
Lain di ibu kota, lain pula di sebuah kapal pesiar tujuan benua hijau. Thalia yang baru tersadar dari tidurnya, dia langsung celingukan saat mendapati dirinya ada di sebuah kamar mewah dengan jendela yang mengarah ke lautan.
"Kenapa kamar gantinya berubah? Bukankah kamar yang di restoran itu, tidak semewah ini? Melati juga kenapa tidak ada?" gumam Thalia.
Dia langsung bangun, berjalan berkeliling melihat seisi kamar yang ditempatinya. Namun, saat Thalia akan membuka pintu kamar, bersamaan dengan Sandi yang masuk ke dalam kamar.
"Sudah bangun?" tanya Sandi. "Mau makan?" tawarnya.
"Sandal, kita ada di mana? Melati juga kenapa tidak ada?" tanya Thalia dengan mengerutkan keningnya.
"Sayang, tidak ada mereka di sini. Hanya ada kita," jawab Sandi.
"Maksud kamu? Aku kan mau tunangan."
"Kamu udah tunangan, lihat jari manis kamu, sudah ada cincin tunangan dariku."
"Kamu jangan becanda deh! Mana mungkin aku tunangan sama kamu. Aku maunya tunangan sama Jojo," sanggah Thalia. Dia tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
"Dengar Tali! Kamu itu hanya milik aku, tidak ada seorang lelaki pun yang boleh memiliki kamu. Hanya aku yang boleh memiliki kamu!" tegas Sandi.
"Kamu egois Sandal! Kamu bisa pacaran dengan gadis manapun, tetapi saat aku dekat seorang lelaki, kamu menghalanginya. Memangnya kamu pikir aku ini apa?" Tidak seperti yang Sandi pikirkan, Thalia marah karena Sandi mengacaukan pertunangannya.
"Kamu, calon istriku dan ibu untuk anak-anakku!" tunjuk Sandi pada kening Thalia. Dia mulai terpancing emosi saat Thalia menolak bertunangan dengannya.
"Apa? Calon istri kamu? Canda kamu!" Thalia tersenyum miring mendengar apa yang yang dikatakan oleh sahabatnya. "Lalu mau kamu apakan pacar-pacar kamu yang cantik itu. Aku tidak suka berbagi pasangan dengan gadis manapun," lanjutnya.
"Apa kamu perlu bukti dengan apa yang aku katakan? Oke aku akan buktikan!" Sandi berjalan semakin merapatkan tubuhnya dengan Thalia. Membuat gadis itu berjalan mundur, semakin mundur. Hingga akhirnya, dia menabrak tempat tidur dan terjatuh.
__ADS_1
Sandi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung mengungkung sahabatnya dan mengunci kedua tangan Thalia di atas kepala gadis itu. Tentu saja hal itu membuat Thalia tidak bisa berkutik lagi.
Jantung Thalia langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Tatapan mata Sandi yang sulit dia artikan, membuat hatinya ketar ketir. Dia takut jika Sandi akan berbuat nekat kepadanya.
"Sandal ...," lirih Thalia.
"Lihat mata aku, katakan kalau kamu tidak pernah mencintai aku!" Sandi menatap lekat wajah Thalia menembus iris mata hitam gadis yang ada di bawah kungkungan-nya.
"Aku ... aku ... apa harus aku mengatakannya, kalau semuanya tidak ada gunanya?" Thalia memalingkan wajahnya ke samping.
"Kata siapa tidak ada gunanya? Apa kamu tahu kenapa aku suka bermain-main dengan banyak gadis? Itu karena kamu! Kamu yang sudah membuat aku jadi playboy. Kamu juga yang harus mengakhiri semua kegilaan aku."
Sandi langsung menyerang bibir ranum Thalia. Dia kesal karena merasa perasaannya tidak dihargai. Terus saja kata-kata Thalia waktu itu terngiang-ngiang di telinganya. Sampai tanpa sadar, dia sudah membuka sebagian baju gadis itu bagian atasnya.
