Jangan takut! Ada aku yang akan menjaga kamu. Coba pejamkan mata kamu!" suruh Sandi.


Thalia pun perlahan menutup matanya. Merasakan terpaan angin yang menyentuh wajahnya. Sandi yang berdiri di belakang gadis itu, memeluk pinggang gadis yang dicintainya erat, dengan bahu Thalia sebagai penopang dagunya.


"Tali, coba rengtangkan tangan kamu. Apa kamu ingin mencoba seperti adegan dalam fim legendaris itu?" tanya Sandi.


"Aku tidak mau! Aku tidak mau jika harus berpisah dengan kamu seperti Rose yang berpisah dengan Jack," ucap Thalia dengan suara yang bergetar.


"Kamu tahu Tali, aku lebih takut jika harus kehilangan kamu. Aku tidak bisa jika berpisah dengan kamu. Kamu tahu, kamu segalanya buatku."


Sandi semakin mengeratkan pelukannya. Dia ingin Thalia tahu, kalau dia memiliki perasaan yang dalam pada gadis itu. Melebihi perasaan sebagai seorang sahabat.


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? Bukankah buat kamu, aku hanya sebagai sahabat ...."


"Iya, kamu memang sahabat yang paling aku cintai dan aku tidak ingin siapa pun mengambil kamu dariku. Thalia ... Maukah hidup bersama denganku selamanya?"


"Sandal, tapi aku ...."


"Jangan katakan apapun tentang dia. Kamu tidak akan pernah menjadi milik siapa pun selain aku. Apa kamu mengerti?"


"Aku ngerti, tapi Tuan Simon sudah memberikan mahar yang besar pada ayah. Kalau sampai pernikahan aku tidak jadi, bagaimana dengan ayah? Kenapa semuanya sangat terlambat? Andai waktu itu aku tahu tentang perasaan kamu, mungkin aku tidak akan menerima tawaran dari Tuan Simon." Thalia menundukkan wajahnya. Dia khawatir pada ayahnya.


"Kamu tenang saja, nanti aku akan menggantinya."


"Sandal uangnya tidak sedikit. Tuan Simon memberi satu milyar untuk mahar," ucap Thalia pelan.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan, aku bisa mengatasi semuanya, asalkan kamu selalu bersama aku. Sudah mau gelap, kita masuk yuk!" ajak Sandi.


Thalia pun akhirnya mengikuti ke mana Sandi membawanya. Pemuda tampan itu langsung mengajak Thalia masuk ke sebuah bar yang ada di lantai bawah tempat dia berada. Karena dek tempat dia dan Thalia tinggal, hanya mereka yang menempati.


Saat tiba di lantai bawah, Thalia celingukan melihat banyaknya orang yang hilir mudik. Matanya terus menelusuri setiap jengkal isi kapal pesiar itu. Tak henti, dia berdecak penuh kekaguman.


"Sandal, aku seperti mimpi bisa berada di kapal pesiar yang bagus sekali," ucap Thalia.


"Mimpi kamu itu nyata, ayo kita ketemu papa!"


Sandi langsung menarik Thalia agar mendekat ke arahnya. Dia ingin orang-orang tahu kalau dia dan Thalia tidak bisa terpisahkan. Dengan tangan yang saling bergenggaman, Sandi menghampiri papanya yang sedang duduk di bar bersama dengan temannya.


"Papa, sesampainya di sana, aku ingin segera melangsungkan pernikahan dengan Thalia," ucap Sandi enteng.


"Kamu tenang saja. Semuanya bisa diatur. Kamu ingin menikah dengan sangat meriah pun Papa bisa mewujudkannya," ucap Morgan dengan tersentum ramah pada Thalia. "Will, susu hangat untuk menantuku," pintanya.


"Oke, Bos!" sahut William, bartender di bar itu.


"Thalia, jangan sungkan! Duduklah! Kita berlayar masih satu minggu lagi. Nanti, sampai di sana Om bisa menyuruh orang menjemput papamu. Apa kamu bersedia menih dengan Sandi di Sidney?"


"Aku ingin menikah di negeriku sendiri. Disaksikan oleh semua keluarga dan musik dangdut sebagai hiburannya," tutur Thalia.


"Baiklah, tidak masalah.Om pasti mewujudkan keinginan kalian," ucap Morgan dengan tersenyum.


"Tapi Om, bagaimana dengan Tuan Simon? Aku kan sudah ...."


"Kamu tenang saja! Masalah itu biar jadi urusanku dan Papa," potong Sandi. "Asalkan kamu bersedia, semua itu tidak akan jadi masalah."


Thalia hanya menganggukkan kepalanya menyetujui. Begitupun saat bartender itu memberikan segelas susu hangat pada gadis itu. Sementara Sandi meminum wine untuk menghangatkan tubuhnya. Meskipun awalnya terasa kaku, tetapi lama kelamaan suasananya berubah menjadi mencair.


Entah benar atau salah keputusan yang aku ambil, tapi aku juga tidak ingin berpisah dengan Sandal. Semoga saja semua hal yang aku alami ini bukan hanya mimpi semu, batin Thalia.

__ADS_1


__ADS_2