
Di sinilah sekarang Sandi dan Thalia. Di sebuah ruangan dengan rak buku yang berjejer rapi. Dilengkapi dengan seperangkat meja kerja dan kursi sofa untuk membaca.
Thalia, yang duduk di ujung sofa hanya menundukkan kepalanya. Dia merasa kikuk berada di antara ayah dan anak itu. Apalagi Tuan Morgan begitu serius melihat ke arah arahnya dan Sandi.
"Sebenarnya Papa tidak ingin mengurus hal yang seperti ini. Hanya buang-buang waktu tapi tidak bisa menghasilkan uang. Tapi karena kamu anak Papa, jadinya mau tidak mau Papa turun tangan."
"Pah, apa tidak ada cara lain selain aku harus menikahinya?" tanya Sandi menatap dalam papanya.
"Sandi, bagi seorang gadis kehormatannya itu sangat berarti dan bagi seorang anak, memiliki orang tua yang lengkap itu kebahagiaan terbesar mereka. Kamu sudah merusak masa depan Camelia ditambah lagi meninggalkan benih di rahimnya. Sudah seharusnya kamu bertanggung jawab. Meskipun sebenarnya Papa juga kurang suka dengan gadis itu." Morgan menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Thalia, Papa harap kamu bisa bersabar sampai anak itu lahir. Hanya beberapa bulan saja. Papa yakin, kalau Camelia akan lebih mementingkan karirnya daripada merawat seorang anak. Sekarang kita hanya ikuti saja keinginan mereka seperti apa," ucap Morgan.
Tidak sepatah kata pun Thalia mengeluarkan suaranya. Dia lebih memilih diam dan mendengarkan apa yang mertuanya katakan. Hanya hatinya saja yang terus berbicara sendiri.
Apa aku bisa melewati semua itu? batin Thalia.
Tidak jauh berbeda dengan Thalia, Sandi pun tidak membantah ucapan papanya. Dia hanya mengeratkan genggaman tangannya pada Thalia. Dia sangat takut jika Thalia menyerah dan pergi jauh meninggalkannya.
"Papa, aku mohon cari cara agar pernikahan itu tidak terjadi. Aku tidak mau menikah dengannya," pinta Sandi.
"Kalau itu bukan bayimu, tentu pernikahan itu tidak akan terjadi. Tapi jika terbukti itu anak kamu, mau tidak mau kamu harus bertanggung jawab. Papa tidak mengajarkan kamu untuk jadi seorang pecundang."
Setelah cukup berbincang-bincang, Sandi pun pergi ke rumah sakit bersama Tuan Morgan dan Thalia. Mereka sudah ditunggu oleh Tuan Ronald dan Camelia yang keadaannya masih kusut.
Setelah Sandi diambil sampel darahnya, kini Camelia yang akan diambil cairan amnion atau juga villi chorialis oleh dokter kandungan. Kemudian, sesudah diambil, ahli DNA akan melakukan profil DNA dibandingkan dengan terduga ayah.
Setelah satu Minggu menunggu, kini hasilnya dapat mereka lihat. Namun, sepertinya Thalia harus menelan pil pahit karena ternyata Sandi positif sebagai ayah dari janin yang dikandung Camelia. Meskipun dunianya terasa runtuh mengetahui kenyataan yang ada, tetapi sebisa mungkin dia menerimanya dengan hati yang ikhlas.
Kini semuanya berkumpul di rumah Sandi untuk membicarakan rencana pernikahan Camelia dan Sandi. Mau tidak mau, Thalia pun ikut berkumpul saat Camelia dan orang tuanya datang ke rumah Sandi.
__ADS_1
"Thalia, bersiaplah untuk aku rebut kembali apa yang seharusnya jadi milikku. Babu tetaplah babu, tidak mungkin bisa bertahan lama jadi Nyonya," bisik Camelia saat dia akan duduk di dekat Sandi.
"Tuan Morgan, sebaiknya kita tidak menunda lagi pernikahan mereka karena semakin hari kandungan Camelia pasti kan semakin besar," ucap Tuan Ronald.
"Saya mengikuti saja bagaimana baiknya Tuan Ronald," ucap Tuan Morgan.
"Papa, biar aku yang menentukan konsep pernikahanku. Semuanya harus terlihat megah karena aku akan mengundang semua teman-teman artis aku," sela Camelia.