Dia terus mencumbu, mengeksplor seisi rongga mulut Thalia. Tangannya mulai menyentuh bagian tubuh yang membuat gadis itu mengejang. Di antara rasa nikmat dan akal sehatnya, Thalia teringat dengan ucapan ayahnya agar dia bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang gadis.
Thalia menggigit lidah Sandi yang masih bermain-main di mulutnya, saat tangan pemuda itu mulai menyentuh barang berharganya. Seketika Sandi pun melepaskan pagutannya.
"Maaf, Tali! Aku-aku-aku kelepasan. Tapi apapun yang aku lakukan hari ini, aku pasti tanggung jawab. Aku hanya minta sama kamu, jangan menolak aku lagi! Aku takut tidak bisa mengendalikan diri saat mendengar penolakan darimu," sesal Sandi.
Dia membersihkan sisa saliva yang masih menempel di bibir Thalia. Setelah selesai, tangannya mengelus pipi gadis itu dengan lembut. Mendapat perlakuan seperti itu dari Sandi, Thalia pun menatap manik pekat sahabatnya.
"Jangan lakukan lagi! Aku takut jika kamu seperti tadi," pinta Thalia.
"Iya, makan yuk! Kamu pasti lapar. Bukankah kamu ingin sekali berlibur dengan kapal pesiar? Kita lihat lumba-lumba yang berenang bebas di lautan," rayu Sandi.
...***...
__ADS_1
Bukan hal yang sulit bagi Sandi, meluluhkan kemarahan sahabatnya. Meskipun mereka sering berdebat hebat, tapi tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk akur kembali. Seperti saat ini, Sandi dan Thalia sedang bermain di dek kapal melihat lumba-lumba yang berenang di permukaan.
"Sandal, kita sebenarnya sedang ada di mana? Apa laut jawa airnya sebening ini?" tanya Thalia dengan tidak mengalihkan pandangannya.
"Kita sedang berada di Samudera Pasifik. mungkin beberapa hari lagi baru sampai ke benua hijau," jawab Sandi enteng.
"Sandal, kenapa kamu membawa aku ke sini. Kasian Ayah pasti kebingungan mencari aku."
"Ayah sudah tahu kalau kamu sama aku. Laki-laki gemulai juga tahu kalau aku yang membawa kamu. Jadi kamu tenang saja, lebih baik kita nikmati acara bulan madu kita," Sandi menaikturunkan alisnya yang lebat.
"Bulan madu katamu? Nikah aja belum?" Thalia mengerucutkan bibirnya dengan mata yang mendelik Sandi.
"Gak apa Tali, kita bulan madu dulu baru nikah kemudian kalau sudah tiba di Jakarta. Kalau tidak, kita nikah virtual aja. Kita nikah di tengah samudera nanti tinggal video call ayah kamu buat jadi wali. Akh benar! Aku akan siapkan acaranya besok," ucap Sandi dengan wajah yang berbinar.
"Istighfar, Sandal! Otak kamu itu sudah benar-benar konslet. Pasti bawa aku ke sini juga tanpa sepengetahuan ayah," tebak Thalia.
"Memang iya. Buat apa aku dikarunia otak yang cerdas kalau tidak bisa bawa kamu kabur dari laki-laki gemulai itu. Bukan Sandi namanya kalau harus kalah dari dia," ucap Sandi dengan membusungkan dada. Dia benar-benar senang karena merasa jadi pemenangnya.
"Bisa saja kamu culik aku sekarang, tapi pas kembali ke sana aku nikah sama dia."
"Ulangi sekali lagi!" Mata Sandi langsung menggelap mendengar apa yang Thalia katakan.
Melihat perubahan sikap Sandi yang mendadak, Thalia pun menjadi was-was sendiri. "Udah dong! Gitu aja marah, senyum dong Sandal senyum!"
Tangan Thalia langsung menjawil kedua pipi Sandi memaksa pemuda itu agar tersenyum padanya. Meskipun sebenarnya dia takut, Sandi akan melakukan hal yang di luar dugaannya, tetapi dia berusaha menepis rasa takutnya. Karena dia yakin, Sandi tidak mungkin tega menyakitinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate dan favorite....
...Terima kasih....