
Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang bersinar terang. Burung-burung pun bernyanyi dengan riangnya. Nampak Thalia dan Sandi sedang berada di taman rumah sakit. Mereka sengaja berjemur di bawah matahari pagi sedang menghirup udara yang segar.
Thalia yang memang sengaja membawa makanan untuk dia sarapan, terlihat sedang asyik menyuapkan makanan ke mulutnya. Dengan sesekali menyuapi Sandi yang duduk di depannya.
"Sandal, kata dokter sudah boleh pulang. Hanya seminggu sekali harus terapi. Kita akan pulang ke mana? Papa kamu meminta agar kita pulang ke rumahnya," tanya Thalia.
"Kita ikutin kata papa dulu. Kalau di rumah, ada yang masakin, beres-beres. Jadi kamu tidak usah repot-repot," jawab Sandi.
"Baiklah Bosku!" Canda Thalia.
Keduanya asyik bercengkrama sampai seorang perawat mengingat untuk segera kembali ke kamar. Thalia pun segera mendorong kursi roda yang tengah Sandi duduki. Keduanya hanya tertawa kecil karena hampir setiap hari mereka diingatkan oleh perawat itu untuk tidak berlama-lama di taman.
"Maaf, Mbak cantik. Kami terlalu bosan harus di kamar terus," ucap Sandi.
Mendengar pujian dari Sandi, perawat itu langsung tersenyum manis. Pasiennya yang satu ini selalu saja bisa mengambil hati para tenaga medis wanita. Bahkan keberadaan Sandi menjadi perbincangan di kalangan dokter dan perawat.
"Mulai deh genit," cibir Thalia saat mereka sudah masuk ke dalam ruang perawatan Sandi.
"Kamu cemburu, Tali? Jujur saja deh kalau kamu cemburu!" desak Sandi.
"Cemburu sama kamu? No way!" sanggah Thalia.
"Tapi aku pengen dicemburui. Aku pengen kamu melarang aku jika aku deket-deket dengan cewek lain. Aku pengen, kamu ...."
"Aku bukan kamu yang selalu posesif sama aku," potong Thalia.
"Karena aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan cowok lain. Cukup aku yang selalu ada di sekitar kamu," tegas Sandi.
"Egois!"
"Tapi kamu suka, kan? Buktinya kamu betah sama aku terus," desak Sandi. Dia mengerlingkan matanya nakal. Kesehatannya yang semakin membaik, membuat playboy itu begitu senang menggoda Thalia. Dia sangat ingin mendengar ungkapan perasaan Thalia seperti yang selalu dia dengar di alam bawah sadarnya ketika sedang koma.
"Itu kan ...." Belum sempat Thalia melanjutkan ucapannya, terdengar suara pintu ruang perawatan Sandi ada yang membukanya.
Terlihat Jojo masuk dengan membawa satu kantong makanan di tangannya. Pemuda tampan itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan utuk bisa berbaikan dengan Sandi. Apalagi sekarang, Raline dan Simon akan berpisah. Meskipun awalnya Simon menolak, tetapi akhirnya dia menyetujui perpisahan itu.
"Apa aku mengganggu?" tanya Jojo saat melihat ekspresi Sandi dan Thalia.
"Tidak! Ayo idola, kita duduk di sofa!" ajak Thalia dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku membawa black forest untuk kalian. Tadi Mama membuat kue, tapi saat mau mengantarkan ke sini, kakinya keseleo." Jojo memberikan kantong makanan yang dia bawa pada Thalia.
"Terima kasih ya! Lalu Nyonya Raline keadaannya bagaimana?" tanya Thalia.
"Sudah diperiksa oleh dokter. Mungkin satu atau dua hari harus istirahat dulu di rumah. Sandi, mama minta maaf karena besok tidak bisa mengantar kamu pulang ke rumah," ucap Jojo panjang lebar.
"Iya, gak apa! Tapi kamu duduknya jangan dekat-dekat Tali. Kamu lupa kalau dia calon istriku?" ucap Sandi sengit.
"Kamu jangan cemburu sama aku! Kamu tahu sendiri kan, aku seperti apa?"
"Iya, iya aku ngerti."
"Sebentar! Jadi yang dibilang Sandal kalau Idola belok itu benar?" tanya Thalia dengan nada yang tidak percaya.
"Ya begitulah! Aku berharap kamu bisa mengembalikan aku, ternyata ...."
