Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 70 Lahir Prematur


__ADS_3

"Jadi seperti ini cara kamu jujur sama aku?" tanya Thalia dengan penuh penekanan.


"Sayang, aku kan sudah bilang mau cerita sama kamu. Tadi aku kebelet mau ke toilet makanya tidak langsung cerita," kilah Sandi.


"Oh, begitu! Baiklah tidak usah cerita sekalian," ketus Thalia hendak berlalu pergi dari hadapan suaminya. Dia merasa kecewa karena Sandi tidak mau bicara terus terang dari awal. Padahal dia berharap Sandi akan selalu berterus terang padanya, apapun yang terjadi.


"Sayang!" Sandi langsung menahan tangan Thalia. Dia tidak mau kalau sampai istrinya salah paham gara-gara masalah itu. "Ayo kita bicara!"


Sandi membawa Thalia ke ruang kerja di rumah papanya. Karena hanya ruang itu yang kedap suara. Kalau pintunya tidak terbuka, orang tidak akan tahu apa yang dibicarakannya. Mereka pun duduk berhadapan di sofa yang ada di ruangan itu. Sesaat keduanya terdiam, sampai akhirnya Sandi memulai pembicaraan.


"Sayang, Tantra memang meminta aku untuk menikahi adiknya, tetapi aku menolaknya. Kamu juga pasti mengerti kenapa aku menolak," ucap Sandi. Lalu dia pun menceritakan semuanya tantang Tantri yang menderita lupus dan selalu menempel padanya kalau dia ke kota itu. Dia menceritakan semuanya tidak ada yang ditambahkan atau dikurangi.


"Kasian juga adiknya Tantra. Apa karena hal itu dia selalu sinis sama aku?" gumam Thalia.


"Aku mohon percaya sama aku. Aku tidak mungkin lebih mementingkan orang lain dari kamu dan anak kita," pinta Sandi melas.


"Baiklah! Kali ini aku akan percaya sama kamu. Tapi awas saja kalau kamu sampai mengkhianati aku. Akan aku potong sosis kamu, lalu aku goreng dan terakhir aku kasih bumbu balado."


"Tapi nanti kamu makan kan?"


"Enggak, mau aku kasih ke anjing tetangga kamu." Thalia menjawab dengan entengnya. Sangat berbeda dengan Sandi yang meringis, membayangkan anjing memakan tongkat saktinya.


"Tega!" seru Sandi dengan bibir yang cemberut.


Thalia langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi suaminya. Saking senangnya menertawakan ekspresi Sandi, mendadak perutnya menjadi kram. Seketika Thalia pun menghentikan tawanya berubah dengan meringis kesakitan.


"Tali, jangan bercanda! Pinter banget kamu berakting. Tadi tertawa sekarang meringis," cibir Sandi.


"Sandal aku gak akting. Perutku sakit sekali," ucap Thalia melas.


"Kamu jangan becanda, Tali!" Lagi-lagi Sandi mengira kalau Thalia sedang bercanda.


"Aku serius! Sakit banget, Sandal!"


"Apa kamu mau melahirkan?" Sandi langsung menggendong istrinya.


"Aku gak tahu, tapi kandunganku baru berumur tujuh bulan."

__ADS_1


Dia berteriak meminta di siapkan mobil. Tidak lupa menyuruh asisten rumah tangganya agar menyiapkan semua perlengkapan Thalia untuk melahirkan. Saat sudah di mobil, barulah dia menghubungi mamanya.


"Halo, Mah! Tali mau melahirkan," ucap Sandi tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


"Apa? Melahirkan? Bukannya baru tujuh bulan? ya udah, Mama menyusul ke rumah sakit."


"Iya, Mah! Aku tutup dulu ponselnya."


Setelah selesai menghubungi mamanya, Sandi pun kembali mengelus perut buncit istrinya. Dia ikut meringis setiap kali melihat Thalia meringis kesakitan. Sungguh, Sandi merasa tidak tega melihat keadaan istrinya. Seandainya dia bisa melakukannya sendiri, mungkin dia sudah mengeluarkan bayinya.


"Sabar, ya sayang! Sebentar lagi sampai," ucap Sandi.


"Iya, mulesnya kadang-kadang."


"Hah? Mules? Memangnya kamu ingin buang hajat?" tanya Sandi cengo.


"Tahu akh, Sandal. Perutku sakit banget," ucap Thalia dengan meringis kesakitan.


