
Banyak alat medis yang terpasang di tubuh Sandi. Kaki dan leher pun sudah terpasang pen. Namun, sudah dua hari dari pasca kecelakaan itu, Sandi masih belum juga sadarkan diri.
Mantan-mantan Sandi datang silih berganti menjenguknya. Meskipun mereka tidak bisa masuk ke dalam ruang ICU, karena hanya keluarga saja yang diperbolehkan masuk. Begitupun dengan Airin yang mengetahui kecelakaan itu dari sosial media, dia pun menyempatkan diri untuk datang menjenguk Sandi.
"Thalia, bagaimana keadaannya? Aku melihat potongan videonya, sungguh sangat mengerikan. Tapi saat aku lihat sticker yang ada di motornya, aku yakin kalau itu motor Sandi. Makanya aku segera menghubungi kamu," tanya Airin panjang lebar.
"Masih belum sadar. Kalau sampai besok belum sadarkan diri, mungkin dia akan dipindah ke rumah sakit yang peralatan medisnya lebih lengkap. Dokter merekomendasikan untuk dipindah ke rumah sakit internasional," beber Thalia.
“Sabar ya! Aku pikir kalian sudah melangsungkan pernikahan. Karena waktu itu, aku gak bisa datang sedang tugas ke luar kota,” ungkap Airin.
“Makasih, Rin. Mungkin Tuhan masih terus menguji aku. Atau aku memang tidak pantas mendapatkan pasangan,” ucap Thalia pelan. hatinya terasa sakit setiap kali teringat kalau dia, dua kali batal menikah.
“Jangan pesimis begitu, setiap kejadian pasti ada hikmahnya.”
“Makasih, Rin.”
Kedua gadis itu pun terlibat obrolan yang membuat keduanya menjadi semakin akrab. Meskipun Airin diputuskan secara sepihak oleh Sandi, tetapi sedikitpun dia tidak menaruh dendam. Karena memang, Airin bisa merasakan kalau cinta Sandi bukan untuknya.
Saat kedua gadis itu sedang asyik berbincang di depan ruangan ICU, datang seorang wanita memakai masker, topi dan kacamata yag menyamarkan wajahnya. Wanita itu, segera menghampiri Thalia yang sedang berbincang dengan Airin.
“Thalia, apakah Sandi sudah siuman?” tanya wanita itu.
Thalia yang mengetahui siapa yang datang, dia langsung tersenyum manis. “Belum, Tan. Ini Airin Tan, mantan kekasih Sandi.”
“Oh! Saya mamanya Sandi,” ucap Raline.
“Airin,” ucap Airin dengan menjabat tangan Raline.
__ADS_1
“Kalau begitu, Tante masuk dulu ya! Ditinggal dulu ya Nak Airin,” pamit Raline.
Selepas kepergian Raline, Airin dan Thalia kembali berbicang layaknya teman lama. Sampai datang kembali seorang gadis cantik dengan postur tubuh semampai seperti biola Spanyol. Ya, Camelia datang untuk menjenguk Sandi saat dia tahu kalau pemuda tampan itu mengalami kecelakaan di malam pernikahannya.
“Thalia, bagaimana keadaan Sandi?” tanya Camelia saat sudah ada di depan kedua gadis itu.
“Masih belum sadar,” jawab Thalia.
“Apa aku boleh melihatnya ke dalam?” tanya Camelia lagi.
“Maaf, Ca. Tapi papanya Sandi berpesan, selain keluarga dilarang masuk sebelum Sandi siuman,” jawab Thalia.
“Apa aku dianggap orang lain?” tanya Camelia lagi.
“Maaf, aku tidak bisa mengijinkan kamu masuk. Karena aku diberi amanah seperti itu oleh papanya dan juga dokter yang mengawasi,” debat Thalia.
Camelia menghela napas dalam, rasanya dia begitu sulit menjangkau Sandi. Padahal belum lama ini, dia masih berstatus sebagai pacarnya lelaki itu. Tetapi kini, ingin melihat keadaannya pun tidak diijinkan masuk.
“Katamu tidak boleh dijenguk selain keluarga, kenapa ada wanita di dalam sana?” tanya Camelia sewot.
