
Hari-hari pun terus berlalu, pernikahan yang sudah direncanakan kini tinggal satu hari lagi. Roof top kafe yang akan dijadikan sebagai tempat acara pesta pernikahan Sandi dan Thalia sudah mulai dihias oleh pihak wedding organizer. Sehingga kafe yang beroperasi hanya di lantai bawah saja.
Sandi memang sengaja memilih kafe miliknya untuk tempat resepsi pernikahannya. Di samping tempatnya yang cukup luas, itu juga sebagai promosi kafe miliknya. Agar banyak pelanggan yang menyewa kafe untuk resepsi pesta pernikahan.
Keluarga papanya pun sudah berdatangan untuk menyaksikan pernikahannya dengan Thalia. Hal itu membuat Thalia merasa canggung berada di tengah-tengah keluarga besar Tuan Morgan. Namun, Sandi selalu meyakinkan kalau keluarga papanya tidak berpandangan kolot mengenai pernikahan.
Untuk memastikan persiapan acara pernikahannya, Sandi dan Thalia pun mengecek langsung ke lokasi. Namun, pada akhirnya mereka hanya berdiam diri di ruangan Sandi setelah memeriksa keseluruhan persiapan acara pernikahannya.
"Sandal, aku kho deg-degan ya," keluh Thalia.
"Aku juga deg-degan. Kamu tahu sendiri setiap hari aku menghapalnya," ucap Sandi dengan memainkan rambut Thalia.
"Kamu jangan salah ucap nama loh!" pesan Thalia.
"Nggaklah! Nih lihat, aku sudah buat contekan buat nanti akad nikah biar gak salah sebut nama." Sandi memperlihatkan sebuat sticky note yang dia tempel di telapak tangannya.
"Seriusan kamu mau bawa ini?" tanya Thalia kaget dengan apa yang Sandi lakukan.
"Buat jaga-jaga siapa tahu aku gugup," jawab Sandi enteng.
"Dasar! Sandal, kira-kira ada yang terlewat tidak orang yang akan kita undang?"
"Aku rasa nggak. Memangnya kenapa?"
"Mama kamu gimana?"
"Itu sudah jadi urusan Jojo. Karena dia yang menyembunyikan Mama."
"Aku harap, hubungan kamu semakin membaik dengan Nyonya Raline. Aku aja ingin banget Bunda kembali hidup. Kamu yang masih punya mama malah disia-siakan. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, kenapa kita tidak mau memaafkan jika orang itu mau memperbaiki kesalahannya?" ungkap Thalia.
"Tali, kamu kho jadi bawel. Mau aku cium nih," ucap Sandi dengan memonyongkan bibirnya.
Thalia langsung saja menahan bibir Sandi dengan telapak tangannya. "Nyosor terus kayak kang soang aja."
"Apaan soang?"
"Angsa dodol," jawab Thalia.
"Ulangi tadi bilang apa?" tanya Sandi dengan menatap tajam pada Thalia.
__ADS_1
"Angsa."
"Bukan itu tapi sesudahnya."
"Dodol."
Tanpa bicara lagi, Sandi langsung membungkam mulut Thalia dengan mulutnya. Dia menahan kedua tangan Thalia agar tidak menghalangi keinginannya. Dia terus menyesap bibir Thalia yang berwarna peach blossom. Hingga akhirnya lidah Sandi menerobos masuk ke dalam rongga mulut Thalia.
Keduanya sama-sama terbuai, menikmatinya sensasi yang membuat urat syaraf menegang. Sampai akhirnya terdengar suara pintu ada yang mengetuk, barulah Sandi melepaskan pagutannya.
"Sebentar!" teriak Sandi. Dia sibuk membersihkan saliva yang masih tersisa di bibirnya. Begitupun dengan Thalia. "Aku yang buka pintu. Kamu bereskan dulu bajunya," bisik Sandi.
Thalia pun menurut dengan apa yang Sandi katakan. Dia bergegas ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Sementara Sandi segera keluar untuk melihat siapa yang telah mengganggu kesenangannya. Nampak Gunawan berdiri di depan pintu dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Ada apa Gun?" tanya Sandi.
"Ada yang mencari Bos di bawah. Aku sudah bilang kafenya tutup tapi dia memaksa ingin bertemu dengan bos," jawab Gun.