"Atur saja, kami hanya mengikuti mau konsep apa yang dipakai. Begitu kan Sandi?" tanya Tuan Morgan.
"Iya," jawab Sandi lesu.
"Sayang, apa kamu tidak ingin mengelus anak kita?" tanya Camelia dengan mengambil tangan Sandi lalu menempelkannya ke perut Camelia.
Terpaksa Sandi hanya mengikuti keinginan Camelia. Namun matanya tidak lepas dari Thalia. Dia bisa merasakan kesedihan yang Thalia rasakan saat ini. Karena hatinya merasa sakit melihat Thalia yang terus menunduk dengan tatapan kosong.
"Hush! Pergi sana, jangan rusak kebahagiaanku!" Camelia mengibaskan tangannya mengusir Thalia. Tentu saja hal itu membuat Sandi merasa geram.
"Jaga sikapmu Camelia! Aku tidak mengijinkan kamu untuk menyakiti Thalia. Jika sampai itu terjadi maka talak tiga dariku langsung jatuh," geram Sandi.
"Sandi, menikah aja belum masa sudah mendapatkan talak," protes Camelia.
"Lanjutkan saja buat rencana pernikahannya. Aku akan ke kamar dan kamu tidak usah mengikuti aku," tunjuk Sandi saat melihat Camelia akan bangun.
"Papa lihat! Selalu seperti itu sama aku. Padahal dulu dia selalu manis sama aku. Semua ini gara-gara babu itu," tuduh Camelia.
"Sabar, Ca. Mungkin Sandi butuh waktu. Nanti juga dia akan kembali mencintai kamu setelah anak kalian lahir," bujuk Tuan Ronald.
"Semoga saja, anak ini mirip seperti aku agar tidak ketahuan siapa ayah anak ini yang sebenarnya," batin Camelia.
__ADS_1
Sementara Sandi langsung menyusul Thalia yang tadi pergi ke belakang. Dilihatnya gadis itu sedang duduk sendiri di bangku taman. Sandi pun langsung menjalankan kursi rodanya untuk menghampiri Thalia.
"Tali, aku minta maaf! Karena kebodohan aku, sekarang kamu harus menanggung akibatnya. Sumpah Tali, aku gak ingat pernah melakukan hal itu dengan dia." Tangan Sandi terulur menghapus air mata yang berjatuhan dari pelupuk mata Thalia.
Gadis itu pergi karena dia sudah tidak kuasa menahan air matanya. Hatinya rapuh saat harus menerima kenyataan kalau suami yang baru beberapa hari menikah dengannya harus menikah dengan gadis lain karena kesalahan di masa lalu.
"Sandal aku ...." Thalia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Suaranya tertahan oleh tangisan yang tidak bisa dia tahan.
"Tali, lihat aku! Aku hanya menginginkan kamu, pernikahanku hanya untuk tanggung jawabku bukan karena aku mencintai Camelia," ungkap Sandi.
"Aku mengerti. Tapi hatiku tetap sakit, sesering apapun kamu mengatakan hal itu padaku. Hatiku sakit jika harus berbagi suami dengan gadis lain. Aku tidak mau, aku tidak mau memiliki madu." Lagi-lagi air mata Thalia berjatuhan. Dia benar-benar merasa tidak sanggup jika harus melihat Sandi bersanding dengan gadis lain.
Sandi langsung merengkuh tubuh Thalia dan memeluknya erat. Dia tidak akan membiarkan gadis itu menangis seorang diri. Matanya pun ikut mengembun merasakan kepedihan yang Thalia rasakan.
"Maafkan aku sudah membuat kamu terluka! Tapi ku mohon tetaplah di sampingku."
Keduanya larut dalam kesedihan sampai tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dengan tersenyum sinis. Camelia merasa puas karena bisa membuat Thalia dan Sandi terpuruk. Sakit hatinya karena diputuskan begitu saja kini terbalaskan.
Rasakan pembalasanku! Kalian telah mempermainkan perasaanku. Sekarang giliran aku yang mempermainkan perasaan kalian. Aku belum puas kalau belum melihat kalian berpisah, batin Camelia.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu update yuk kepoin juga karya Author keren yang satu ini
__ADS_1