"Enak saja kamu mau jadikan Tali kelinci percobaan," potong Sandi.
"Aku mau kho jadi kelinci percobaan Idola," serobot Melati yang baru masuk ke ruangan Sandi.
"Asal nyambung aja, Mel." Thalia melihat ke Melati yang baru masuk ke dalam ruangan Sandi.
"Apa salahnya dicoba, Jo. Baiklah aku akan memberikan kamu kesempatan untuk jadi sahabat aku lagi, tapi nanti saat kamu sudah bisa menghamili seorang gadis," ucap Sandi enteng.
"Sandal, jangan hanya dihamili tapi harus dinikahi juga," protes Thalia. Enak saja disuruh menghamili anak orang tapi tidak ada niat baik untuk menikahinya.
"Iya benar, nikah dulu baru hamil. Tapi nanti gak ketahuan kalau dia sudah normal atau belum," sanggah Sandi
"Sudah! Kalian jangan repot-repot mengurus aku. Lebih baik kalian pikirkan rencana pernikahan kalian yang tertunda," tukas Jojo.
"Aku akan bikin pesta tertutup. Gak mau ngundang mantan lagi, nanti mereka malah mengacaukan pestaku." Sandi langsung teringat dengan Camelia. Dia menunggu waktu sampai usia kehamilan Camelia berusia empat bulan agat bisa melakukan test DNA.
"Camelia maksud kamu?" tanya Jojo.
"Kamu tahu?" tanya Sandi kaget.
"Apa kamu lupa? Camelia itu teman sekolah kita. Sejak kamu pindah sekolah, dia terus mencari tahu keberadaan kamu. Bahkan dia sering menanyakan kamu sama aku," beber Jojo.
"Kenapa aku gak ingat? Aku pertama kali ketemu dengan dia saat klub."
__ADS_1
"Dia memang sering pergi ke sana. Aku juga sering bertemu di sana dengan dia dan teman-teman artis yang lain."
"Idola, tahu gak siapa pacar Camelia?" tanya Thalia.
"Aku kurang tahu. Tapi dia seorang yang ambisius. Dia menghalalkan segala cara untuk mencapai popularitasnya," jawab Jojo. "Ah, sudahlah! Bagaimanapun dia temanku. Tidak seharusnya aku menjelekkan dia di depan kalian," lanjutnya.
"Aku perlu bukti kalau bayi yang ada di dalam kandungannya itu bukan anakku," ucap Sandi.
"Maksud kamu?" tanya Jojo heran.
"Camelia minta tanggung jawab Sandal atas kehamilannya," jawab Thalia lesu.
"Tapi aku gak pernah merasa pernah tidur dengan dia," timpal Sandi.
"Mungkin kamu lupa, pernah mantap-mantap dengan dia. Lagian, aku gak percaya kalau kamu tidak pernah menyentuh gadis itu. Rasanya mustahil kamu tidak tertarik dengan body goal kayak dia. Apalagi kamu pernah jadi pacarnya. Mana mungkin gaya pacaran kalian hanya pegang-pegangan tangan," celetuk Melati.
"Memang aku gak suka aneh-aneh. Ciuman saja aku hanya sama Tali kho," elak Sandi.
"Oh, yang waktu nelpon itu kan? Haish ... Berarti beneran waktu itu kalian ciuman di kamar Thalia," tuduh Melati.
"Memang iya, kasian sekali kamu Mel! Hanya bisa mendengarkan suaranya tanpa bisa merasakannya," ledek Sandi.
"Kalau sudah sembuh, pengen banget timpuk kamu pake bantal," Sewot Melati.
"Yang ... Sahabat kamu itu, nakal sama aku." Seperti anak kecil, Sandi langsung mengadu pada Thalia. Tanpa rasa malu, Sandi menggoyangkan tangan Thalia yang duduk di dekatnya. Jelas saja membuat gadis itu memutar bola matanya malas.
"Sandal, gelay ikh! Yang yang segala," cela Thalia.
"Kamu kan kesayangan aku, Yayang Tali." Sandi tersenyum manis pada Thalia.
"Astaga Sandi! Kenapa kecelakaan itu membuat kamu jadi lebay. Ngeri banget lihatnya," cibir Melati.
"Apaan sih, Mel? Ikut-ikutan aja, noh kamu sama Jojo aja. Gak usah nimbrungin kita terus."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1