Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 12 Pasar Malam


__ADS_3

Malam ini langit terlihat sangat cerah. Bintang kelap-kelip dan bulan bersinar dengan terang. Udara malam yang dingin dan sejuk membuat sepasang muda-mudi begitu asyik menikmati acara berkeliling pasar malam.


Dengan senyum yang tidak pernah surut dari kedua sudut bibirnya, Sandi berjalan dengan menggenggam tangan Thalia. Mereka begitu asyik melihat para orang tua yang membawa anaknya untuk menikmati hiburan malam.


"Tali, kita naik komedi putar yuk! Rasanya udah lama kita gak naik yang gituan," ajak Sandi saat mereka tiba di wahana itu.


"Boleh! Aku jadi inget waktu pertama kali kita naik komedi putar bareng. Kamu hampir nangis ingin turun lagi. Pas turun malah muntah. Hahaha ...." Thalia langsung terbahak-bahak mengenang masa-masa awal pertemuannya dengan Sandi.


"Udah deh, jangan dibahas! Itu kan dulu, tapi sekarang aku gak pernah kayak gitu lagi. Berani coba?" tantang Sandi.


"Siapa takut?" Thalia langsung menggulung lengan bajunya seolah akan beradu jotos.


Setelah Sandi membeli tiket, keduanya pun langsung naik ke sana. Sambil menunggu yang lain datang, Sandi dan Thalia mengabadikan moments untuk kenang-kenangan.


Perlahan komedi berputar diiringi dengan dengan lagu dangdut yang membuat suasana semakin mengasikan. Setelah satu lagu habis diputar, komedi pun kembali berhenti. Sandi langsung melompat dan bersiap menangkap Thalia saat gadis itu akan turun.


Kini keduanya sudah berada di depan sebuah panggung hiburan dengan jagung bakar dan kopi moccachino kesukaan mereka yang menemani. Sandi dengan iseng memakan jagung yang sedang Thalia makan, hingga wajah mereka berdua hanya terhalang oleh jagung bakar.


Tentu saja hal itu menjadi huru hara bagi penonton lain, yang duduk di belakang mereka. Karena mereka mengira, Sandi dan Thalia akan berciuman. Namun, dasar Sandi yang tidak peduli dengan anggapan orang lain. Di justru terus memakan jagung bakar itu.


"Huuuu ... Woy inget tempat umum woy ... Kalau mau mesumm, sana di hotel jangan merusak pemandangan," teriak orang yang di belakangnya.


"Iya nih gak tahu tempat banget," timpal temannya.


"Dasar cabe-cabean. Pacaran gak tahu tempat."


Mendengar teriakkan orang-orang di belakangnya, membuat Thalia menjadi kesal mendengarnya. Apalagi Sandi seolah tidak peduli dengan apa yang mereka katakan.


"Nih, abisin!" suruh Thalia jengah dengan kelakuan Sandi.


"Nggak ah! Buat kamu aja. Mereka tuh gak pengertian banget ya! Kayak yang sendirinya nggak aja. Coba tengok ke belakang, tangan cowoknya ada di mana?"


Thalia yang penasaran dengan ucapan Sandi, dia pun langsung menengokan kepalanya ke belakang. Benar saja apa yang playboy itu katakan. Ternyata tangan laki-laki yang duduk di belakangnya sedang meeremas buah kembar pacarnya yang duduk tepat di depan laki-laki itu.


"Astaga! Kho bisa diam saja?" pekik Thalia.


"Jangan kenceng-kenceng dodol!" Sandi langsung membungkam mulut Thalia dengan tangannya. Tentu saja gadis itu berusaha memberontak.


"Engap oncom!" sentak Thalia saat Sandi sudah melepaskan bekapan tangannya.


"Iya, iya maaf! Pulang yuk! Apa kamu mau jajan lagi buat di bawa pulang?"

__ADS_1


"Oh, iya. ada satu makanan yang tidak boleh terlewat saat main di pasar malam. Sarang laba-laba, I'm comming!"


Thalia langsung bangun dari duduknya yang merumput bersama dengan Sandi. Tangan jahil Sandi langsung membantu gadis itu yang sedang menepuk-nepuk bumper-nya. Lagi-lagi hal itu menjadi sorotan orang-orang yang melihatnya.


"Sudah, Sandal! Ayo kita pulang! Berasa jadi selebritis deh dilihatin mereka terus," ajak Thalia.


"Siap Best!" Sandi langsung merangkul pundak Thalia dan berjalan beriringan menuju ke parkiran. Tak lupa mereka pun membeli makanan terlebih dahulu untuk dibawa pulang ke apartemen.


"Ada kacang rebus, permen kapas, martabak telor sama bakso bakar. Kayaknya cukup buat amunisi kita main domino. Apa kamu siap melawanku?" tanya Thalia dengan menarik turunkan kedua alisnya.