Tidak lama kemudian, mobil yang dibawa supir di rumahnya sudah sampai di rumah sakit. Thalia pun langsung dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama, sebelum akhirnya dipindah ke ruang bersalin.


Sandi yang panik. tidak ingn jauh dari istrinya. Bahkan saat Thalia mendapat tindakan dari dokter, dia terus berada di sisi Thalia. Sampai-sampai dokter yang menangani Thalia dibuat kesal olehnya.


"Biar Bi Ipah saja, kalau gak Mang Tono," ucap Sandi.


Bagaimana mereka mengerti? Tapi sudahlah, kelihatannya dia orang kaya maka seenaknya menyuruh pembantu untuk mengurus semuanya, batin perawat.


"Biar Mama saja yang mengurusnya," ucap Raline yang baru saja datang.


"Iya, Mah tolong!" pinta Sandi. "Dok, cepat diberi obat pereda sakit. Kasian Tali kesakitan seperti itu," lanjutnya.


"Mas, ini sakitnya wajar. Karena setiap ibu yang akan melahirkan pasti akan mengalami kontraksi seperti ini," jelas Dokter.


"Kalau begitu, cepat keluarkan anakku, Dok! Aku juga tidak sabar ingn melihat hasil cetakanku."


Astaga nih orang! Cakep-cakep sih cakep, tapi bawel banget, batin Dokter.


Setelah Thalia di pasang infus dan diperiksa denyut nadi serta detak jantungnya, Dokter pun memeriksa organ inti Thalia untuk melihat sudah memasuki pembukaan berapa. Sampai akhirnya dokter menyuruh seorang perawat untuk segera menyiapkan ruang bersalin saat melihat Thalia sudah pembukaan lima

__ADS_1


"Mbk Thalia, sebentar lagi Mbaknya dipindah ke ruang bersalin. Untuk sementara di sini dulu menuggu sampai ruangannya siap. Saya tinggal seebntr untuk menghubungi dokter kandungan yang biasa menangani Mbak Thalia," ucap dokter.


Tidak berapa lama kemudian, perawat pun memindahkan Thalia ke ruang bersalin. Setelah pembukaan lengkap, dokter kandungan yang biasa memeriksa keadaan Thalia membantunya untuk melahirkan.


"Atur napas ya, Mbak! Setelah hitungan ke tiga, coba keluarkan dengan sekuat tenaga," suruh dokter kandungannya.


Thalia pun hanya mengikuti apa yang dokter perintahkan. Sandi yang ada di sampingnya menjadi ikut-ikutan dengan apa yang Thalia lakukan. Bahkan saat Thalia disuruh mengejan, dia pun ikut-ikutan. Sampai akhirnya terdengar suara yang tidak harapkan.


Bruttt ...


Sontak saja semua orang yang ada di ruangan itu langsung menutup hidungnya. Mereka khawatir akan mencium bau limbah perut Sandi. Tak terkecuali Thalia yang ada di sampingnya.


"Sandal, apa yang kamu lakukan?" Thalia yang baru saja mengejan langsung menegur suaminya.


Sementara dokter dan perawat jadi menahan senyum. Karena baru ada orang yang menemani pasien melahirkan malah kentut dengan kencangnya akibat ikut mengejan. Meskipun sebenarnya kentut Sandi tidak berbau busuk.


"Hehehe ... Maaf, Dok! Aku kelepasan," ucap Sandi dengan cengengesan.


"Mas Kentut boleh tutup matanya saat Mbak Thalia sedang mengejan, atau mau menunggu di luar saja agar tidak membuyarkan konsentrasi kami dan Mbak Thalia saat melahirkan bayi kalian," ucap Kayla, dokter kandungan yang membantu Thalia melahirkan.


"Aku tutup mata saja," ucap Sandi


Sialan lu Kayla! Gue dibilang Mas kentut. Pasti ingin balas dendam karena pernah aku tolak cintanya, sungut Sandi dalam hati.


Dokter pun kembali memberi aba-aba. Setelah Thalia dua kali berusaha mendorong bayinya agar keluar, terdengar suara tangisan bayi di indera pendengaran Sandi. Dia pun segera membuka matanya kembali dan langsung mengucapkan syukur atas kelahiran bayinya.


"Selamat, Mas, Mbak. Bayinya laki-laki. Tapi untuk sementara harus masuk inkubator dulu karena dia lahir prematur di usia kandungan tiga puluh satu Minggu, ditambah timbangannya kurang."


"Iya, Dok. Terima kasih."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


...Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin karya keren yang satu ini....

__ADS_1



__ADS_2