“Itu mamanya,” jawab Thalia singkat.
“Lagian kamu siapa siapa sih? Maksa banget mau masuk?” tanya Airin sinis. Entahlah dia tidak suka melihat artis yang sombong di depannya.
“Aku calon istrinya,” jawab Camelia dengan penuh percaya diri.
“Ya ampun, artis papan atas sedang mimpi di siang bolong. Bangun woy!” sindir Airin.
__ADS_1
“Kamu jangan kurang ajar! Aku memang calon istrinya Sandi. Bahkan sekarang aku sedang mengandung anaknya,” balas Camelia
Melihat perdebatan dua wanita cantik itu, Thalia hanya meringis. Dia tidak menyangka kalau Airin bisa bersikap kasar seperti itu. Karena yang dia lihat, gadis itu selalu bersikap lembut dan anggun. Sampai akhirnya seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan Sandi.
“Maaf Nona-nona cantik, kalau mau ribut tolong jangan di rumah sakit. Silakan pergi ke gelora Bung Karno. Di sana tempatnya luas jika ingin membuat keributan,” ucap Dokter yang terlihat masih muda itu.
Thalia sampai terbelalak mendengar ucapan dokter itu. Bukannya melerai, tetapi malah menyuruh untuk berpindah tempat. Sementara dokter itu seolah tidak perduli dengan apa yang dia katakan. Dia pun berlalu begitu saja tanpa menunggu reaksi dari kedua gadiis cantik itu.
“Sudah ya jangan berantem! Lebih baik kalian pulang. Nanti kalau Sandi sudah siuman, aku pasti akan mengabari,” ucap Thalia.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Thalia kamu jangan mau kalah dengan pelakor. Pertahankan apa yang sudah jadi milik kamu,” pesan Airin sebelum dia pergi meninggalkan Thalia dan Camelia.
Camelia hanya diam melihat kepergian Airin. Tidak mungkin dia menjambak gadis itu di tempat umum. Meskipun sebenarnya tangan Camelia sudah gatal ingin ingin menjambak rambut Airin yang tergerai indah. Tetapi sebisa mungkin dia menahannya demi image yang sudah dia bangun selama berkarir menjadi seorang selebritis.
“Sebenarnya siapa yang menjadi pelakor? Demi kamu, Sandi memutuskan aku. Padahal aku jauh lebih baik dari kamu. Ternyata persahabatan kalian itu hanya topeng untuk menyembunyikan hubungan yang sesungguhnya. Thalia, aku tidak menyangka kamu bisa semurahan itu. Merebut Sandi dari aku. Padahal susah payah aku mendekatinya. Tapi ternyata orang yang mendapatkan hatinya tidak sebanding denganku.” Camelia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
“Kamu tahu, hubungan kalian itu sangat melukai harga diriku. Rasanya tidak mungkin aku bisa dikalahkan oleh gadis seperti kamu, kamu bukan apa-apa jika harus dibandingkan dengan aku,” sinis Camelia.
“Aku memang tidak punya apa-apa. Hanya Sandi yang aku milik saat ini. Jadi maaf, aku akan meralat ucapan aku untuk memberikan dia kepadamu. Aku akan pergi dari kehidupan Sandi jika dia yang menginginkannya,” tegas Thalia.
“Cih, coba saja kalau bisa. Aku akan tetap membuat Sandi agar memilihku.” Terlihat seringai licik di sudut bibir Camelia. Gadis itu sudah bertekad untuk merebut kembali Sandi agar menjadi miliknya.
Camelia langsung pergi begitu saja meninggalkan Thalia yang mematung di tempatnya. Entah kenapa Thalia menjadi sangsi kalau bayi yang ada di dalam kandungan Camelia adalah benih sahabatnya. Dia pun hanya bisa menghela napas dalam untuk menetralkan gejolak di hatinya karena mendengar ucapan Camelia.
Sepertinya, aku memang harus percaya sama Sandal. Tapi jika terbukti anak itu adalah anaknya, aku harus bisa berbesar hati untuk menerimanya sebagai anak sambungku, batin Thalia.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, dan favorite....
...Terima kasih....