
Setelah pertemuannya dengan Jojo, Sandi menjadi lebih banyak diam. Dia kepikiran dengan apa yang Jojo katakan tentang mamanya. Walau bagaimanapun, dia tidak bisa membohongi hati kecilnya. Kalau Sandi masih menyayangi mamanya. Thalia yang menyadari perubahan sikap Sandi, dia pun berusaha untuk menghiburnya.
"Sandal, diem-diem bae. Gak asyik akh kalau kamu banyak melamun. Hidup itu jangan dibikin sulit. Kamu hanya tinggal mengikhlaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu, pasti hatimu akan lebih tenang." Thalia bicara panjang lebar seraya memakan keripik kentang kesukaannya.
"Bicara memang mudah tapi terkadang buat merealisasikannya akan terasa sulit. Tali pijitin kepalaku, rasanya pusing sekali!" pinta Sandi.
"Baiklah Akang!" sahut Thalia menyimpan keripik kentangnya. Dia pun membersilkan dulu tangannya sebelum mulai memijat kepala Sandi.
Sandi langsung merebahkan badannya di atas sofa dengan paha Thalia sebagai bantalnya. Dia memejamkan matanya menikmati pijatan dari gadis yang dicintainya. Namun bukan Sandi namanya jika hanya bersikap lurus-lurus saja saat bersama dengan Thalia.
Tangannya mulai terulur dan langsung menarik tengkuk Thalia hingga tabrakan bibir pun sudah tidak bisa dielak lagi. Sandi mulai menyesap bibir yang sudah membuatnya candu. Rasanya, semua kesulitan hidupnya menghilang saat dia merasakan manisnya bibir gadis yang selalu menemaninya melewati hari-hari yang sulit.
Bukan hanya Sandi yang begitu menikmati pagutan itu, tetapi Thalia pun tidak jauh beda. Sampai kini posisi mereka pun sudah berubah. Namun, saat Sandi akan bermain-main dengan dua squisy, Thalia segera melepaskan pagutannya.
"Jangan! Aku tidak mau terlalu jauh saat kita belum menikah," tolak Thalia dengan napas yang masih memburu.
"Sorry, aku khilaf!" Baru saja Sandi selesai bicara, terdengar suara bel apartemen berbunyi. Mereka langsung saling berpandangan. Karena tidak biasanya ada tamu yang berkunjung ke apartemen.
"Biar aku yang buka pintu," ucap Thalia segera beranjak membukakan pintu.
Nampak Raline sedang berdiri depan pintu. Dengan blazer dan syal yang menutupi lehernya. Wanita yang sudah mendekati usia setengah abad itu tersenyum manis pada Thalia. Begitupun dengan Thalia yang langsung membalas senyuman dari wanita yang ada di depannya.
"Mari masuk, Nyonya!" ajak Thalia.
"Makasih!" sahut Raline kemudian melangkahkan kakinya memasuki apartemen yang selalu dia lewati diam-diam. Berharap untuk bisa melihat wajah putranya meskipun hanya sesaat. Memang selama ini dia selalu diam-diam mengawasi Sandi. Bahkan dia rajin bertanya pada guru sekolah Sandi untuk menanyakan bagaimana perkembangan Sandi saat di sekolah.
Sandi sempat terperanjat kaget melihat Raline memasuki apartemennya. Namun, akhirnya dia mengerti pasti Jojo sudah memberitahukan tentang apa yang dikatakannya.
"Boleh Mama duduk?" tanya Raline.
"Silakan!" sahut Sandi.
"Sandi, Jojo sudah mengatakan semuanya pada Mama. Mama sangat senang jika kamu mau memaafkan kesalahan Mama yang memang tidak bisa termaafkan." Raline mendongak ke atas agar air mata yang terus memaksa ingin keluar dapat dia tahan.
__ADS_1
"Mama ke sini untuk pamit sama kamu. Mama akan pergi jauh dari kehidupan Simon. Karena jika Mama masih ada di sini, dia tidak akan melepaskan Mama."
"Mau pergi ke mana?" tanya Sandi.
"Mama akan tinggal di kampung. Hidup sederhana dan berbaur dengan orang-orang," jawab Raline.
"Apa tidak ingin melihat aku menikah?" tanya Sandi dengan nada datar.
