
Saat Eva terus saja memarahi Thalia, Sandi datang menghampiri keduanya. Tadi dia mendengar bisik-bisik dari pelayan kafe yang lain, kalau Thalia sedang dimarahi oleh pengunjung.
"Siang Tante Eva!" sapa Sandi.
"Kamu! Kalian berdua itu sama saja, sama-sama bodoh. Kuliah tinggi-tinggi malah jadi pelayan kafe," hina Eva.
"Bukannya cari rejeki yang penting halal, Tan? Memangnya kenapa Tante marah-marah sama Tali. Bukankah kita bisa bicara baik-baik. Sambil ngopi mungkin atau menikmati hidangan spesial kafe ini," tawar Sandi. Sebisa mungkin dia menahan kekesalannya pada ibu tiri Thalia.
"Memang kamu mampu mentraktir makanan di sini?" tanya Eva sangsi.
"Gampang itu, Tan. Bisa bon dulu. Gak apa tiap bulan gajiku dipotong, yang penting bisa traktir Tante."
"Apa katamu tadi, bisa bon dulu?"
"Iya, Tan!"
"Thalia cepat bon dulu sama bos kamu! Pokoknya ibu ingin uang itu ada," suruh Eva yang berubah mulai mencair.
Thalia langsung melotot pada Sandi. Dia kesal kenapa sahabatnya itu memberikan saran yang seperti itu. Sama saja dengan memberikan jalan pada ibu tirinya untuk memeras dia.
"Tapi, Bu. Aku malu mengatakannya," ucap Thalia.
"Cepat Sandi temani Thalia untuk bertemu dengan bos kalian. Tante tunggu di sini. Jangan lupa traktiran kamu juga," ucap Eva dengan wajah yang senang.
"Berapa yang Tante butuhkan?" tanya Sandi.
"Hanya dua juta saja. Masa uang segitu gak bisa kasih pinjam."
Seandainya ibu tahu, kalau bos-nya itu laki-laki yang ada di depannya. Akan bagaimana reaksinya?
"Baik, Tan. Tante tunggu di sini saja dulu, nanti aku antar Tali ketemu bos kami." Sandi langsung menarik tangan Thalia agar segera mengikuti ke ruangannya. Sementara Eva langsung memesan makanan dan minuman yang dia inginkan.
Setibanya di ruangan Sandi, Thalia langsung memukuli sahabatnya. Dia merasa sangat kesal dengan ide yang Sandi cetuskan. "Kamu gila, Sandal! Kamu sama saja dengan memberi celah pada ibu untuk terus menghamburkan uang. Kamu tahu, ayahku sampai pusing dengan kebiasaan ibu yang terus menerus belanja online. Padahal barang yang dibeli tidak begitu bermanfaat."
Grep
__ADS_1
Sandi langsung memegang tangan Thalia agar gadis itu berhenti memukulinya. "Aku tidak keberatan mengeluarkan uang segitu, asalkan ibumu itu tidak terus menerus menghina kamu. Kamu tahu Tali, aku tidak rela ada orang yang menyakiti kamu. Baik fisik maupun hati kamu."
"Tapi nanti Ibu pasti akan kembali meminta uang lagi," ucap Thalia dengan menatap dalam mata sahabatnya.
Jarak yang begitu dekat, membuat Sandi dapat mencium aroma napas Thalia. Tanpa sadar, dia semakin menundukkan kepalanya. Namun, saat tinggal lima senti lagi, Thalia dengan cepat mendorong dada sahabatnya.
"Jangan curi kesempatan!" seru Thalia.
"Tali, bagaimana kalau kamu jadi pacarku saja?"
"Mau kamu jadikan pacar yang ke berapa? Seratus, dua ratus, aku gak akan sanggup berbagi dengan gadis lain. Sudahlah, bercandanya jangan keterlaluan."
Thalia langsung berlalu pergi meninggalkan Sandi yang masih mematung di tempatnya. Dia tidak ingin pemuda itu menyadari tentang perasaannya. Meskipun memang benar di mencintai Sandi, tapi dia tidak siap jika dijadikan koleksi laki-laki itu.
Sementara Sandi hanya menatap punggung ringkih sahabatnya yang menjauh. Dia menghela napas dalam untuk menetralkan perasaannya. Setelah dia mampu menetralkan degup jantungnya, dia pun segera mengambil uang di dalam laci.