"Kecil! Tentukan saja taruhannya. Kalau kamu menang, aku bersedia menemani kamu tidur. Kalau aku menang, kamu harus menemani aku tidur."


"Elah Sandal, itu sih sama aja." Tangan Thalia terulur mencubit perut pemuda itu.


"Udah yuk pulang!"


...***...


Kini keduanya sudah berada di apartemen Sandi. Meskipun Thalia seorang perempuan tapi dia pandai bermain kartu domino. Berbeda saat sedang bermain catur yang selalu dimenangkan oleh Sandi. Kalau kartu domino, Thalia lah yang selalu jadi pemenangnya.


"Ya ampun playboy aku mukanya jelek banget!" ledek Thalia saat melihat wajah Sandi penuh dengan coretan lipstik.


"Ahhay...nanti aku jadi Om Melambai," ucap Sandi dengan suara yang mendayu.


"Kamu mau buktikan aku belok apa nggak?"


"Nggak!"


"Kenapa gak mau?" tanya Sandi dengan menatap dalam Thalia.


"Karena aku tahu, kamu masih doyan cewek. Cewek cabe-cabean lagi."


"Hahaha, iya. Terutama doyan makan kamu," Sandi bersiap menerkam tetapi Thalia langsung bangun dan berlari.


Aksi kejar-kejaran pun tidak dapat dielakkan lagi. Dengan suara tawa yang memenuhi ruangan, keduanya terus saja bermain kejar-kejaran. Hingga meja dan kursi yang menjadi sasaran kini sudah tidak pada tempatnya lagi.


"Hahaha ... Kamu gak akan bisa tangkap aku," cibir Thalia.


"Yakin? Tapi kalau tertangkap, harus turuti kemauan aku."


"Ogah! Cape turutin mau kamu," tolak Thalia.

__ADS_1


"Tapi aku maksa," Sandi langsung melompat dan menangkap Thalia yang ada di seberang meja. Hingga mereka berdua jatuh bersama di atas sofa.


"Curang kamu Sandal!" Baru saja Thalia berhenti berbicara, lagi-lagi Sandi menyerang bibirnya tanpa permisi. Playboy itu seperti hilang kendali. Dia begitu menikmati sensasi yang memabukkan dari bibir sahabatnya. Sampai akhirnya Thalia mendorong dada Saadi karena dia merasa sudah kehabisan napas.


"Kamu keterlaluan, Sandal! Kenapa seperti itu?" tanya Thalia dengan napas yang masih memburu.


"Sorry, Tali! Aku aku khilaf," sesal Sandi.


"Sudahlah, aku mau tidur! Kamu jangan menyelinap masuk! Kalau curi-curi masuk kamarku lagi, aku gak mau datang ke sini lagi." Ancam Thalia.


"Iya, Sayang iya. Tapi kasih aku ciuman selamat malam dulu," pinta Sandi dengan tersenyum manis.


"Ogah! Minta sana sama pacar kamu!" Thalia langsung berlari menuju kamar yang biasa di tempati. Dia langsung memegang dadanya setalah terlebih dahulu mengunci pintu kamar.


Apa tidak terlalu jauh hubungan aku dengan Sandal. Bukankah tidak seharusnya kami berciuman?


Hati dan pikirannya terus bertentangan. Antara terus melanjutkan kegilaannya dengan Sandi, atau harus menghindarinya. Meskipun hatinya merasa senang, karena laki-laki yang pertama merasakan bibirnya adalah orang yang dia cintai. Tapi Thalia juga takut, dia akan kelewat batas.


Sampai akhirnya suara ponsel, menyadarkan dia dari lamunannya. Thalia segera beranjak mengambil ponsel yang dia simpan di atas tempat tidur begitu saja. Terlihat nama ayahnya terpampang di layar ponsel. Thalia pun Segera menerima panggilan telepon dari ayahnya.


"Hallo, Ayah!"


"Hallo, Nak! Apa kamu tidak pulang malam ini?"


"Sepertinya tidak, Ayah. Aku akan menginap di rumah Melati biar tidak terlalu jauh pulangnya."


"Oh, begitu. Hati-hati saja ya, Nak. Ayah hanya mau bilang, katanya besok Jojo ingin ketemu. Apa bisa besok minta ijin kerja setengah hari pada bos?"


"Bisa, Ayah. Jam berapa ketemunya?"


"Ayah tidak tahu. Mungkin setelah jam makan siang."


"Baik Ayah!"


"Ya sudah Ayah tutup dulu ya!"


Pak Gerry langsung menutup panggilan teleponnya. Meninggalkan Thalia yang berjingkrak-jingkrak kegirangan. Gadis itu sangat senang akan bertemu dengan idolanya.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2