"Kapan kalian akan menikah? Mama pasti akan menghadiri pernikahan kalian."
"Dua Minggu lagi," jawab Sandi datar.
"Mama pasti akan datang. Meskipun Mama sudah tidak di Jakarta lagi. Jaga diri baik-baik. Mama harus pergi sekarang," pesan Raline seraya melihat ke arah jam tangannya.
"Nyonya sudah malam. Sebaiknya menginap di sini saja," pinta Thalia.
"Lain kali saja. Kalau sekarang tidak pergi, akan sulit mencari waktu yang tepat lagi. Thalia, Tante titip Sandi ya! Semoga pernikahan kalian samawa," ucap Raline. "Bolehkah Mama memelukmu, Nak?"
Sandi hanya menganggukkan kepalanya. Sebisa mungkin dia menahan air matanya. Sungguh, dia merasakan kehampaan saat Raline berpamitan padanya akan pergi jauh
"Terima kasih, Nak! Mama harus berangkat sekarang," ucap Raline seraya mengurai pelukannya.
"Hati-hati di jalan, Mah!" pesan Sandi pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Raline.
...***...
Sementara itu, di rumah peninggalan orang tua Thalia. Dua orang yang sudah tidak muda lagi sedang berpacu untuk mendapatkan kenikmatan. Simon begitu menikmati permainan Eva yang liar dan menggairahkan. Setelah keduanya mendapatkan pelepasan, Simon pun langsung beranjak menuju ke kamar mandi.
Sementara Eva tersenyum penuh dengan kepuasan. Dia senang, karena semenjak bermain api dengan Simon, hidupnya kini tidak kekurangan lagi. Dia bisa bebas berbelanja barang-barang yang dia sukai.
"Eva, masih tahan satu ronde lagi?" tanya Simon.
"Masih bisa, Mas. Memangnya Mas masih mau lagi?" tanya Eva dengan tersenyum nakal.
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Lihat masih tegak begini!" ujar Simon dengan memperlihatkan pedang naga miliknya.
"Mas Simon perkasa sekali. Sudah dua kali juga masih tegak saja," puji Eva.
"Tentu saja! Momon sangat senang menemukan sarang yang kesat. Kamu pintar sekali membuat Momon ketagihan," puji Simon dengan mengerlingkan matanya nakal.
"Mas bisa saja."
Baru saja Simon akan kembali melakukan pemanasan, terdengar suara bunyi ponselnya yang nyaring. Dia pun mengurungkan niatnya dan langsung mengambil ponsel miliknya yang dia simpan di atas nakas dekat tempat tidur. Dilihatnya siapa yang sudah berani menelponnya malam-malam. Saat tahu kalau anak buahnya yang sudah berani mengganggu kesenangannya, dia pun di langsung menerima panggilan telepon itu.
"Hallo!"
"Hallo Tuan, Nyonya kabur!"
"Apa katamu? Kenapa kalian tidak becus menjaganya?" geram Simon. "Aku tidak peduli, bagaimanapun caranya kalian harus segera menemukannya kembali."
"Baik, Tuan. Kami akan mencarinya."
Sambungan telepon langsung terputus. Simon segera memakai kembali bajunya. Dia bergegas untuk pulang ke rumahnya.
"Mas, kita gak jadi main?" tanya Eva heran melihat Simon yang kembali berpakaian rapi.
"Aku harus pulang. Ada masalah di rumah," jawab Simon.
"Oh ... Padahal aku sudah bersiap. Tapi ya sudahlah, masih bisa lain waktu." Nampak jelas raut wajah kecewa Eva. Membuat Simon langsung mendekat ke arah Eva. Dia pun mencium bibir Eva sekilas sebelum akhirnya berbicara.
"Jangan sedih! Istirahatlah, besok aku ke sini lagi. menuntaskan yang tadi belum selesai.
"Iya, Mas. Aku pasti akan menunggumu."
Setelah cukup berbasa-basi dengan Eva, Simon segera pergi menuju ke rumahnya. Dia terus menyuruh supirnya untuk mempercepat laju kendaraannya. Sampai akhirnya, dia sampai ke rumah megahnya dalam waktu yang singkat.
"RALINE!!! Keluar!!! Jangan bermain petak umpat denganku?"
__ADS_1
...~Bersambung~...