Sandi tersenyum samar dengan melihat uang yang ada di genggaman tangannya. Dia pun segera menghampiri Eva. Namun, langkah kakinya terhenti saat seorang anak buahnya memanggilnya.
"Bos, Bos Sandi! Tunggu sebentar!"
"Itu, bos. Ibu tadi memesan banyak makanan bahkan sebagian minta dibungkus," ucap Agus, salah satu pelayan di kafenya.
"Turuti saja dulu. Tapi lain kali, kalau dia datang ke sini lagi, bilang saja semua tempat sudah di booking. Jangan biarkan dia masuk ke sini dan bertemu dengan Thalia!" titah Sandi.
"Baik Bos!"
Bos Sandi perhatian banget dengan Thalia. Bahkan dalam kontrak kerja dikatakan tidak boleh mendekati Thalia. Apalagi berniat untuk memacarinya. Apa jangan-jangan dia sebenarnya menyukai sahabatnya sendiri?
Agus langsung beranjak pergi dengan tanda tanya besar di hatinya. Dia semakin penasaran dengan hubungan dua orang itu yang sebenarnya. Namun, Agus tidak memiliki keberanian untuk bertanya langsung pada Bosnya.
Sementara Sandi menghampiri Thalia dan ibu tirinya. Seperti tidak makan satu Minggu, Eva terlihat bersemangat sekali memakan hidangan yang dia pesan. Sampai melupakan image elegan yang dia bangun jika sedang berada di lingkungan rumahnya.
"Tante ini uangnya. Bos bilang, dia mau meminjamkan uang asalkan Thalia bekerja di rumahnya sepulang kerja di kafe. Nanti juga akan disediakan kamar sendiri untuk dia," ucap Sandi.
Thalia langsung melotot mendengar apa yang Sandi katakan. Bisa-bisanya sahabatnya itu mengarang cerita sampai segitu. Saat Thalia akan berbicara, Eva sudah memotongnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Iya gak apa. Tapi berapa lama? Mungkin pas satu bulan ya! Gaji pembantu memang dua juta satu bulan."
"Iya boleh, satu bulan juga gak apa." Sandi tersenyum senang saat Eva menyetujui. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia memiliki ide seperti itu.
Sial banget! Kalau bilang aku punya tabungan, pasti ibu akan memintanya semua. Kalau aku menyetujui, berarti aku harus tinggal di apartemen. Sandi sialan! Kenapa punya ide seperti itu?
"Kalau begitu, Tante pulang. Thalia, bekerja yang rajin. Jangan malas-malasan!" pesan Eva sebelum dia pergi.
"Iya, Bu!" sahut Thalia lemas.
Sandi tersenyum tipis melihat sahabatnya seperti itu. Akhirnya dia menemukan cara agar bisa membuat Thalia bersamanya siang dan malam. Sangat berbeda dengan Thalia yang langsung menekuk wajahnya. Dia sangat kesal karena kedatangan Sandi bukannya menyelesaikan masalah tetapi malah membuat masalah yang baru.
"Sudah jangan marah! Aku hanya ingin, setiap pagi kamu menyiapkan sarapan untuk aku. Lagipula, kita sudah biasa hidup bersama di apartemen aku."
"Serah kamu, aku lagi kesal!" Thalia langsung berlalu pergi meninggalkan Sandi yang masih duduk di kursinya. Gadis itu segera menuju ke dapur untuk mengambil pesanan para pelanggan.
"Mas, apa ada yang perlu di antar?" tanya Thalia.
"Oh sebentar! Kamu tolong antar pesanan meja nomor 101. Ini list pesanannya," tunjuk Damar, koki andalan kafe Sandi.
"Oke, Mas. Aku siap meluncur," ucap Thalia seraya mencocokkan list pesanannya..
Setelah semuanya di rasa siap, Thalia pun segera menuju ke meja nomor 101. Dia begitu sopan menyapa pelanggan yang duduk di sana. Namun, saat dia melihat siapa yang sedang duduk di sana, Thalia menelan ludahnya kasar.
"Loh, Thalia! Kamu kerja di sini?" tanya pelanggan itu.
"Iya, silakan dinikmati!"
Sial banget hari ini, kenapa juga harus ketemu sama dia.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1