"Oh, ya sudah. Nanti aku ke bawah. Nanti kalau ada yang mencari aku bilang saja aku gak kerja di sini lagi," pesan Sandi.
"Baik, Bos!" sahut Gunawan.
Sandi terus mengikuti langkah Gunawan untuk menemui seseorang yang mencarinya. Saat sudah terlihat orang yang di tuju, Gunawan pun menghentikan langkahnya. Dia langsung berbalik menghadap Sandi yang mengekor di belakang.
"Itu Bos, cewek yang duduk pinggir jendela yang mencari Bos," tunjuk Gunawan.
"Oh, dia. Makasih ya Gun. Kamu boleh kembali kerja. Biar aku ke sana sendiri," ucap Sandi.
"Oke, Bos!" Gunawan langsung beranjak pergi.
Sandi langsung menghela napas dalam. Saat melihat Camelia yang sedang menunggunya. Dia khawatir, Thalia akan salah paham padanya. Meskipun enggan, tak urung Sandi menemui gadis itu.
"Hai Ca! Ada apa mencari aku?" tanya Sandi.
Camelia tidak langsung menjawab. Dia tersenyum manis melihat Sandi sudah duduk di depannya. Dengan mata yang terus menelisik penampilan Sandi.
Baju yang dipakainya memang terlihat sederhana. Tapi aku tahu harganya berkali-kali lipat dari merek yang beredar di sini. Dia terlihat semakin dewasa, batin Camelia.
"Woy! Bengong lagi, gak usah terpesona gitu melihat aku. Aku sudah mau menikah," seru Sandi menyadarkan Camelia dari lamunannya.
__ADS_1
"Sorry, kamu memang terlihat semakin tampan." Camelia tersenyum manis pada Sandi.
"Ada apa mencari aku?" tanya Sandi lagi.
"Aku ingin melanjutkan kerjasama kita. Kamu tenang saja, aku bisa bersikap profesional," jawab Camelia.
"Tapi aku sudah tidak tertarik melanjutkannya. Lagipula, aku sudah menemukan pembeli. Kafe itu akan aku lepas."
"Sayang sekali, padahal prospeknya bagus. Makanya aku ingin melanjutkan kerjasama kita," sesal Camelia.
"Aku sudah tidak tertarik," ucap Sandi cuek.
"Sandi, selain mau mengajak kerjasama kembali, sebenarnya aku ke sini juga ingin kamu bertanggung jawab. Aku sudah hamil dua bulan," ucap Camelia enteng.
"Jangan gila kamu! Kapan aku menyentuh kamu?" sentak Sandi.
"Kamu jangan jadi pecundang! Mau berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab. Dengar Sandi! Bayi ini tidak berdosa," seru Camelia.
Kapan aku melakukannya? Aku gak pernah merasa pernah menyentuhnya sejauh itu. Kalau menciumnya iya, waktu aku stress karena Tali dijodohkan, batin Sandi.
"Kapan aku melakukannya? Aku merasa tidak pernah melakukan hal lebih pada kamu," tanya Sandi.
"Mungkin kamu lupa, waktu malam itu kamu mabuk dan berakhir di tempat tidur aku. Tapi aku tidak bisa melupakannya. Kenapa kamu jadi pecundang? Kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan kamu sendiri." Camelia menatap dalam Sandi.
Thalia yang tanpa sengaja mendengar ucapan terakhir Camelia, dia langsung menundukkan kepala. Dunianya terasa runtuh saat mendengar calon suaminya memiliki janin di rahim wanita lain. Dia pun akhirnya memilih duduk di belakang kursi Sandi. Thalia penasaran dengan apa yang akan mereka katakan.
Ah sial! Aku memang pernah terbangun dari tempat tidur Camelia. Tapi aku gak ingat pernah melakukan yang enak-enak dengan dia. Apa benar aku menghamilinya? batin Sandi
"Sandi, bagaimana? Kapan kamu akan menikahi aku?" tanya Camelia.
"Aku tidak bisa, Ca. Aku akan menikah besok," jawab Sandi lesu.
"Oh begitu? Lalu bagaimana dengan aku dan anak kamu. Apa kamu tidak mau bertanggung jawab pada dengan apa yang terjadi," sentak Camelia.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate dan favorite....
...Terima kasih🙏🏻...
__ADS_1